
Menginjak sembilan bulan usia kandungan Ana. Hari-hari nya hanya dia habiskan menunggu Dave yang masih betah menutup mata. Tak ada perkembangan apapun pada Dave, bahkan beberapa bulan lalu denyut jantung nya hampir saja tak berdetak, untung saja tim medis segera menangani dan bisa menyetabilkan detak jantung nya hingga sampai saat ini masih bisa selamat.
"Ana, makan dulu." Tegur seorang laki-laki yang selama sembilan bulan ini menemani hari-hari nya. Bukan hanya menemani, tapi mengikuti kemana pun Ana pergi. Dialah Davio saudara kembar Dave yang selalu setia melayani Ana.
Selama ini hanya Davio lah yang mampu menuruti keinginan Ana. Cara mengidam Ana memang cukup aneh, meskipun begitu semuanya selalu dikabulkan Davio yang menjadi pengganti kakaknya.
Davio pun dengan sabar mengikuti keinginan wanita itu meski dirinya merasakan sakit hati saat Ana lebih memperhatikan Dave dibanding dirinya walau kini Davio lah yang selalu ada dan selalu menjaga Ana.
"Aku belum lapar," Sahut Ana seadanya.
Memang Ana terkesan dingin pada orang-orang terutama pada Vio. Ana masih belum percaya akan kenyataan bahwa dirinya disuruh menikah dengan Vio sedang Dave sedang berjuang melawan maut.
Sakit, tentu saja hatinya sakit. Dia tidak habis pikir pada orang-orang terdekatnya. Kenapa mereka tega melakukan hal itu.
Namun untung saja mereka tak memaksakan agar Ana tetap menikahi Vio jika dia memang tidak ingin.
Dan tentu saja Ana menolak nya mentah-mentah, hati dan jiwanya hanya untuk Dave seorang. Dia bahkan rela berstatus melajang seumur hidup bila memang Dave tak selamat. Sebesar itu lah cinta Ana pada sang kekasih.
Ana berpikir, cinta Dave untuk nya sudah sangat besar melebihi apapun. Kebahagiaan yang diberikan Dave sudah sangat membekas di hati. Dia tak ingin mencari cinta dan kebahagiaan yang lain. Karena dia hanya akan mengingat cinta Dave serta kebahagiaan nya bersama Dave seumur hidup nya.
"Jangan egois, Ana. Pikirkan bayi yang ada dikandungan mu." Seru Vio sedikit kesal karena selalu saja seperti ini.
"Bayi ku baik-baik saja, dia sangat kuat seperti daddy nya." Sahut nya masih terus bersikap datar.
Padahal jika dipikir-pikir Vio tidak salah apapun, dia bahkan bukan orang yang meminta untuk menikah dengan Ana. Tapi rasanya Ana sangat membenci Vio setelah kejadian itu karena menurutnya Vio tak berusaha menolak.
"Terserah kamu saja, jangan salahkan kami kalau kau sakit." Setelah mengatakan hal itu Vio langsung bergegas meninggalkan ruangan dengan perasaan kesal.
Jika saja kau tidak mengandung keponakan ku, tidak mungkin aku mau melayani wanita yang ku cintai sedang wanita itu cinta mati pada orang lain. Gumam Vio dalam hati sembari berjalan ke arah pintu.
"Akh ...,"
Baru saja Vio berjalan beberapa langkah dia sudah mendesak suara rintihan Ana. Secara impulsif Vio berbalik menatap kebelakang yang ternyata Ana memang sedang merintih sembari memegangi perutnya.
"Ana, kau kenapa?" Vio berlari menghampiri Ana dan berjongkok di depan nya.
"Akh ... perutku!" Ana berteriak semakin keras membuat Vio bertambah panik. "sepertinya aku akan melahirkan." Ringisnya menahan sakit.
"A-apa? m-melahirkan?" Mendadak blank otak Vio mendengar kata melahirkan. "t-tapi aku tidak tahu caranya melahirkan." Gumamnya lagi.
Andai saja ada orang di sebelah nya mungkin kepala Vio sudah di geplak keras agar bodoh nya hilang.
"Vio, panggilkan dokter akh ... aku tidak kuat." Perintah Ana sembari mencengkeram brangkar yang ada di sebelah nya.
Keringat dingin mulai membanjiri pelipis nya dengan wajahnya yang sangat pucat, rasanya sangat sakit hingga dia tak tahan merasakan nya.
