
"Maaf, aku harus kembali ke kelas." ucap Areum lalu beranjak pergi.
Nadya hanya menatapnya dengan dingin, Andra pun sama ia berpamitan untuk kembali kekelas karena tugas yang sudah menumpuk.
"Ya, aku perhatiin kamu kayak gak suka sama anak murid itu?" tanya Defina.
Nadya meletakan sumpit lalu menghela nafas, "Entahlah, tapi aku merasa energi dia sama seperti aku tetapi energi dia begitu kuat, dan entah kenapa sepertinya aku memiliki firasat yang buruk." kata Nadya
"Tanda apa itu Nadya?" tanya Defina menunjuk kearah leher Nadya.
Nadya mengusap lehernya, "Aku tidak tahu, aku akan melihatnya ditoilet,"
"Aku ikut!" seru Defina dan Aeera bersamaan.
Ditoilet Nadya, Aeera dan juga Defina kini sedang berhadapan dengan cermin, Nadya mulai melihat lehernya yang katanya ada sebuah tanda.
Dan benar saja Nadya terkejut saat melihat sebuah tanda seperti sisik diantara sela-sela lehernya.
"Sisik? Kenapa sisik ini muncul dileher?" gumam Nadya yang masih bisa didengar oleh Defina dan juga Aeera.
Aeera penasaran iapun mencoba melihat lehernya Apakah ada tanda yang sama seperti Nadya.
Dan benar saja Aeera juga memiliki tanda itu, "Sebenarnya tanda ini... Ya lebih baik kita cari tahu tanda ini atau kita bertanya saja kepada kak Amanda,"
Nadya mengangguk, "Sepulang dari kampus kita akan pergi kelautan."
Bel berbunyi Nadya, Aeera dan juga Defina kembali ke kelas untuk memulai pelajaran, Nadya duduk dikursinya tatapannya tertuju tajam kearah Areum yang sama menatapnya.
Guru Kang masuk kedalam kelas, ia meletakan buku-bukunya dimeja. "Dimana Ye Jun?" tanyanya karena melihat mejanya yang kosong.
"Ah... Seperti biasa pak, pasti dia sedang berada di UKS." seru Ji Hyun
Guru Kang menggelengkan kepalanya lalu fokus memulai pelajaran.
***
Setelah jam pelajaran selesai, semua siswa berbondong-bondong untuk kembali kerumah masing-masing. Nadya dan Aeera mereka berdua kembali kelautan untuk menanyakan tanda yang ada dilehernya.
Sedangkan Defina ia izin tidak ikut dengan Nadya dan juga Aeera dikarenakan ada urusan mendadak.
Aeera dan juga Nadya sudah berada dipantai mereka berdua berjalan perlahan agar air mengenai kakinya.
Sedangkan disisi lain Angga pun sama, ia tidak sengaja melihat seseorang yang tidak lain adalah Nadya dan juga Aeera.
"Siapa itu? dilihat dari punggungnya kayaknya aku kenal mereka berdua."
Betapa terkejutnya Angga saat melihat kedua wanita itu berubah menjadi seorang Mermaid, dan tak lama Nadya dan juga Aeera berenang menuju tengah lautan.
"Mermaid? tapi..."
Tiba-tiba saja ingatan gadis itu kembali muncul Angga memegang kepalanya yang kesakitan.
Angga mengerjapkan kedua matanya, ya ia ingat semuanya tapi tidak semuanya. "Jadi Mermaid itu..."
***
Defina masuk kedalam ruangan yang sudah diberi tahu oleh recepcionis jika Zidan sedang dirawat diruangan itu.
Defina mengumpulkan keberaniannya untuk menemui Zidan, "Astaga kenapa aku menjadi gugup seperti ini?" gumamnya.
Perlahan Defina membuka pintu lalu masuk kedalam ia melihat Zidan yang sedang tertidur dengan selang infus yang menempel ditangannya.
Defina berdehem agar Zidan terbangun, dan benar saja kedua matanya terbuka dan ia langsung menatap kearah Defina.
"Def, kamu kesini? kirain aku kamu cuman bercanda." seru Zidan sambil berusaha untuk duduk.
Defina membantunya untuk duduk, "Iya aku kesini ngejenguk kamu, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Defina.
"Aku baik-baik aja, besok juga aku udah dibolehin pulang kok." katanya
Defina mengangguk, "Kenapa?" tanya Zidan.
"Hah?"
Zidan tersenyum. "Kenapa muka kamu cemberut kayak gitu?"
"En.. engga!" ketus Defina.
"Aku cuman bercanda." katanya sambil cekikikan.
Defina memanyunkan bibirnya, Zidan begitu gemas saat melihatnya. "Zidan, pasti kamu sakit gara-gara aku ya?"
Zidan menggelengkan kepalanya, "Bohong, kamu waktu itu semalaman hujan-hujanan sambil nunggu aku didepan rumah, kamu itu kata aku pulang ya pulang kenapa kamu keras kepala sih? kan sekarang jadinya kamu sa..."
Ucapan Defina terpotong saat jari telunjuk Zidan berada dibibirnya. "Kamu kenapa khawatir? waktu itu juga kamu nolak aku..."
"Bu... bukan," lagi-lagi ucapan Defina terpotong.
"Kalau kamu nolak aku, kenapa kamu selalu deketin aku def? aku mohon jauhin aku agar aku gak menyalah artikan keberadaan kamu." ucap Zidan dengan mata yang sudah memanas.
"Aku bukannya nolak aku, tapi aku butuh waktu."
Saat mendengar itu entah kenapa hati Zidan seperti berbunga-bunga sepertinya gadis yang ia cintai sejak smp itu akan membalas cintanya yang selama ini bertepuk sebelah kanan.
"Ma.. maksud kamu?"
"Gara-gara kamu selalu ganggu aku terus entah kenapa saat kamu gak ada disekitar aku, aku selalu kesepian dan aku selalu membuang perasaan kalau sebenarnya aku juga suka sama kamu."
"Ja... jadi"
Defina mengangguk dengan senyumannya yang mengembang.