
"Apakah benar firasatku berhubungan dengan kalung yang diberikan oleh Ibunda?" gumam Amanda kembali duduk disinggasananya.
Prajurit datang dan menunduk memveri hormat didepan Amanda, "Ratu pangeran Justine ingin bertemu,"
"Justine, suruh dia menghadapiku."
"Baiklah."
Beberapa menit kemudian Justine datang dan memberi hormat kepada Amanda, "Ada kau memanggilku untuk datang kelautan?" tanyanya.
"Aku kemari hanya ingin berbicara masalah yang begitu penting dan genting untuk kita semua, menyangkut Nadya"
"Nadya, apa yang akan terjadi dengan Nadya?"
"Waktu itu sebelum Ibundaku menghembuskan nafas terakhirnya beliau menyampaikan informasi jika tidak hanya ini saja kerajaan Mermaid tetapi ada dua, aku pun waktu itu sangat terkejut,"
"Lalu, bagaimana dimana kerajaan Mermaid itu?"
"Aku masih mencari tahunya, masalah yang pentingnya adalah kerajaan itu sedang mengincar kalung yang diberi oleh ibundaku."
"Kalung, apakah kalung yang saat ini sedang dipakai oleh Nadya?"
Amanda mengangguk, "Kalung itu bukan kalung sembarangan, jadi aku mohon tolong jaga Nadya kita masih belum tahu anggota kerajaan disana, aku akan lebih mengamankan kerajaan ini."
"Baiklah kalau begitu, aku pamit untuk kembali kedaratan." Justine kembali mengangguk dan pergi.
Sesampainya didaratan Justine masih memikirkan apa yang dibicarakan oleh Amanda, "Apakah kalung itu benar-benar berharga, jika memang aku akan mengambilnya tetapi kau harus berhati-hati Justine, Amanda sedang memperhatikan mu dikaca ajaib itu." gumamnya
***
Keesokan paginya Nadya, Aeera dan juga Defina sudah berada dikampus, saat memasuki kelas disana sudah ada Ji Hyun, Ye Jun dan lain-lainnya.
"Wah, disini sudah datang seorang Defina." seru Ji Hyun sambil menghampiri Defina.
"Apa?!" ketus Defina.
"Apakah kamu tahu kalau Zidan ada dirumah sakit?" tanya Ji Hyun.
"Tidak tahu dan tidak ingin tahu!" Defina berjalan melewati Ji Hyun yang menatapnya dengan senyuman yang menjengkelkan.
"Defina, Defina katanya kau dan Zidan sudah menjadi kekasih,"
Serentak semua wanita heboh, "Benarkah, Defina dan Zidan sudah berpacaran?" tanya Jeny salah satu murid dikelas.
"Wah... aku kurang Updete jadi tidak tahu jika Defina dan juga Zidan sudah berpacaran, tapi kira-kira Zidan sakit apa?" tanya Laila kekasih Ji Hyun.
Ji Hyun merangkul Laila, "Zidan sedang sakit demam, tidak parah sih tapi saat waktu itu dia malantur menyebut nama Defina..." katanya
Defina yang sedang duduk hanya diam saja tidak menganggapi ocehan semua murid yang ada dikelas.
Nadya yang penasaran ingin sekali bertanya tetapi melihat sahabatnya yang sedang kesal ia urungkan saja.
Ye Jun hanya diam saja mendengarkan ocehan musuh bebuyutannya ya, dengan cara apa lagi tidur dikelas.
Serentak semua siswa duduk dimeja masing-masing, "Astaga ada apa dengan kalian? tumben sekali saat aku datang sudah diam seperti ini biasanya mondar mandir kemana-mana,"
"Tidak pak, hari ini saya akan bertaubat." ucap Ji Hyun dengan percaya diri.
"Benarkah, apakah perlu bapak membuat peraturan baru untuk Ji Hyun?"
"Hah... i... itu tidak perlu pak,"
Guru Kang tersenyum ia kembali fokus kepada murid-murid, "Hari ini kita akan datang murid baru lagi,"
"Wawww..." Seru para siswa.
"Siapa pak, apakah perempuan atau laki-laki?" tanya Ji Hyun.
Laila yang ada disampingnya mencubit pinggang pemuda itu sehingga kesakitan, "Lihat saja, kau silahkan masuk."
Seorang wanita kemudian masuk kedalam kelas semua mata tertuju kepadanya, dengan senyuman yang percaya diri kini dia menundukkan kepalanya.
"Hallo, perkenalkan nama saya Areum," katanya dengan senyum yang terus mengembang.
"Senang bertemu dengan kali..."
Tatapannya tertuju kearah Nadya yang menatapnya dengan tajam, semua muridpun sama ia melihat apa yang sedang dilihat oleh Areum. "Ada apa ini?" tanya Laila.
Areum membuang muka ia kembali tersenyum, "Senang bertemu dengan kalian."
"Beri tepuk tangan untuk murid baru kita." semua murid bertempuk tangan menyambut kedatangan teman barunya.
"Baiklah, silahkan duduk."
Areum menganggukan kepalanya lalu duduk, "Baiklah kita mulai kembali pelajaran hari ini, dan kamu Ji Hyun mulai hari ini fokus belajar bukankan tadi bilang sudah bartaubat?"
Ji Hyun diam sesaat sebelum itu menempelkan kepalanya dimeja dan mulai menutup mata, Guru Kang hanya menggelengkan kepalanya.
"Tapi, dimana Angga kenapa dia tidak masuk?"
Nadya tersadar ia kemudian menatap kursi yang selalu diduduki oleh Angga tetapi sekarang kosong.
"Tidak tahu pak, Angga tidak memberi kabar." kata Jeny.
"Permisi pak." semua mata tertuju kearah Ye Jun yang sedang berdiri.
"Hmm..."
"Saya Izin ke Uks, saya tidak enak badan."
Belum sempat guru Kang berbicara Ye Jun sudah pergi duluan meninggalkan pelajaran. "Anak ini, sudahlah kita mulai pelajaran."