Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Dave Memiliki Kekasih



...✨✨✨...


...🍁Aku mencintaimu, dan itu membunuhku setiap hari saat melihat bahwa kamu tidak merasakan hal yang sama.🍁...


...~Anastasia Laurencia Lemos ~...


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


"Kita mau kemana, Dave?" Tanya Ana setelah memasuki mobil.


"Dave?" David mengulangi perkataan gadis di sampingnya yang salah menyebut Dave.


"Eum ... maksudku Davio." Kata Ana sembari tersenyum canggung. Ia merutuki dirinya sendiri karena salah menyebut nama.


"It's oke, tidak masalah. Pasti karena terlalu sering bersama si kanebo itu kamu jadi salah menyebut." Davio tersenyum lembut, memaklumi kesalahannya dalam menyebutkan nama.


"Kita sarapan di resto terdekat, dulu." Imbuhnya. Ana mengangguk sebagai jawaban.


Tak terasa mobil yang dikendarai Davio sampai di perkirakan resto xxx. Davio turun lebih dulu kemudian membukakan pintu Ana.


Terlihat seperti sepasang kekasih, apalagi saat melihat wajah Davio yang selalu menampilkan senyum, terlihat sangat bahagia.


"Terimakasih." Kata Ana setelah Ana keluar dari mobil.


Keduanya berjalan beriringan menuju restoran.


Ting


Bunyi lonceng saat mereka memasuki rumah makan itu. Saat Ana mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja bola matanya bertemu dengan manik mata seseorang yang sangat dikenalinya.


"Dave?" Dahi Ana berkerut dalam. Bukan karena Dave ada di tempat ini, melainkan orang yang ada di samping Dave yang membuatnya heran.


Selama ini Ana tak pernah melihat Dave dekat dengan siapapun. Lalu sekarang tiba-tiba ia melihat Dave sedang makan ditemani wanita dewasa, wajahnya sangat cantik. Membuat dada Ana terasa sesak, seakan-akan tak ada oksigen yang bisa dihirupnya.


Tak ingin banyak berspekulasi, Ana menormalkan kembali debaran jantungnya yang membuat dadanya terasa sesak. Secara perlahan, ia mengatur pernapasannya lalu menoleh kearah saudara Dave.


"Vio, bukankah itu Dave?" Tunjuk Ana pada meja yang diketahui ada Dave disana.


Arah pandang Davio menuruti telunjuk jari Ana yang sedang menunjuk pada objek yang dituju.


"Dave?!" Panggil Davio dengan nada sedikit terkejut.


Sedangkan orang yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara. Dave pun sepertinya tak kalah terkejutnya dengan mereka, namun langsung bisa mengendalikan ekspresi wajahnya menjadi datar kembali hingga tak ada orang seorang pun yang mengetahui kalau Dave terkejut.


"Lo benaran ada disini?" Tanya Davio saat menyadari bahwa laki-laki yang dia lihat memang saudara kembarnya.


Sedangkan Ana masih mematung di tempat, menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya saat ini.


"Ayo, kita kesana." Ajak Davio. Mau tak mau Ana mengikuti langkah Davio yang sedang berjalan kearah dua sejoli berbeda gender itu.


"Kalian kenapa ada disini?" Tanya Davio menatap satu-persatu wajah saudara kembar dan seorang wanita didekatnya.


"Bukan urusan mu!" Ketus Dave menatap datar Davio.


"Halo, Sonya. Apa kabar? Lama banget kita nggak ketemu." Sapa Davio setelah menarik kursi kemudian duduk disebelah wanita yang disapanya. Sedangkan Ana duduk diantara Dave dan Davio.


"Alhamdulillah baik. Apakabar Vio? Udah lama nggak ketemu tapi muka kamu masih sama seperti dulu." Gurau wanita yang bernama Sonya.


"As you see." Jawab Davio mengedikkan bahu.


Sedangkan Sonya tersenyum menanggapinya.


"Perkenalkan ini Ana, anak teman bokap." Kata Davio sembari menarik tangan Ana untuk mendekat padanya.


Tempat duduk Dave yang jauh dari Davio dan Ana, hanya menatap datar saat melihat interaksi mereka.


"Hai, Ana. Kenalin, aku Sonya." Sapanya. Ia menyodorkan tangan kanan sembari menampilkan senyum menawan.


"Ana." Jawab Ana tersenyum canggung sembari membalas jabatan tangan Sonya.


"By the way Lo beneran udah jadi dokter hebat, ya?" Tanya Davio lagi.


Diantara keempat orang yang ada disana, hanya Davio dan wanita itu yang terlihat sangat asyik bercerita.


Sedangkan Ana dan Dave memilih diam menyimak pembicaraan keduanya.


"Yup, sebagian yang kamu katakan itu benar. Tapi sebagian lagi, aku kira itu terlalu melebih-lebihkan kalau kau berkata aku dokter hebat." Jawabnya sembari melanjutkan makanan.


Davio hanya menggangguk sembari tersenyum. Kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan.


Ana dan Davio memesan sarapan dengan menu yang sama.


Sembari menunggu makanan datang, Davio sibuk bertanya-tanya tentang kehidupan singa selama ini. Mereka terlihat sangat bahagia dengan obrolan nya.


Sesekali Davio mengajak Ana berbicara, namun karena mood gadis cerewet itu sedang tidak baik-baik saja. Ia hanya menanggapi dengan senyuman.


Sedangkan Dave, si manusia kaku itu tetap berwajah datar dan dingin seperti biasa. Tak sekalipun menyahuti obrolan mereka yang terlihat sangat asyik.


Tak beberapa lama makanan itu datang. Mereka kembali menikmati makanan dengan tenang tanpa obrolan apapun.


