Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Kemurkaan Dave 2



"Da-dave...," Panggil Ana dengan suara bergetar menatap Dave yang masih berdiri dengan nafas naik turun.


Netra nya langsung menatap tajam ke arah sumber suara dengan bola mata yang masih memerah karena amarah.


"Berani-beraninya kau membiarkan orang lain mencium mu!!"


Tanpa di duga, Dave tiba-tiba berjalan tegap kearah Ana dan menggendong tubuh nya entah ingin dibawa kemana.


"Aaaaa ... Dave turun kan aku ..!"


"Berontak lah sesuka keinginan mu, tapi jangan harap kau akan bisa lari dari hukuman ku!!" Dave terus saja berjalan menuju kamar tanpa memperdulikan pemberontakan yang dilakukan Ana.


"Dave, Jangan seperti ini ... Aku takut...," Seluruh tubuh Ana bahkan bergetar melihat kemarahan yang terlihat dalam pancaran mata Dave.


Dave tak menanggapi perkataan Ana, dia terus berjalan melangkah hingga sampai di kamar. Bukan nya berhenti, Dave justru terlihat tetap berjalan menuju bathroom.


Ana hanya bisa pasrah dengan tubuh nya terus gemetar hebat. Bagaimana tidak gemetar bila tatapan orang yang sedang menggendong nya terlihat begitu bengis, bahkan nafas nya pun belum terkontrol. Ana benar-benar tak bisa berontak ataupun melakukan apapun selain hanya pasrah dan berdoa.


"Da-dave..." Ana kembali menangis sejadi-jadinya saat tiba-tiba tubuhnya di guyur air dingin dari shower.


Srekkk ... srekkk ... srekkkk


"Sakit Dave...!" Tangisan pecah seketika saat Dave memperlakukan nya dengan begitu kasar. Seluruh kain yang melekat pada tubuh nya sudah robek tak bersisa. Hingga kini tubuh nya bertel-anjang tk tertutupi apapun.


"Aaaaa ... sakit. Hentikan, Dave. Ku mohon ...," Ana merintih kesakitan saat bibir di gosok kuat oleh jari jemari Dave hingga bengkak.


"Hiks ... hiks ... mo-mommy, tolongin Ana ... sa-sakit...," Ana tak bisa berucap dengan baik karena bibir nya yang begitu perih, juga seluruh tubuh nya juga merasa sakit saat tangan Dave berpindah menggosok seluruh tubuh nya dengan sangat kasar.


Yang bisa dilakukan Ana hanya meraung, meminta Dave untuk berhenti kasar, dan menjerit, meski Dave tak menghiraukan sedikit pun kesakitan Ana.


"Da-ve, sa-sakit. Mom-my ... dad-dy tolong Ana." Ana sudah tak memiliki tenaga untuk berteriak. Hanya bisa menggumam kan nama orang tuanya sembari merasakan perih di sekujur tubuhnya.


"Di mana lagi dia menyentuh mu?!" Dave masih menggosok tiap-tiap bagian tubuh Ana. "di mana? disini? di sini? atau di sini?" Tunjuk satu-satu bagian tubuh Ana.


"Aaaa ... jangan, Dave. Ku mohon itu sakit." Rintih nya.


"Apa?! sakit kau bilang?!" Mata Dave memicing. "aku yang lebih sakit saat melihat mu di cium oleh orang lain! Kau hanya milikku, selama nya hanya milikku dan tak ada yang berhak menyentuh tubuh mu selain aku!!" Dave yang sejak tadi masih di selimuti amarah dan bahkan kebengisan, tak melihat sama sekali keadaan Ana saat ini. Dia terlihat seperti orang yang kesurupan, tak memiliki kendali atas kemarahan yang berada dalam jiwanya.


"Ini bukan hukuman, aku hanya sedang membersihkan kotoran dan virus laki-laki brengsek itu yang menempel di tubuh mu!"


"Sekarang, terima lah hukuman ku yang sesungguhnya!"


