Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Dave Datang!



Mendengar ancaman Ana, tentu Edo tertawa keras. "Silahkan berteriak lah sekeras mungkin karena tak akan ada satu orang pun yang mendengar. Ruangan ini kedap suara, jadi tidak akan mungkin ada orang yang mendengar teriakkan mu."


Ekspresi Edo saat ini benar-benar membuat Ana ketakutan, apalagi netra matanya menatap Ana dengan begitu tajam seperti . Sebelumnya dia belum pernah melihat Edo yang memiliki sisi lain seperti ini, tawa yang dilakukan Edo benar-benar menunjukkan kalau dia adalah seorang devil dan Ana semakin ketakutan dibuatnya.


"Bagaimana, baby? Apa kau masih berminat untuk berteriak, hm?" Jari-jemari Edo mengusap wajah Ana. Sedangkan Ana hanya bisa diam tak berkutik.


Tanpa diduga, Edo merobek atasan yang dikenakan Ana sehingga terpampang lah tubuh bagian atasnya yang masih terhalang oleh kain penyangga dua benda menonjol milik nya.


Ana jelas menjerit histeris, terlebih saat jari-jemari Edo bergerak di bagian tubuh itu. Yang hanya dilakukan Ana hanya lah menangis sembari berdoa agar terlepas dari manusia jahat seperti Edo.


"Hahaha ...! Jangan sok jual mahal, baby. Aku tahu, tubuh mu ini sudah banyak sekali laki-laki yang menja-mah nya. Jadi jangan berpura-pura seperti seorang perawan." Edo memegang salah satu aset berharga milik Ana yang masih terbungkus kain penyangga lalu meremas nya.


Suara desaahan keluar dari mulutnya karena saat ini dia pun sedang terpancing gairah akibat obat perangsang pada makanan yang dikonsumsi nya.


Tetapi Ana berusaha sekuat mungkin untuk memupuk kesadaran, dia tak Sudi bila tubuhnya dinikmati oleh laki-laki tak bermoral seperti Edo.


Ana merutuki dirinya sebagai saat lagi-lagi mengeluarkan desa-han itu. Padahal dia sudah mengontrol sekuat mungkin, tetapi mungkin karena efek dosis obatnya yang terlalu tinggi membuat Ana semakin kesulitan mengontrol diri.


"Kau menikmatinya, baby." Bisik Edo sembari mengendus di ceruk leher Ana dan menye-sap nya.


"Sesuai dugaan ku, kau memang memiliki tubuh yang sangat indah. Bukan hanya indah, tetapi juga sangat nikmat. Ukuran dada mu begitu pas di tangan ku, sangat kenyal dan juga padat."


Ana terus-terusan mendorong tubuh Edo agar terlepas dari cengkraman nya, air matanya mengalir begitu deras seiring dengan tangan Edo yang dengan lancang nya menyentuh tiap titik bagian tubuhnya.


"Maafkan aku, Dave."


.


.


.


Di tempat lain, seorang laki-laki sedang mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Setelah mendapatkan informasi tentang latar belakang Edo yang ternyata adalah anak dari pemilik kampus tempat kuliah Ana, Dave langsung memberikan perintah kepada beberapa orang suruhannya untuk terus mengawasi Ana. Karena dia tak ingin kecolongan lagi, terlebih Ana tidak berada didekatnya. Seperti kejadian kemarin, bahkan dihadapan Dave pun dia berani mencium Ana.


Bukan hanya itu, Dave juga mengetahui bahwa Edo adalah seorang player yang sering bergonta-ganti wanita.


"Damn!!" Dave membanting stir nya saat mendapatkan informasi bahwa Edo & Ana pergi ke restoran dan berada di sebuah private room sehingga orang-orang suruhannya tak bisa mengawasi nya.


"Dobrak saja pintunya!!' Perintah Dave pada orang suruhannya yang sedang menelpon.


Setelah mengatakan itu, Dave langsung menutup teleponnya sepihak karena saat ini dia sedang menyetir dan tak ingin membahayakan keselamatannya. Karena bila sampai terjadi sesuatu padanya, Dave tak mungkin bisa sampai tujuan.


