
Tiga hari berlalu, Ana beserta bayinya sudah kembali ke satu unit Apartemen milik Dave. Sebenarnya mom Bulan terus membujuk mereka agar pulang ke Mansion Grey karena ingin terus berada di dekat cucunya. Sedangkan Mom Jenni menolak dengan kuat ajakan Mom Bulan, hingga terjadilah cek cok antara dua manusia itu.
Di tengah-tengah ketegangan pertengkaran mereka memperebutkan Ana dan cucu mereka, akhirnya Dave membuat keputusan final untuk mengajak pulang Ana ke Apartemen milik nya yang jarang di pakai. Dave memberi penawaran pada dua orang itu, yaitu diperbolehkan tinggal di sana untuk menjaga Ana maupun baby Devans hingga akhirnya mereka pun menyetujui.
Sebenarnya Dave mendapat keuntungan banyak dibalik keputusan nya ini, setelah beberapa bulan lama nya Ana selalu di temani Davio, tentu saja ada segelintir rasa cemburu yang mneyelinap dalam dada, terlebih setelah mendengar cerita mereka yang sempat ingin menikahkan Ana dengan Davio, walau kenyataan nya tidak terjadi tetapi tetap saja hal itu benar-benar membuat nya sesak. Apalagi saat mendengar bebrapa kali Ana mengidam yang dianggap tak wajar tetapi selalu dituruti Vio benar-benar semakin membuat dirinya merasa murung.
Oleh karena itu, mulai saat ini Dave akan berusaha memberi jarak antara Ana dan Vio. Tetapi bila Ana tinggal Mansion Grey, sudah bisa dipastikan calon istrinya akan terus bertemu saudara kembar nya itu. Sedangkan bila tinggal di Mansion Alexander, tentu saja dirinya lah yang akan kesulitan bertemu buah hati dan wanita nya. Itu lah mengapa Dave mengusulkan agar Ana tinggal di Apartemen, karena jika demikian, Dave akan dengan leluasa 24 jam bisa bersama mereka karena tak mungkin ada yang mengusir dari unit apartemen nya sendiri.
Suara kegaduhan kembali terdengar dari kamar Ana, yang tentu saja biang nya adalah dua wanita paruh baya dan Dave. Mereka saling memperebutkan untuk tidur bersama Ana dan baby nya.
"Wah ... tidak bisa begitu dong, kemarin saya sudah mengalah membiarkan nyonya Jenni untuk tidur bersama menantu dan cucu saya, sekarang giliran Anda yang harus mengalah." Mom Bulan berkata dengan berapi-api. Dia tak terima dengan Mom Jenni yang terkesan memonopoli calon menantu dan cucu nya.
"Bukan nya kemarin Jeng Bulan memang ada kepentingan makanya tiak tidur di sini ya? Bukan karena mau ngalah?"
Perkataan sengit Mom Jenni berhasil membuat Mom Bulan tesiap. "Bagaimana dia bisa tahu?" Tanya nya dalam hatisembari menelan saliva nya susah payah.
Karena memang yang sebenarnya kemarin Mom Bulan manginap karena Papi Ello sedanga ada acara di luar dan harus menmani nya sampai larut malam, hingga pada akhirnya mom Buu memilih untuk pulang ke Mansion karena tak ingin membangunkan Ana dan baby D.
"Sudah-sudah! Jika kalian masih ingin berdebat sebaiknya selesaikan di luar karena jika terus-terusan kalian ribut di sini maka Baby D dan juga Ana tak akan bisa tidur.
Dua wanita paruh baya itu saling pandang, tetapi di detik berikut nya mereka menyetujui perkataan Dave dan keluar lah dari ruangan itu, menyisakan Ana, baby D, serta Dave yang baru saja selesai mengunci pintu sembari tersenyum kemenangan. Sedangkan Ana hanya geleng-geleng kepala mengetahui akal bulus Dave.
Ya, Dave sengaja mengusir dua orang tua itu agar dia bisa menghabiskan waktu bertiga dengan Ana dan juga baby D. Karena semenjak dia sadar dari koma, lebih tepat nya setelah Ana melahirkan, dia bahkan tak memiliki kesempatan menghabiskan waktu berduaan dengan Ana. Karena sekali lagi, Ana dan baby D selalu di monopoli oleh kedua orang tua paruh baya namun masih terlihat muda itu.
"I miss you, sayang." Dave menghampiri Ana yang sejak tadi duduk bersandar head board tempat tidur dengan senyum manis yang terbit di wajah cantik nya. Tangan Dave langsung membelit pinggang ramping Ana lalu memeluk nya erat-erat. Dengan kepala nya yang tak berhenti mengendus-ngendus tubuh Ana untuk mencium aroma wangi tubuh itu yang sudah membuat nya candu. "Terima kasih sudah berjuang mengandung dan melahirkan baby D, sayang. Aku sangat bangga, kau bahkan rela mempertaruhkan nyawa untuk nya." Dave mengatakan nya dengan mata berkaca-kaca. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana perjuangan Ana saat melahirkan baby D, bahkan sampai pingsan. Tapi atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya Ana bisa melahirkan baby D dengan selamat. Dan itu adalah anugerah terindah yang tuhan berikan.
Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat Dave semakin salut pada Ana, dia tahu setiap detik yang dilakukan wanita nya saat menjaga nya sewaktu masih koma. Walau tak melihat, tetapi dia masih bisa mendengarkan dengan jelas setiap perkataan yang Ana keluarkan. Bahkan sewaktu Ana mengadu saat semua orang membujuk nya untuk menikah dengan Davio, tetapi dengan tegas Ana menolak karena sangat yakin bahwa Dave akan sembuh. Dan hal itu pula yang membuat nya terdorong dan berusaha untuk bisa sadar walau nyatanya tak menghasilkan apapun.
"I love you ...," Dave mencium bibir Ana dengan lembut namun menuntut, hingga tanpa terasa Ana pun ikut membalas nya, saat tangan Dave sudah tak bisa dikondisikan lagi, tiba-tiba pintu kamar nya di ketuk dengan keras dari luar hingga membuat dua manusia yang sedang menikmati ciuman manis itu harus kecewa karena menghentikan kegiatan mereka. Lalu di saat bersamaan, baby D yang sejak tadi tidur di tempat tidur bayi itu tiba-tiba menangis karena mendengar ketukan keras dari luar.
...❤️❤️❤️...
...TBC...
Clear ya ... ga ada salah faham lagi, n ngira Ana & Savior udah nikah.🤭
Beberapa dr kalian mungkin ngira mereka udah nikah, padahal belum.🙈
Davio benar-benar ikhlas menjaga Ana tanpa meminta imbalan atau pun berharap untuk menjadikan nya istri.
Walau dia play boy tapi hati nya baik seperti mom Buu, yang tak akan mungkin tega merebut kebahagiaan kakak kembarnya demi keegoisan diri nya. Salut sama Vio 🤧
Setelah ini aku mau buat Kisah nya Davio di novel lain, semoga kalian mampir ya ...
Terimakasih banyak semua.
Semoga tidak bosan membaca goresan aksara ku.
Selamat berjumpa di lain kesempatan, byee 🤗
Jangan lupa juga follow akunku supaya tidak ketinggalan cerita berikut nya.
Terimakasih.