
"Sebenarnya..."
Defina mengusap air matanya lalu menghela nafas, "Ibuku dan ibu Nadya bersahabat tapi berbeda alam,"
"Apa maksudmu?" tanya Rhena tidak mengerti.
"Ibuku didaratan dan ibu Nadya di air, aku memang tidak mengerti masalah ini, tapi dulu sama seperti ini Nadya kembali ketempat asalnya untuk menyelesaikan masalah yang mungkin sangat penting untuk ia selesaikan, tapi aku sebagai sahabatnya tidak bisa membantu apa pun, aku khawatir, aku sungguh inggin membantu Nadya tapi aku sadar aku tidak bisa melakukannya."
"Air? maksudmu Nadya dan Aeera adalah seekor duyung?" tanya Ji Hyun.
Defina menganggukan kepalanya, Ji Hyun tertawa lalu ia melirik kearah Angga yang sedang terdiam melihat kebawah lautan.
"Hey Angga, apakah kau mengetahuinya jugaa?" tanya Ji Hyun sambil menghampirinya.
Angga menatap Ji Hyun lalu menganggukan kepalanya. "Tidak tapi, itu tidak mungkin bagaimana bisaa,"
"Itu sangat mungkin, apakah kalian pernah melihat tanda di leher Nadya dan Aeera? Areum tadi menceritakan jika raja ikan sedang mengincar kalung Nadya,"
"Kau juga mengetahuinya?" tanya Ji Hyun terkejut.
"Areum? tapi kenapa mereka berdua tidak akur sama sekali?" tanya Laila.
"Karena Areum dan Nadya berada dikerajaan yang berbeda, aku tidak tahu bagaimana ceritanya." kata Angga
"Dia mengatakan jika kita harus membawa keluarga kita kedaratan tinggi,"
"Ya kita harus lakukan itu,"
"Aku sungguh masih bingung, yang aku baca-baca duyung itu..."
"Jangan berpikiran jika mereka pembawa sial ataupun itu semacamnya, jika tidak ada Nadya mungkin kita tidak akan tahu kedepannya akan bagaimana, sekarang kita harus berkerjasama kita harus memberi tahu keluarga kita untuk bersiap-siap dan berjaga-jaga." kata Angga
"Sunggu, aku baru mengetahuinya sekarang."
"Pantas saja jika Areum dan Nadya saling bertengkar dan membenci aatu sama lain."
"Aku harap Nadya dan Aeera tidak terjadi apa-apa dibawah sana." ucap Ji Hyun
"Apakah kalian tidak kecewa atau takut kepada Nadya dan juga Aeera?" tanya Defina.
"Hanya saja aku kecewa kepadamu, kenapa kau baru memberi tahunya sekarang, dan aku sedikit kaget jika mengetahui mereka berdua adalah seekor duyung."
"Ya bagaimana pun Nadya sering membantuku, aku sama sepertimu Laila hanya kaget saja."
"Lalu bagaimana denganmu Angga?" tanya Jenny.
"Aku akan menunggu Nadya disini, sampai aku bertemu dengannya lagi."
"Apakah kau gila Angga, kau ingat bukan kita harus bersiap-siap untuk tiga hari kedepannya aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, aiss ku sangat takut," kata Laila.
"Angga aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Nadya, tapi kita doakan saja semoga Nadya baik-baik saja disana." kata Defina mencoba menenangkannya.
"Benar Angga, ayo lebih baik kita kembali ke kampus," lanjut Rhena.
***
Nadya dan Aeera berenang menuju barat untuk kembali kekerajaannya, tapi tiba-tiba saja Areum yang berada dibelakangnya menyerang menggunakan kekuatannya.
"Sial, kalung itu sekarang sudah berada ditangan orang yang salah."
Kedua kalinya Areum mengeluarkan kekuatannya lalu mengarahkannya kepada Nadya, dan benar saja kekuatan itu mengenai Nadya sehingga gadis itu berhenti berenang.
"Nadyaa!"
Aeera menghampiri Nadya dan melihat separah apa luka Nadya, "*Untung saja luka ini tidak begitu parah, Areum dia telah memiliki kalung itu."
Aeera menarik tangan Nadya lalu kembali berenang, sesampainya dikerajaan Aeera masih menopang tubuh Nadya.
"Nadya, apa yang terjadi denganmu?" tanya Alsafa dan menghampiri mereka berdua.
"Gawat, kalung itu berada ditangan Areum putri kerajaan utara."
"Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Amanda yang tiba-tiba datang.
"Nadya? apa yang terjadi denganmu?"
"Tadi saat kami berenang tiba-tiba saja Aerum mengerang kami." kata Aeera menjelaskan
"Baiklah, aku akan mengobati Nadya lalu nanti ceritakan lah apa yang terjadi didaratan."
***
Setelah selesai mengobati Nadya, mereka semua kembali berkumpul dan Aeera menceritakan apa yang terjadi didaratan.
"Keadaan sekarang sudah sangat genting, kita harus berjaga-jaga."
Aeera dan Alsafa menganggukan Kepalanya, "Kak Amanda, maafkan aku tidak bisa menjaga kalung itu." kata Nadya yang masih lemas
"Tidak apa-apa, yang terpenting kalian berdua selamat, tapi aku juga tidak tahu perihan perpindahan tahta ini."
"Kenapa mereka merahasiakannya?"
"Percuma saja kita mencari tahu, sudah tidak ada gunanya lagi..."
"Aku merasakan, belakangan ini ada orang yang mengikuti ku,"
"Benarkah? aku juga merasakannya saat didaratan."
"Apakah itu adalah raja ikan? tapi kenapa dia tidak menyerang bahkan ahh aku sungguh sangat bingung sekali."
"Jika begitu kita harus berwaspada aku akan terjaga semalaman ini, takutnya mereka tiba-tiba menyerang." kata Amanda sambil kembali duduk disinggasananya.
"Aku juga akan terjaga malan ini," ucap Nadya.
"Aku juga." seru Alsafa dan Aeera bersamaan
"Baiklah."
Didaratan Defina kembali kerumah, ia duduk disofa dengan air mata yang mengalir. "Ya tuhan, tolong jagalah sahabatku lindungilah dia."
Defina berjalan menuju kamarnya, matanya menyapu setiap penjuru kamar, membayangkan disaat Nadya ada disana.
"Dulu aku selalu menunggu kedatangan Nadya kembali, aku tidak tahu sekarang Nadya akan kembali atau tidak, aku mohon Nadya setelah kembali datanglah kesini aku menunggu kehadiranmu." guman Defina sambil mengusap air matanya.
Defina mendekati meja belajar dan duduk di kursi, ia melihat foto-foto dirinya, Nadya dan juga Aeera disana.
Tangannya mengambil sebuah kertas yang dilipat lalu ia membukanya dan membaca isi kertas itu, beberapa menit kemudian ia terkejut dan dengan terburu-buru beranjak dari kursi dan pergi.
***
Tok... tok... tok
Angga yang berada didalam kamar kemudia keluar untuk melihat siapa yang mengetuk pintu, terlihat Defina yang masuk sambil menangis.
"Defina ada apa? apakah kau mengetahui kabar Nadya?" tanya Angga.
Defina menggelengkan kepalanya lalu ia memberi kertas yang tadi ia temukan itu kepada Angga, pemuda itu segera membacanya.
"Teman-teman maafkan aku, setelah kalian mengetahui kebenaran jika aku adalah seekor duyung aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya dari kalian. Beberapa hari ini seperti ada yang mengikutiku tapi aku tidak berani untuk melihatnya kebelakang, karena jika aku melihatnya aku akan mengetahuinya atau bahkan orang itu akan menyerangku, jika saja suatu hari aku akan kembali kelautan pasti akan terjadi sesuatu disana, aku dan semua keluarga istana mungkin akan kembali bertarung. Aku tidak tahu akan bisa kembali lagi kedaratan atau tidak, tapi jika tidak bisa aku minta maaf sebesar-besarnya terutama kepadamu Angga, maafkan aku yang telah membohongimu kau tahu aku tidak bisa selamanya ada disisimu karena aku adalah seekor duyung dan tempat asliku adalah lautan, sedangkan kau seoarang manusia dan asalmu adalah daratan, kita bagaikan minyak dan air yang tidak akan pernah menyatu sampai kapanpun, aku juga telah menyadari jika aku melanggar perjanjianku sebagai seorang duyung yang tidak akan pernah mencintai seorang manusia, aku harap setelah aku kembali kelautan kau bisa perlahan-lahan melupakanku dan hidup bahagia tanpaku, dan satu lagi harapanku saat didaratan, jika salju pertama kali turun aku berharap akan pergi ketempat dimana awal kita bertemu tapi itu sudah musnah, maafkan aku semuanya, aku mencintai kalian..."