Dave semakin menambah kecepatan agar bisa segera sampai di sana. Entah apa yang sedang terjadi, hatinya merasa gelisah. Dave merasa Ana sedang berada dalam bahaya.


"Kenapa kau mempercayai orang yang baru dikenal begitu saja??" Dave bergumam sendiri sembari fokus mengamati jalanan karena kendaraan yang sedang dibawanya melaju dengan sangat cepat. Untung saja kendaraan yang berlalu lalang tak seberapa banyak, hingga Dave bisa melaju secepat mungkin.


Tanpa membuang banyak waktu, dia menerobos mencari keberadaan Ana. Dari kejauhan Dave melihat salah satu orang suruhannya berada di depan pintu yang terbuka lebar sedang melihat ke sana kemari. Sayup-sayup terdengar suara keributan di dalam sana, dan Dave semakin mempercepat larinya.


"Dimana Ana?!" Tatapan tajam Dave serta netra matanya yang memerah membuat nyali pengawal itu menciut.


"D-di dalam, Tuan." Pengawal itu menunduk takut, tak berani menatap netra tajam Dave.


"Shitt!!" Dave mengumpat melihat situasi di dalam sana.


Dengan nafas naik turun Dave berlari menuju para pengawal nya yang sedang memberi perhitungan pada Edo. Dari kejauhan dia bisa melihat Ana yang sudah dalam kondisi tidak baik-baik saja, banyak robekan pada baju yang dikenakan, bahkan Dave bisa melihat dengan jelas ada tanda merah di leher nya. Dan hal itu semakin membuat emosi Dave berada di ubun-ubun.


"Minggir Kalian!!" Sentak Dave hingga semua pengawal yang tadinya sedang menghajar Edo langsung berbalik lalu menjauh setelah melihat Tuannya yang memberikan perintah.


"Kurang ajar!!"


Bug bug bug.


"Apa yang kau lakukan pada wanita ku?!!"


Bug.


Bug.


Dave terus-terusan memberikan bogem mentah pada Edo, padahal keadaan Edo saat ini pun sudah tak baik-baik saja karena sudah dihajar habis-habisan oleh anak buahnya.


Tetapi Dave yang sudah kehilangan akal sehat, tak memperdulikan keadaan Edo. Yang dipikirkannya adalah memberikan hukuman seberat-beratnya pada laki-laki yang sudah berani menyentuh wanita nya.


"Kali ini aku benar-benar tak akan mengampuni mu!! Jangan harap kau bisa hidup setelah ini!!"


Bug bug bug.


Jelas Edo tak memberikan respon apapun, karena saat ini dia sudah tak sadarkan diri.


"Sudah, tuan. Hentikan! Dia bisa mati." Peringat salah satu pengawalnya dengan segenap keberanian yang telah dikumpulkan nya.


Namun, ternyata perkataannya tak berarti apa-apa. Bahkan mungkin Dave tak mendengarkan apa yang diucapkan karena sedang fokus menghajar Edo.


"Dave, panas ...," Sayup-sayup Dave seperti mendengarkan suara Ana yang berkata panas. Lalu pandangan nya beralih mencari sosok wanita nya. Dan benar saja, saat ini Ana sedang berusaha membuka bajunya. Dia bahkan tak memperdulikan keadaan ruangan ini yang dipenuhi para laki-laki. Seketika wajahnya semakin memerah juga matanya yang ikut memerah akibat kemarahan dalam jiwanya sembari menatap wanita nya dan melihat kondisinya saat ini.


Kali ini bukan tatapan rasa iba yang diberikan Dave, melainkan tatapan sebuah kemarahan yang begitu besar. Dia bahkan sudah tak memikirkan lagi tentang Edo, karena kali ini pikiran nya hanya tertuju pada wanita nya.


Dengan gerakan cepat dia langsung menggendong Ana seperti anak koala. Saat Ana sudah berada dalam gendongan Dave, dia langsung mencium rakus bibir Dave tanpa memperdulikan keadaan sekitar.


Dave tak menolak tetapi juga tak membalas nya, tatapan nya yang begitu dingin itu terus tertuju ke depan sembari menapakkan kakinya untuk keluar dari tempat itu.