Tanpa aba-aba, Dave membawa tubuh Ana yang sudah sangat lemah ke atas ranjang lalu membanting nya dengan keras. Untung saja bed yang berukuran king size itu sangat elastis hingga tubuh Ana tak merasa sakit meski di banting dengan sangat keras.


"Bersiaplah menerima hukuman ku, Ana!"


Tanpa aba-aba Dave mencium bibir Ana dengan sangat bringas, padahal luka goresan luka di bibir nya akibat ulahnya tadi belum. di sembuhkan sama sekali, dan kini bertambah sudah kesakitan Ana. Dia tak dapat menikmati ciuman yang di berikan Dave, karena saat ink yang dia rasakan adalah sakit. Ya, sakit yang teramat di hati maupun fisik nya.


Tak lama setelah nya, Dave menurunkan ciuman nya ke leher. Bukan hanya ciuaman, tetapi juga gigitan kuat di leher Ana hingga membuat gadis itu lagi-lagi menjerit karena sakit.


"Aaaa ... Sakitttt..!" Ana kembali menangis. Sungguh, kini seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Aku benci kamu!! Aku membenci mu, Dave.!!"


Seakan-akan tersadar dari kesalahan nya, Dave mematung sejenak. Dia masih mencerna apa yang baru saja terjadi.


Dave merutuki dirinya sendiri saat mengingat telah menyakiti wanita nya. Di lihat nya wajah wanita yang berada di bawahnya, terdapat banyak memar dan luka di area wajah nya.


Dia mengingat, ini adalah perlakuan buruk nya hingga membuat wanita nya mengalami luka seperti ini.


Tak bisa membendung kesedihan nya, Dave langsung meraih tubuh di bawah nya lalu membawa ke dalam pelukan.


"Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa mengontrol sikap ku."


Dave kembali mengamati seluruh tubuh wanita nya, terhadap banyak sekali kulit yang terlihat memerah. Lagi lagi dia teringat akan perlakuan nya tadi di kamar mandi.


"Aku membenci mu." Ana berkata lirih dalam dekapan Dave.


"Aku patut di benci. Sungguh, aku tak bisa mengontrol emosi ku."


Dave langsung membawa tubuh lemah tak berdaya Ana ke dapur, berusaha mencari sesuatu yang bisa menyembuhkan luka wanita nya.


Saat sampai di dapur, ternyata tak menemukan apapun yang Dave cari.


Dave hanya bisa menghembuskan nafas nya dengan pasrah, lalu meraih ponsel nya. Ternyata batu ingat, sejak semalam ponsel nya masih berad a di kamar.


Dave kembali ke kamar dengan Ana yang masih berada dalam gendongan, lalu memanggil seseorang yang berada di seberang telepon untuk membelikan salep obat luka dan juga salep untuk area inti Ana.


Dave membaringkan tubuh Ana yang terlihat menggigil karena belum mengenakan pakaian, dia berjalan ke arah walk in closet untuk mengambil pakaian ganti Ana.


Dengan telaten, Dave kembali memakai kan pakaian untuk nya, saat ini tak ada perlawanan sedikitpun dari Ana karena diri nya telanjur tak berdaya.


Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya obat yang di pesan Dave datang. Dengan segera Dave mengambil nya, bukan hanya obat yang di bawa orang itu, dua juga membawa beberapa baju ganti untuk Dave, tentu saja itu atas perintah Dave.


Saat Dave mendekati Ana, ternyata wanita nya sedang tidur. Mungkin karena terlalu lelah dengan kejadian yang baru saja menimpa nya hingga membuat nya seperti ini.


Bukan hanya kejadian tadi yang membuat nya lemah, tetapi karena semalam pun di kurang tidur akibat melayani Dave. Dan justru sekarang Ana bertambah lelah karena kedatangan Edo yang membuat dua orang saling memukul.


Huh, Alhamdulillah selesai kejar 4 bab🤣


Semoga lulus belum jam 12 aamiin...,


Sorry kalo tulisannya banyak typo, aku ga sempat revisi yak.