Mermaid Love Story (S1&S2)

Mermaid Love Story (S1&S2)
Kesedihan Yang Mendalam~



Ternyata Aeera sejak mendengar suara Nadya didepan rumah, ia memutuskan untuk menguping obrolan mereka berdua.


Nadya membuka pintu dan mendapatkan Aeera sudah ada disana, "Ya kamu habis dari mana?" tanya Aeera.


"Aku habis jalan sama Angga, ouh ya kamu udah berendam?" tanya Nadya karena melihat rambut Aeera yang basah.


Gadis itu mengangguk lalu ia menggiring Nadya menuju meja makan, Aeera membuatkan Nadya es teh manis setelah selesai ia memberikannya kepada Nadya.


"Makasih." ucap Nadya lalu meminum air teh manis itu sedikit-sedikit.


"Kamu pasti masih kepikiran ya pertanyaan Angga tadi?" tanya Aeera.


Nadya hanya terdiam. "Ya aku tahu kamu berubah kayak gini karena kepergian ratu Hanna, kamu pasti masih sedihkan?"


Nadya masih saja terdiam dengan tatapan yang mengarah entah kemana, "Tapi ya jangan buat Angga itu penasaran dengan sikap kamu yang berubah ini, yang tiba-tiba jadi dingin mungkin Angga ingin Nadya yang dulu lagi." Aeera menepuk pundak Nadya dengan lembut.


"Dari dulu aku memang sudah ngedukung kamu dengan Angga, walaupun kalian beda alam kamu hidup di air dan Angga hidup didaratan. Tapi percayalah ya kamu masih bisa hidup didaratan walaupun kamu harus kembali kelautan."


Buliran air mata lolos jatuh dari pelupuk Nadya ia langsung memeluk sahabatnya dengan begitu erat.


"Tapi aku gak cocok banget buat Angga," lirih Nadya.


"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, kamu cocok kok buat Angga dan aku pasti akan selalu ngedukung kamu dan membantu kamu." kata Aeera sambil menghapus buliran air mata yang sudah membasahi pipi Nadya.


"Makasih Aeera, seenggaknya aku udah tenang."


Aeera mengangguk lalu ia kembali memeluk Nadya dan menepuk-nepuk punggung Nadya dengan begitu lembut.


***


Keesokannya Aeera dan Angga sudah berada ditaman kampus, Angga sengaja ingin mengobrol hanya empat mata dengan Aeera.


"Ada apa Angga? apakah kamu mau menyakan sesuatu?" tanya Aeera dan diangguki oleh Angga.


"Aku mau nanya..."


"Pasti kamu mau nanya kenapa sikap Nadya berubah iya kan?" tebak Aeera dan diangguki oleh Angga.


"Angga, mungkin kamu aneh dengan sikap Nadya yang sekarang tapi... memang Nadya sudah berubah sekarang dan apakah kamu tahu penyebabnya?"


"Aku tahu, pasti karena Marcell kan bukankah Nadya dan Marcell saat itu dijodohkan, Nadya pasti sedih karena kepergian Marcellkan?"


Aeera menggelengkan kepalanya, "Bukan itu sikap Nadya berubah karena kepergian ratu Hanna, dia masih belum sepenuhnya membiarkan ratu Hanna untuk pergi selama-lamanya..." kata Aeera.


"Kepergian ratu Hanna?"


Aeera mengangguk. "Saat itu Nadya melihat langsung bagaimana ratu Hanna pergi meninggalkannya, bahkan masih ada luka yang membekas dihati Nadya."


"Lalu?"


"Aku harap kamu membantu Nadya, dia juga sedang pusing memikirkan bagaimana cara melindungi istananya dari kehancuran lagi."


"Kehancuran? maksud kamu Aeera aku gak ngerti?"


"Benarkah? apakah kamu bisa mengatakan siapa dia?" tanya Angga.


Aeera menggelengkan kepalanya, "Aku masih belum bisa mengatakannya kepadamu, yang pasti suatu hari nanti kamu juga akan tahu dan pasti akan terjadi lagi kejadian empat tahun silam."


"Tidak, aku tidak ingin Nadya meninggalkanku lagi."


"Aeera! itu Nadya sama Areum bertengkar!" teriak Jeny salah satu teman sekelasnya.


"Bertengkar?" Aeera.


"Bagaimana bisa?" Angga.


Mereka bertiga berlari menuju kelas dan benar saja terlihat Nadya yang sedang menjambak Areum dan tentu saja tatapan tajam yang mengarah kepada gadis itu.


"Kau, selalu saja menggangguku apakah kau lupa siapa aku sebenarnya?!"


"Tentu saja aku tidak lupa kau adalah seekor Me..." belum sempat berbicara Nadya sudah menarik rambut Areum dengan begitu kencang sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Kau apakah kau ingin mengatakan kepada semua irang yang disini tentang identitasku yang sebernya? jangan pernah berharap!"


Nadya melepaskan rambut Areum tetapi tatapan tajamnya masih tertuju kearah Areum, gadis itu sengaja memancing emosi Nadya bahkan tatapannya terlihat menantang.


"Aishh.... kenapa tidak sekalian tampar saja!" gumam Ji Hyun sehingga mendapat cubitan dafi Defina.


Ye Jun dan yang lainnya hanya bisa melihat keributan yang terjadi dikelas, bahkan sepertinya keributan itu bahan dari hiburan mereka.


Tidak ada yang berani memisahkan mereka berdua karena melihat Nadya yang sepertinya sudah terbakar emosi.


Nadya maju satu langkah mendekati Areum yang sepertinya sama sekali tidak ketahuan, Angga dan Aeera seperti sudah khawatir akan terjadi kejadian yang tidak diinginkan.


"Nadya, (Tersenyum licik) sepertinya kau tidak tahu dan tidak merasakan jika kekuatanku lebih besar daripada kekuatan milikmu yang tidak ada bandingannya sama sekali!" bisik Areum ditelinga Nadya.


"Apakah kau ingin melihat aku menyakiti orang yang kau cintai itu," tatapannya tertuju kearah Angga.


Tangan Nadya sudah mulai terkepal ia ingin sekali menampar gadis yang ada dihadapannya tetapi ia urungkan.


"Lihat saja jika kau menyentuhnya atau bahkan menyakitinya aku tidak akan tinggal diam!"


"Benarkah? sepertinya permainan ini akan seru sekali."


"Kau sepertinya tidak ada takut sama sekali! lihatlah aku akan melakukan hal yang lebih dari ini!" teriak Nadya.


Sudah ada segumpalan cahaya ditelak tangan Nadya dengan segera ia mengarahkannya keperut Areum sehingga membuat gadis itu mendelik merasakan sakit yang begitu luar biasa.


"Kau!" Areum memegang perutnya.


Nadya tersenyum penuh kemenangan. "Sana! mintalah bantuan kepada ibundamu!"


Nadya meninggalkan kelas yang kini semua murid sedang bingung apa yang terjadi dengan Areum bahkan mereka sama sekali tidak melihat Nadya melakukan hal diluar batasnya.


Ye Jun dan juga Angga pun keluar kelas untuk menyusul Nadya.