Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Bertemu Pria Aneh



Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Ana mulai membuka mata. Dia terlihat bingung menatap ke sana kemari. Setelah beberapa saat kesadaran nya mulai pulih, dia mulai mengingat-ingat kepingan memori yang sedikit demi sedikit terkumpul di dalam otak nya.


Ya, dia mengingat saat ini sedang berada di negeri orang. Tidak lagi berada di dekat mommy nya yang selalu memanjakan nya. Tak lagi didekat Daddy nya yang terus-menerus melimpahkan kasih sayang pada nya.


Hati nya kembali sesak saat mengingat orang yang sudah berani mengambil hati nya kini bahagia dengan wanita lain.


"No, Ana! Kamu harus bangkit, jangan sampai karena hal ini kamu kehilangan masa depan mu! Kamu harus sukses untuk membanggakan Daddy dan mommy." Gumam Ana dalam hati menyemangati diri sendiri.


Dia yakin bahwa dirinya bisa sukses dan bisa bahagia. Meski tak bersama orang yang dia cintai.


Ana mulai bangkit dari tempat duduk nya, saat melihat ke depan, ternyata sang sopir masih tertidur pulas di jok kemudi. Ana jadi tak tega untuk membangunkan nya.


Dai memilih untuk tak membangunkan laki-laki itu karena merasa kasihan. Ana lebih memilih untuk membawa koper besar nya sendiri untuk masuk ke dalam Apartemen nya.


Dengan langkah sedikit kesusahan, dia tetap menyeret koper nya ke dalam Apartemen. Setelah sampai di lobby, dia berhenti sejenak untuk meminta akses pembuka apartemen karena saat ini belum menggunakan password karena aparateman itu memang baru di pesankan oleh Daddy nya melalui orang-orang suruhan nya.


Tak sulit untuk mendapatkan kartu akses apartemen karena saat di depan petugas lobby, orang itu langsung mengenal wajah Ana karena memang sebelumnya orang yang membeli apartemen itu sudah memberi tahu wajah pemilik yang akan menempati kediaman itu dengan menunjukkan foto nya.


Setelah sedikit berbincang-bincang dengan petugas di lobby, Ana kembali melanjutkan langkah menuju apartemen nya yang ternyata ada di lantai 8.


Baru saja melangkahkan kaki beberapa kali sembari menyeret koper besar dan tas nya, tiba-tiba saja langkah nya dihentikan oleh orang yang menahan koper yang sedang diseret nya.


Secara spontan Ana menoleh ke belakang untuk melihat siapa dalang yang mencoba menghentikan langkah nya.


Saat berbalik, ternyata seorang laki-laki muda berperawakan tinggi serta tubuh proporsional, dengan kulit nya yang putih serta hidung mancung dan dengan alis tebal serta bibir berwarna merah tak terlalu tebal serta tak terlalu tipis namun terlihat sensual sedang menatap lekat kearah nya.


Mata nya tak kelihatan karena tertutup oleh kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung laki-laki itu.


"Can I help you?" Tanya laki-laki itu sembari membuka kaca mata nya dengan gaya cool.


"No, thanks." Tolak Ana halus.


Andai perempuan lain yang mendapatkan tawaran dari pria setampan itu pasti sudah sangat senang, bahkan bisa jadi bersorak gembira sembari berguling-guling di tanah karena bisa di sapa bahkan di tawari bantuan oleh laki-laki itu.


Sayang nya yang ditawari bantuan adalah perempuan yang sedang patah hati dan mencoba menutup hati nya untuk pria mana pun. Jadi mana mungkin Ana tertarik oleh laki-laki itu?


Untuk percakapan selanjutnya tetap menggunakan bahasa Inggris, tapi berhubung author nggak faham bahasa Inggris, jadi dibuat dalam bentuk percakapan bahasa Indonesia. Tetapi anggap saja sedang berdialog menggunakan bahasa Inggris.😁


"Yakin? Tidak menerima bantuan ku? Padahal aku sedang berbaik hati menawarkan bantuan pada gadis yang sedang kesusahan." Ucap nya dengan sedikit menyunggingkan senyum. Senyum yang menurut Ana bisa diartikan sebagai ejekan.