"Dave." Sapa Ana setelah mereka menyelesaikan makanan.


Sejak tadi sebenarnya mulut Ana sudah sangat gatal ingin menyapa manusia kaku itu, namun ia tahan karena ingin mencari waktu yang tepat.


"Dave, sedang apa kau pagi-pagi disini." Tanya Ana penuh penasaran. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang dalam saat mendapati Dave sedang bersama seorang wanita.


"Menurutmu?"


Bukannya menjawab pertanyaan gadisnya yang cerewet, tetapi justru balik bertanya.


"Issh ... Aku sedang bertanya Dave ..." Ana sangat kesal saat yang ditanya malah justru berbalik bertanya.


"Memangnya apa tujuan orang datang ke restoran?" Tanya Dave dengan wajah dingin.


"Makan." Jawab gadis itu cepat.


"Itu tau!" Sahut Dave masih dengan wajah datar dan dingin. Kemudian fokus pada ponsel yang digenggamnya.


"Issh .. selalu saja begitu." Gerutu Ana sembari memanyunkan bibir.


Ingin sekali Ana bertanya siapa wanita itu? Apa hubungannya dengan Dave? Tapi tenggorokannya sangat sulit untuk mengatakannya. Terlebih didepannya masih ada Davio dan wanita bernama Sonya.


Tiba-tiba terbersit ide di benaknya. Ia mengambil orange juice miliknya yang baru diminum sedikit.


Dengan sengaja ia menumpahkan orange juice ke jas mahal berwarna hitam yang sedang dipakai Dave.


"Sorry, Dave! Aku nggak sengaja." Kata Ana sembari memasang wajah bersalahnya. Padahal dalam hati ia tersenyum.


Sedangkan Dave hanya menatap dingin Ana kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Aku permisi ke toilet." Pamit Dave.


Setelah Dave berlalu dari sana, Ana pamit pada orang yang tak lain adalah Davio dan Sonya untuk mencuci tangan.


Dengan langkah tergesa-gesa, Ana mengejar Dave menuju toilet Pria.


Meski tergesa-gesa tapi Ana masih ingat untuk tidak memasuki toilet pria. Jadi ia hanya menunggu di depan toilet.


Saat melihat Dave keluar dari toilet, dengan segera Ana mencegah langkah Dave yang akan kembali ke meja.


"Dave!" Ana menarik jas bagian belakang yang dikenakan Dave.


Dave memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat hingga bertatapan persis dengan gadis cerewet yang selalu membuatnya pusing.


"Kenapa kau disini?" Tanyanya dingin. Terlihat sangat tidak suka saat melihat Ana mengikutinya.


"Jelaskan padaku, siapa wanita itu?" Tanya Ana to the poin. Manik matanya menatap dalam Dave dengan tatapan sendu.


"Bukan urusanmu!" Sahut Dave ketus.


"Jawab aku, Dave! Aku ingin meminta penjelasan dari mu." Tatapannya seakan memohon untuk mengatakan yang sejujurnya.


Dave menghela nafas panjang. "Dia Sonya, calon istriku!" Jawab Dave.


Deg.


Seakan-akan dunianya hancur dalam sekejap, sekujur tubuhnya nya mendadak kaku, mulutnya kelu, pandangannya kabur, lututnya lemas seakan tak kuat menopang tubuh.


"Katakan itu tidak benarkan? Katakan kalau kau bercanda kan, Dave. Hahaha" Tanyanya lagi sembari tertawa namun air yang menggenang di pelupuk matanya hampir tumpah.


"Dave, katakan dengan jujur! Jangan membohongi ku." Ana menarik baju yang dikenakan Dave agar laki-laki itu menjawab pertanyaannya.


Dave terlihat memejamkan mata sejenak kemudian kembali menatap Ana.


"Aku berkata jujur, dia adalah kekasihku." Jawab Dave.


"Tidak mungkin." Ana menggeleng-gelengkan kepala sembari mundur beberapa langkah.


Ia tertawa miris mendengar jawaban Dave.


"Tidak mungkin!" Ana kembali mendekat kemudian memukul-mukul dada bidang Dave.


"Jangan bercanda! ini tidak lucu, Dave. Hatiku sangat sakit." Air matanya tumpah seketika.


Dave menangkap kedua tangan Ana untuk menghentikan pukulannya.


"Aku tidak bercanda!" Katanya sembari memalingkan wajah.


"Tapi kenapa, Dave?" Ana terisak dalam dekapan Dave saat pria itu menarik tubuh Ana ke dalam pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu. Tapi kenapa kau lebih memilihnya? Hiks ..."


"Tapi aku tidak mencintaimu." Sahut Dave datar.


Seperti sebuah pisau yang menusuk di setiap sel-sel tubuhnya, seperti itulah pedihnya hati Ana saat mendengarkan kalimat itu dari mulut Dave.


Ana tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya yang sangat lemah. Badannya sudah disandarkan pada dada bidang Dave.


Namun, dengan segenap kekuatan yang tersisa, Ana kembali menegakkan badannya sembari mengusap kasar air mata yang membasahi wajah.


"Baiklah, jika memang itu pilihanmu. Aku harap kau selalu bahagia. Aku akan berusaha untuk mengubur sedalam-dalamnya rasa cintaku padamu, Dave."


Dave mematung ditempat, sedangkan Ana berlalu dari sana dengan hati yang terluka.


"Aku tidak pernah memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak. Maafkan aku jika tidak bisa melupakanmu. Aku akan pergi menjauh darimu membawa rasa cintaku padamu." Batin Ana dalam hati sembari terus melangkah dengan pandangan kosong.


Kamu kuat Anaaaa😭😭😭


...πŸ’™πŸ’™πŸ’™...


...TBC...


See you next chapter πŸ‘‹πŸ™‚