Mermaid Love Story (S1&S2)

Mermaid Love Story (S1&S2)
Seberapa Dekat Kau Dengan Nadya?~



Angga melihat Nadya yang pergi entah kemana meninggalkan kantin, "Benarkan kataku? Aku aneh sekali dengan sikap Nadya padahal dia dan juga Areum tidak saling kenal, menurutku..."


"Mungkin Nadya sedang ada masalah." potong Angga.


"Benarkah? Angga sebenarnya kau seberapa dekat dengan Nadya?" tanya Ji Hyun.


Angga tanpa menjawab lalu pergi untuk menyusul Nadya, Sesampainya didepan kelas Nadya langkahnya terhenti saat mendengar namanya dipanggil.


"Angga."


Angga menoleh kearah asal suara ternyata itu adalah Areum, gadis itu kemudian menghampiri Angga dengan senyumannya yang mengembang.


"Ada apa?"


"Em... apakah kita bisa berbicara berdua saja?"


Angga terdiam sejenak tak lama kemudian ia mengganggukan kepalanya. "Baiklah, lebih baik kita berbicara ditaman kampus saja." kata Angga.


Lalu mereka berdua berjalan menuju taman, sedangkan Nadya ia terpaku saat mendengar percakapan antara Angga dan juga Areum.


"Apakah Areum sama sepertiku, jika bukan kenapa ia memiliki tanda yang sama?"


Ditaman Areum dan Angga duduk dibangku, mereka berdua hanya terdiam melihat kerumunan siswa yang berlalu lalang disana.


"Ehemm.." Angga berdehem untuk mencairkan susana yang sempat menegang.


Areum lalu menghela nafas panjang. "Em... Angga apakah aku boleh bertanya?"


"Hmm.."


"Sebenarnya seberapa dekat kau dengan Nadya?" tanya Areum.


Angga lalu menatap Areum yang sama-sama menatapnya, "Ak... aku sudah kenal Nadya empat tahun yang lalu, kami sangat dekat sejak smp tapi... waktu itu kami berpisah selama empat tahun dan untung saja tuhan sangat baik sekali, Akhirnya aku dipertemukan lagi dengan Nadya."


"Berpisah? selama itukah? tapi aku penasaran kalian berpisah karena apa?" tanya Areum.


Angga terdiam lalu ia menjawab, "Tidak hanya saja Nadya mempunyai keperluan lain maka dari itu kami berpisah."


Areum mengangguk-angguk, "Emm... apakah kau merahasiakan sesuatu, misalnya tentang identitas Nadya?" tanyanya dengan ragu.


Angga mengerutkan keningnya ia berpikir kenapa Areum anak baru yang baru saja pindah kekampusnya menanyakan hal itu.


"Em.. maaf jika pertanyaanku membuat kamu bingung tapi, aku aneh saja kenapa..."


"Aku tidak menyembunyikan apa-apa, lebih baik aku kembali ke kelas." ucapnya lalu beranjak dan oergi meninggalkan Areum yang sedang menatap kepergian Angga.


"Tidak salah lagi, Angga tidak ingin memberitahuku identitas Nadya." gumamnya dengan senyuman liciknya.


Dipinggir pantai Alsafa sedang berjemur untuk mengeringkan ekornya, beberapa menit kemudian yang semulanya ekor kini berubah menjadi kaki.


"Aduh... aku harus mencari Nadya kemana? aku sudah lupa lagi jalan menuju rumah Defina, inilah karena kau tidak pernah kembali kedaratan." gumamnya sambil menepuk kening


Alsafa berjalan dipinggiran pantai dengan kepala yang celingukan, "Aduh kak Amanda kenapa gak panggil Nadya aja sih." rengek Alsafa seperti anak kecil.


"Maaf, tadi aku berjalan sambil menunduk."


Saat hendak berbalik badan orang itu mencegahnya. "Tunggu!"


Alsafa kembali menoleh kearah orang itu, "Bukannya kamu Alsafa ya, temannya Nadya?" tanya orang itu.


Alsafa mengerutkan keningnya ia bingung kenapa ada manusia yang mengenalinya padahal ia baru kembali pertma kali kedaratan hari ini.


"Ka... kamu siapa?" tanyanya


"Kamu gak kenal aku, aku Adit sahabat Angga." ucap orang itu sambil menunjuk diri sendiri.


"Aditt..." Alsafa terdima sejenak mencoba mengingat kembali.


"Ouh iya Adit waktu itu kita satu smp kan?"


"Iya, akhirnya kamu masih inget sama aku. Btw kamu mau kemana?"


"Em... aku mau nyari Nadya,"


"Nadya? emangnya kalian gak bareng lagi?"


"Bukan gitu, aku masih tinggal di lau... maksudku di kampung membantu kak Amanda sedangkan Nadya dan Aeera kembali kesini untuk bertemu dengan Defina."


"Ouh."


"Aku lupa lagi rumah Defina," ucap Alsafa sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Yaudah kalau gitu, ayo aku anter sekalian aku mau pulang."


Alsafa mengangguk lalu berjalan mengikuti Adit, tetapi baru saja beberapa langkah Adit menghentikan langkahnya sehingga membuat Alsafa menabrak punggung lebar pemuda itu.


"Aduh..." Pekik Alsafa sambil memegang hidungnya yang sakit.


"Ma.. maaf, apakah kau terluka?" tanya Adit.


"Ini hidungku sakit!"


"Maaf," Adit menundukan kepalanya agar bisa melihat jelas apakah ada luka di wajah Alsafa.


"Tidak, kau tidak kenapa-napa."


Alsafa dan juga Adit baru tersadar jika jarak mereka sekarang sakat dekat bahkan pemuda itu bisa mendengar suara nafas Alsafa.


"Aduh, kenapa aku jadi gugup kayak gini ya." gumam Alsafa.


Adit dengan cepat memundurkan kepalanya menjauh dari Alsafa. "Ma... maaf, bagaimana kalau kita minum kelapa dulu? aku haus sekali." kata Adit.


Alsafa tanpa pikir panjang mengiyakan ucapan Adit, pemuda itu kemudian mengajak Alsafa untuk mampir disalah satu warung di pinggir lautan.