
Saat yang lainnya berada di kantin kampus, Nadya mampir ke kelas untuk mengambil handphonenya yang ketinggalan.
Saat memutarkan badannya mata ekornya tidak sengaja melihat tas Areum yang terbuka, mengingat apa yang terjadi di istana Mermaid Nadya dengan kecurigaannya mencoba menggeledah tas Areum.
Beberapa menit berlalu, Nadya tidak menemukan apa yang ia cari tetapi saat ia hendak berdiri ia terkejut saat melihat sebuah botol yang berada di kolong meja.
Dengan gemetar Nadya membawanya dan memperhatikan isi dari botol itu, matanya membulat saat Nadya mengetahui jika isi dalam botol itu sama persis seperti serbuk yang diberikan oleh tabib istana.
Nadya segera kembali ke kantin untuk memberitahu kepada Aeera dan juga Defina. "Aeera, Defina lihat apa yang aku temukan di kolong meja perempuan licik itu."
"Apa ya?" tanya Defina penasaran.
Nadya memperlihatkan botol itu kepada Aeera, gadis itu terkejut membulatkan matanya. "Ya bagaimana bisa Areum memiliki botol ini?" tanya Aeera tidak percaya.
"Tentu saja bisa, jika dia adalah pelakunya..."
"Nadya, dan sekarang kita harus melakukan apa?" tanya Defina.
"Aku akan memberikannya pelajaran, kita tunggu dia nanti saat pulang."
Aeera dan Defina menganggukan kepalanya menyetujui rencana Nadya. Tiba-tiba saja Ji Hyun dan juga Zidan datang.
"Hay." sapa Ji Hyun
"Ada apa ini? kenapa kalian..."
"Ouh tidak apa-apa, hanya saja tadi kita membicarakan alur cerita drama korea yang menguras emosi kita." kata Aeera
"Benarkah?"
Nadya mengangguk sambil tersenyum. "Ouh iya Aeera, nanti malam apakah kau ada waktu?" tanya Zidan.
"Waktu? sepertinya tidak ada apa?"
"Aku tunggu kau di cafe A"
"Untuk apa?"
"Nanti kau juga tau, ouh iya Nadya dan Defina juga boleh ikut." kata Zidan sambil mengedipkan satu matanya kearah Defina sehingga membuat gadis itu salah tingkah.
"Baiklah."
"Zidan, semoga saja rencana kita berhasil..." bisik Ji Hyun.
"Rencana? apa yang kalian rencanakan?"
"Ouh... itu, tidak apa-apa pokoknya kau harus berdandan semaksimal mungkin oke?"
"Hmm..."
***
Di dalam kelas guru Kang sedang mengajar sedangkan Areum ia mencoba meraba kolong bangkunya, betapa terkejutnya ia saat tidak mendapati botol yang ia simpan tadi.
Ia menundukan kepalanya melihat ke kolong meja dan benar saja tidak ada apa-apa disana, hanya ada tumpukan buku yang ia simpan.
Areum melihat Nadya yang santainya menulis tanpa memperdulikan sekitar. "Aku yakin, pasti perempuan sial*an itu yang telah mengambilnya..." Areum mengepalkan telapak tangannya menahan amarah.
Setelah semua pelajaran sudah selesai Nadya, Aeera, dan juga Defina menunggu di jalan yang biasa di lewati oleh Areum.
"Biarkan apa yang akan dia lakukan, aku tidak akan takut dengannya." kata Nadya dingin
"Benar, aku sungguh tidak menyukainya." kata Aeera.
Beberapa menit kemudian Nadya melihat Areum dengan segera ia menghampirinya dengan tangan yang melipat.
"Kau..."
"Kita bertemu kembali..." kata Nadya sambil tersenyum miring.
Tak disangka Ye Jun pun melewati jalan itu, saat melihat Nadya dan teman sekelasnya ia bersembunyi di balik pohon karena penasaran apa yang akan mereka bicarakan.
"Aku ingin bertanya apakah kau yang telah mengambil botol ku?" tanya Areum langsung.
"Botol? apakah yang kau maksud ini?" Nadya memperlihatkan botol itu saat tangan Areum hendak mengambilnya dengan segera Nadya menyimpannya kembali di saku.
"Kau tidak akam bisa mengambilnya dariku, semua sudah ada bukti dan tunggulah para prajurit dari istanaku akan menemui ibundamu."
Areum tersenyum miring, "Silahkan... aku tidak takut dengan ancaman mu! sudah sepenatasnya kau menerima itu..."
Nadya mendorong Areum sehingga gadis itu mundur kebelakang. "Kau pikir apa yang kau lakukan itu bisa membuatmu senang hah?! lihat saja aku akan membalasnya lebih dari apa yang kau lakukan terhadap keluarga istanaku!" Ancam Nadya.
"Silahkan jika kau ingin mengeluarkan kekuatanmu itu, ingat itu tidak ada tandingannya sama sekali denganku!" ucap Nadya lalu mereka bertiga pergi meninggalkan Areum.
Areum mengepalkan tangannya, emosinya sudah memuncak ia pun berteriak dan mengeluarkan kekuatannya dan mengarahkannya kearah batu.
Ye Jun terkejut dengan apa yang ia lihat, "Istana? Prajurit?"
Langkahnya mengajak untuk mendekati Areum, Ye Jun menepuk pundak gadis itu.
"Ye Jun?"
Raut wajah Areum terlihat khawatir, apakah pemuda yang ada dihadapannya ini sudah mengetahuinya pikirnya.
Ye Jun tersenyum tipis, "Jangan terkejut dengan apa yang aku ucapkan ini, aku selalu melihat kau bertengkar dengan Nadya, tapi setelah yang aku tadi lihat, kau sangat pantas untuk mendapati hukuman."
"Kau, kau tau apa masalahku dengan Nadya hah?!"
"Aku memang tidak begitu tahu apa masalah kalian, tapi disisi lain aku akan mendukung Nadya."
"Apakah kau tahu identitas Nadya sebenarnya?" tanya Areum sambil tersenyum lirih.
Ye Jun terdiam. "Asal kau tahu saja, Nadya bukanlah manusia tetapi dia adalah makhluk yang berada di dua alam, Air dan daratan." Areum membalikan badannya tapi langkahnya terhenti saat mendapati jawaban dari Ye Jun.
"Apakah kau maksud Nadya adalah Mermaid?"
Areum terdiam, "Aku tidak peduli dengan identitas Nadya yang sebenarnya... Aku tahu jika kau adalah seekor Mermaid juga."
Areum tersenyum miring, ia tidak menyangka akan mendapati jawaban yang keluar dari mulut Ye Jun.
"Jadi kau harus berhati-hatilah dengannya, terutama denganku!"
"Kau juga harus berhati-hatilah dengan manusia, karena manusia lebih pintar daripada kau! kau bisa saja menyakiti Nadya tapi ingat akan ada penyesalan!"
Ye Jun tersenyum puas lalu ia pergi meninggalkan Areum yang tersenyum mentah.