"Permisi sir, bisakah Anda melepaskan koper saya dari tangan Anda?" Tanya Ana sopan namun penuh penekanan. Wajah nya menatap tak ramah pada laki-laki dihadapannya.


Laki-laki itu bukan nya marah justru terkekeh pelan mendapatkan penolakan dari Ana. Gadis itu banar-benar terlihat sangat tidak menyukai nya, padahal sebelumnya dia tak pernah sekalipun mendapatkan penolakan dari seorang wanita. Tapi sepertinya wanita ini berbeda dari yang lain.


Hm ... sepertinya menarik jika aku bisa mendapatkan nya. Batin laki-laki itu.


"It's oke, tapi bisakah aku meminta nomor ponsel mu? Ku rasa kau orang baru disini, dan pasti membutuhkan bantuan orang lain. Jadi lebih baik kau meminta bantuan ku saja dari pada meminta bantuan orang lain." Jelas nya sembari menyodorkan ponsel nya yang baru saja di ambil dari saku celana.


Ana semakin mencebik melihat tingkah laki-laki yang sok akrab dengan nya. Di tambah dengan bahasa nya yang diubah menjadi bahasa non formal, membuat Ana semakin tak suka pada orang itu.


"Sorry, saya buru-buru. Lain waktu saja ya...?" Kata Ana dengan nada selembut mungkin sembari menampilkan senyum manis nya.


Tentu saja Ana melakukan nya dengan paksaan. Andai tidak mengingat dia belum memiliki teman disini pasti sudah memaki-maki laki-laki itu yang sudah menghalang-halangi jalan nya hingga dia membuang-buang waktu demi meladeni orang asing ini.


Namun berhubung dia baru saja datang kemari, seperti nya tak baik juga bila kesan pertama saat baru menginjakkan kaki disini sudah marah-marah pada orang tak jelas.


"Hanya butuh sepuluh detik untuk menulis nomor ponsel, tak akan membuat mu ketinggalan kereta." Ujar nya bercanda diiringi dengan kekehan kecil.


Gadis itu kembali mendengus mendengar perkataan laki-laki itu yang menurutnya tak lucu sama sekali.


"Saya tidak sedang menunggu kereta." Sahut Ana dengan nada sudah berubah datar. Kali ini dia sudah tak bisa berpura-pura lagi untuk menyembunyikan ketidaksukaan nya pada laki-laki asing itu.


"Baiklah baiklah," Kata nya sembari mengangkat kedua tangan seperti seorang tersangka yang sudah menyerah, namun bibir itu tak henti-hentinya mengulas senyum. Membuat Ana semakin mual melihat nya yang menurut nya sok tampan. Padahal memang tampan.😌 "kalau kau tidak ingin memberikan nomer ponsel mu setidaknya biarkan aku membawakan koper mu." Kata laki-laki itu final.


Ana benar-benar tak bisa mengelak lagi karena dia juga tak ingin perdebatan ini semakin lama.


Sudahlah anggap saja dia seorang pekerja kuli panggul yang sedang membawakan barang-barang nya. Kata Ana dalam hati mencoba meyakinkan diri.


Akhirnya mereka berjalan menuju lift, dengan laki-laki itu terus membuntuti Ana di belakang nya.


Tak berselang lama, mereka sampai di lantai delapan.


"Wow, kebetulan apa ini? Ternyata unit mu se-lantai dengan unit ku." Katanya sembari tersenyum bahagia.


Ana hanya memutar bola mata nya malas. Sedari tadi laki-laki itu terus saja mengoceh seperti bebek. Membuat Ana kesal terhadap nya. Padahal biasanya Ana sendiri yang sering mengoceh seperti bebek.😒