
"Panas, Dave." Tingkah Ana semakin tak bisa dikondisikan. Tangan nya berusaha melepaskan pakaian yang melekat ditubuhnya setelah tadi sempat di perbaiki kembali oleh Dave.
Dave benar-benar merasa geram melihat tingkah nya, dia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila orang-orang suruhannya tak langsung masuk mendobrak pintu ruangan, mungkin hal tak terduga sudah terjadi padanya.
"D-dave," Ana kembali mencium bibir Dave dengan rakus, seakan-akan tak ada hari nanti, esok atau lusa. Dia benar-benar sudah kehilangan jati dirinya sebagai seorang wanita yang menjaga image diri.
Dave hanya diam tak memberikan respon apapun, karena dia tahu efek obat yang dikonsumsi Ana sangat lah tinggi. Ini membuktikan juga bahwa Edo memberinya dosis yang tinggi, hal ini semakin membuat Dave merasa geram.
Dave yang sudah berada di dalam mobil, membaringkan tubuh Ana di sebelah kursi kemudi yang masih bergerak gelisah. Dave mulai fokus mengemudikan mobil membelah jalanan kota, tetapi fokus Dave tak bertahan lama setelah Ana tiba-tiba menanggalkan seluruh kai yang menempel di tubuhnya hingga kini keadaan nya polos.
Dave berusaha sekuat mungkin agar tetap melihat kearah jalanan dan tak menoleh ke samping, tetapi itu hanya berlaku sementara karena tanpa di duga Ana duduk di pangkuan nya dan tiba-tiba mencium bibir nya, bahkan jari jemari Ana sudah membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakai Dave, membuat laki-laki itu benar-benar tak bisa konsentrasi mengemudi.
Cittt..!
Mobil yang tadinya dikemudikan dengan kecepatan sedang dihentikan mendadak, untung saja jalanan disini tidak sepadat di Indonesia sehingga tak menimbulkan kecelakaan.
Dave benar-benar sudah tak bisa menahannya lagi, setelah berusaha semampu mungkin agar tak ikut terpancing nyatanya tak semudah itu. Setelah melihat tubuh polos Ana membuatnya ikut terpancing gairah, terlebih ketika Ana begitu agresif menyerang, membuatnya semakin tak bisa mengendalikan diri.
"Maafkan, aku. Aku sudah tidak bisa menahan lagi."
Dave kembali mengemudikan mobil untuk menepi, setelah melihat jalanan terlihat sepi, Dave mengambil alih permainan yang sedang dilakukan Ana.
Dave mencium bibir Ana tak kalah rakusnya, kedua tangan nya meraih dua benda favoritnya yang sudah bergerak bebas karena tak ada penghalang apapun yang menutupi nya.
Ana semakin tak karuan setelah mendapatkan sentuhan dari Dava, Ana pun ikut berinisiatif mengambil kendali. Tangan nya menyusuri setiap inchi tubuh bagian atas Dave yang sudah yg tak terhalang apapun karena kemeja yang dikenakan sudah berhasil di hempaskan Ana ke sembarang arah.
Tangan Ana terus menyusuri tubuh Dave dari atas hingga berhenti tepat di depan pengait celana yang terdapat ikat pinggang. Tangan nakal Ana bahkan memegang dan meraba bagian bawahnya hingga membuat Dave mende-sah tertahan oleh ciuman, dua-duanya benar-benar sama-sama sudah tak bisa dikendalikan. Hingga pada akhirnya Dave membalikkan tubuh Ana dan kini berpindah posisi menjadi di bawahnya.
Setelah melalui pemanasan sedikit lama, baik Dave maupun Ana sudah tak bisa membendung hasrat yang begitu menggelora. Pada akhirnya keduanya kembali melakukan penyatuan nya untuk yang kedua kalinya setelah Dave melepas seluruh pakaiannya dan membaringkan tubuh Ana pada kursi setelah sandaran kursi diturunkan.