"D-dokter? ah ya, dokter." Vio yang masih saja bersikap bodoh karena shock melihat Ana kesakitan hanya menuruti perintahnya.
"D-dokter? Kenapa dokter?" Vio masih bergumam lagi. Benar-benar bodoh! sepertinya otaknya sedang beristirahat dan tak ingin berpikir. "Oh astaga... Ana akan melahirkan," Vio langsung terbirit-birit keluar kamar dan mencari dokter.
Sedangkan Ana yang sedang menahan sakit hanya bisa melihat punggung Vio yang mulai menghilang dibalik pintu. Andai Ana tidak sedang merasakan sakit yang teramat, mungkin Ana sudah tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Vio.
Klek.
"Ana, kau kenapa?" Mami Bulan yang baru saja masuk langsung panik melihat wajah Ana yang menahan sakit.
"S-sepertinya aku mau melahirkan." Katanya lirih. Dia sudah tak kuat ditanya-tanya lagi karena rasa sakit yang mendera.
"Melahirkan? Bukankah prediksi nya masih 10 haru lagi?"
"Tapi baby nya sudah mau keluar." Sahut Ana sedikit kesal karena perutnya sangat sakit tapi mam Bu justru bertanya hal yang tak penting.
Dug.
Bruk.
"Auu!!" Mom Buu memekik keras saat pintu yang akan di buka lebih dulu di dorong seseorang dari arah luar hingga pelipis nya terbentur pintu dan tubuhnya ikut terjatuh ke lantai.
"Mom?" Vio yang terkejut mendapati Mami nya terjatuh ke lantai langsung berjongkok ke arah nya.
"Akhh... sakiitt!"
Baru saja Vio ingin menolong maminya tapi lebih dulu Ana berteriak kesakitan hingga dia memilih berlari mendekati Ana.
"Ana, tenang lah aku sudah membawa dokter untuk mu."
"Sebaiknya Anda segera kami bawa ke ruang persalinan."
"T-tidak, dokter. Aku ingin melahirkan di sini saja."
"Tapi, nona. Disini tidak ada peralatan nya."
"Aku tidak mau tahu, aku ingin melahirkan di samping Dave. Kalau kalian tidak bisa lebih aku melahirkan sendiri di sini." Meski menahan sakit yang teramat, Ana masih tetap keras kepala akan pendirian nya.
Hingga semua orang saling memandang seakan meminta solusi.
"Turuti saja keinginan nya, dok." Mom Buu yang baru saja bangkit dari lantai langsung menyahuti.
"Baik, Nyonya." Dokter itu pun mengangguk.
"Kalian, cepat pindahkan semua alat-alat persalinan ke sini." Perintah dokter pada beberapa perawat yang ada di belakang nya.
Ana langsung di baringkan ke atas brangkar yang sudah di siapkan dan dokter mulai memeriksa nya.
"Sudah pembukaan enam, itu artinya sebentar lagi akan melahirkan." Dokter itu menjelaskan. Sedang Ana masih mengatur nafas agar tak terasa semakin sakit, meski nyatanya semakin kesini sakit nya semakin bertambah.
"Dave, sakiiit..!" Ana menangis menjerit menyebut nama Dave saat merasakan perut nya begitu sakit.
"Dave, aku tidak kuaatt..!"
Sedang di sebelah nya, orang yang di sebut namanya itu mengeluarkan air mata saat mendengar jeritan Ana. Meski dia tak bisa membuka mata, tapi dia mendengarkan semua keributan yang terjadi di samping nya.
"Sekarang sudah waktunya Anda mengejan, nona." Dokter memberi tahu lalu mengarahkan Ana agar mengikuti instruksi dokter.
Sudah beberapa kali mengeja tapi bayi itu tak kunjung keluar. Hingga Ana rasanya sudah kehilangan tenaga serta nafas nya.
"M-maafkan aku, Dave. sepertinya aku sudah tidak kuat lagi." Setelah bergumam mengatakan hal itu seluruh pandangan nya menggelap dan akhirnya dia menutup mata.
Orang-orang yang ada disekitar nya menjerit memanggil namanya tetapi dia sudah tak lagi bisa menyahuti.
CEK NOVEL KU YANG BARUβ¨
...πππ...
...TBC...
Mau minta berapa bab lagi menuju ending?