Mermaid Love Story (S1&S2)

Mermaid Love Story (S1&S2)
Terluka Parah~



Areum tersenyum mentah saat mendapati Nadya yang ternyata memegang tangannya, Aeera menatap kedua mata Nadya seperti ada kemarahan yang amat besar disana.


"Kau selalu menyusahkan ku saja!" kata Nadya dengan nada penekanan.


Bahkan semua murid yang berada dikelas melihat keributan yang sekarang semakin menjadi-jadi.


Areum mendorong tubuh Nadya hingga terbentur di tembok, Angga terkejut ia berusaha melerai kedua gadis itu tetapi usahanya sia-sia.


"Nadya, sudahlah lebih baik kau sudahi saja." ucap Angga khawatir.


"Tidak, dia sudah membuat sahabatku terluka parah dan aku akan membalasnya." kata Nadya tatapan tajam tertuju kearah Areum.


"Defina, aku melupakan Defina." Aeera berlari menuju taman untuk menemui sahabatnya.


Sedangkan Areum kini dia tersenyum miring saat mendapati kekhawatiran yang terukir jelas di raut wajah Nadya. "Jangan pernah berharap, mungkin kini sahabatmu terluka parah karena aku memakai kekuatan yang bisa membuat musuhku mati." bisik Areum ditelinga Nadya


Plak...


Nadya menampar pipi Areum sehingga suaranya pun nyaring disudut ruangan. Saat Areum ingin membalas Nadya Angga segera menghampirinya dan menarik tangan Areum.


"Kau berani ingin melukai Nadya?"


Areum terdiam, "Kau bahkan menjijikan sekali saat ini, aku kira kau orang baik ternyata tidak."


"Semua orang pasti berfikir jika kau adalah wanita polos, baik hati, dan ramah tetapi aku buang perkataan ku tadi kau kebalikan dari kata baik hati, sungguh menjijikan!" Angga menarik Nadya keluar dari kelas.


Sedangkan semua tatapan tertuju kearah Areum yang masih terdiam mencerna ucapan Angga.


"Benar kata Angga, kau terlalu menyedihkan." ucap salah satu murid.


"Aku akan mendukung Nadya, tidak mungkin juga aku mendukung seekor rubah sepertimu." sahut Jeny.


"Awas saja jika kau melukai Nadya, kau akan berurusan dengan kami!" Ancam Laila.


"Lebih baik kita lihat keadaan Defina, Nadya bilang dia sedang terluka parah." ajak Jeny dan Laila menyetujuinya.


Areum ia mengepalkan tangannya lalu ia pergi meninggalkan kelas dengan perasaan yang kesal, marah semua bersatu dihatinya.


"Awas saja kau Nadya, aku akan mempermalukan mu di semua orang seperti kau mempermalukanku."


Nadya terkejut saat melihat Defina sudah terluka parah bahkan kini Zidan sedang memeluknya.


"Nadya, apa yang terjadi dengan Defina?" tanyanya khawatir.


Nadya masih terdiam, "Luka Defina memang serius, bahkan jika kekuatan Areum mengenai jantung Defina itu akan membuat dia semakin lemah bahkan...."


"Lebih baik aku bawa Defina pulang saja, aku akan mengobatinya."


"Baiklah."


"Tetapi Zidan, aku mohon lebih baik kau tidak boleh ikut karena..."


"Zidan, lebih baik kau dengarkan apa yang dikatakan Nadya sudah tidak ada waktu lagi, Defina harus segera disembuhkan." kata Angga mencoba membantu Nadya.


"Sini lebih baik aku menggendong Defina." Angga mengangkat tubuh Defina lalu pergi meninggalkan kampus.


***


Angga dengan perlahan meletakan tubuh Defina diatas kasur kini kondisi gadis itu benar-benar sangat mengkhawatirkan bahkan seluruh tubuhnya sudah pucat dan terasa dingin.


Nadya mondar-mandir diruang keluarga terlihat Angga yang baru saja keluar dari kamar Defina kini menghampiri Nadya.


"Ya, sekarang kita harus melakukan apa?" tanya Angga.


"Entahlah, aku harus pergi kelautan dan meminta bantuan kepada kak Amanda."


"Benar ya, kita harus meminta bantuan kepada kak Amanda."


"Nadya..." semua orang melirik keasal suara dan terdapat Alsafa ditengah pintu.


"Al, kamu ada disini?"


Alsafa mengangguk, "Ada apa? apakah istana baik-baik saja?" tanya Aeera.


"Itu masalahnya, kak Amanda merasakan firasat buruk yang akan terjadi kepada istana."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan Defina sekarang sedang terluka parah."


"Defina terluka? apa yang terjadi kepada kalian."


"Panjang ceritanya dan aku akan meminta bantuan kepada kak Amanda sekarang."


"Aku akan melihat Defina."


Alsafa berlari kecil menuju kamar Defina dan benar saja terlihat disana Defina sedang terbaring lemas.


Alsafa mencoba memejamkan mata agar ia dapat mersakan kekuatan apa yang telah membuat Defina seperti ini.


Beberapa menit kemudia ia membuka mata dan menatap Nadya, "Ya lebih baik kamu segera kelaut meminta bantuan kepada kak Amanda."


"Baiklah, sekarang aku akan kesana."


"Ya aku ikut,"


"Aeera, lebih baik kamu disini saja temani Defina."


"Tidak apa-apa ya, Defina aku yang menjaganya." sahut Angga


Nadya tersenyum bangga lalu pergi menuju lautan, meminta bantuan kepada Amanda.