Ana sedikit meringis sakit tetapi dia tahan, karena rasa nikmat lebih mendominasi daripada sakit yang dirasakan.
Dave terus memacu tubuhnya dengan begitu brutal saat Ana terus-terusan meminta Dave bergerak lebih cepat. Sepertinya tenaga Ana bertambah berkali-kali lipat dibanding biasanya. Terbukti kali ini Dave sudah berusaha memacu secepat mungkin tetapi Ana tetap meminta lebih cepat lagi dan lagi.
"Aarrghh ..!!"
"Aaahhhh ..!"
Dave dan Ana saling mengerang panjang bersamaan setelah mendapatkan gelombang besar datang kepada mereka. Keduanya begitu menikmati pelepasan itu, dan sekali lagi Dave mengalirkan gelombang besar itu pada rahim Ana tanpa pengaman.
Keduanya sama-sama terengah-engah dengan posisi tubuh Ana berada di atas Dave sembari mengatur nafas. Peluh keringat itu membanjiri tubuh keduanya dan menyatu pada kulit mereka. Menandakan betapa buasnya mereka saat melakukan sesi percintaan hingga tak menyadari saat ini mereka sedang bercinta di dalam mobil, sedang di luar sudah ada dua polisi yang sedari tadi mengetuk kaca jendela nya.
Tok ... tok ... tok,
Entah sudah ke berapa jalin kalinya dua polisi itu mengetuk kaca jendela mobil. Bahkan polisi itu datang saat mereka menyadari ada mobil yang menepi di pinggir jalan. Niatnya mereka ingin menegur, tetapi begitu mereka mendekat tiba-tiba mobil itu bergoyang sangat keras. Menandakan penghuni mobil itu sedang melakukan hal-hal yang tidak senonoh di pinggir jalan, dan prediksi mereka benar setelah semakin lama mobil itu semakin bergoyang cepat.
Tok ... tok ... tok.
"Excuse me..!" Ana dan Dave sama-sama tersentak setelah menyadari di luar mobil ada makhluk berseragam polisi inggris lengkap dengan atribut, menyaksikan percintaan mereka.
Dave sebenarnya sangat malu, tetapi dia segera menormalkan diri dengan berdehem keras lalu mengambil baju yang sudah berserakan di bagian bawah mobil. Tak lupa juga mengambilkan baju untuk Ana, tetapi setelah dilihat-lihat ternyata baju Ana sudah tak layak pakai hingga akhirnya dia memutuskan untuk memakaikan jas miliknya di tubuh Ana.
Setelah selesai prosesi berganti baju, Dave batu menurunkan kaca mobil. Terlihat dua polisi itu menatap nya begitu tajam, tetapi sebelum mereka membuka mulut Dave lebih dulu menyodorkan isi dompetnya pada dua orang itu.
"Apa ini cukup?" Tanya Dave dengan suara dinginnya. Sebenarnya Dave pun sangat malu menatap dua orang itu, tetapi sebisa mungkin dia bersikap biasa-biasa saja agar mereka tak menyadari kegugupan Dave.
"C-cukup, Mr. Terimakasih," Salah satu dari polisi itu terlihat begitu kegirangan melihat jumlah tips yang disodorkan Dave.
Sedangkan satu polisi lagi masih menatap tajam Dave dengan aura tak bersahabat. Sepertinya satu polisi ini gak bisa di suap, batin Dave.
"Sekarang Anda boleh pergi." Polisi yang mengambil yang mengambil tips itu langsung mengusir Dave saat menyadari temannya tak bisa diajak kerja sama karena tak ingin kehilangan tips yang sangat banyak.
"Lain kali jika ingin bercinta sewa lah hotel, jangan dipinggir jalan. Mengganggu yang lain saja." Gerutu polisi itu masih tetap dengan tatapan tajamnya.
Dave tak menanggapi sama sekali, dia lebih tertarik menyalakan mesin mobil dan berlalu dari sana tanpa memberikan ucapan selamat tinggal atau terimakasih pada dua polisi itu.