
Pelajaran kembali dimulai, tetapi Nadya masih memikirkan kasus kematian Justine ia melihat kebelakang dan menatap Areum, gadis itu menyadari jika ada yang memperhatikannya.
Setelah selesai Nadya, Aeera dan juga Defina memutuskan untuk pergi kesebuah caffe dan Alsafa juga ada disana.
Nadya meminum air yang tadi ia pesan, "Tunggu apakah kalian percaya jika kekuatan Justine juga diambil oleh pembunuhnya?" tanya Alsafa sehingga membuat ketiga gadis disana terkejut.
Nadya meletakan gelas ke meja dan menatap Alsafa penuh keraguan. "Apa maksudmu? apakah kau pikir yang telah membunuh Justine sama seperti kita?"
Alsafa menganggukan kepalanya perlahan sambil menghela nafas. "Sebelum jasad Justine dikuburkan, kak Amanda lebih dulu memeriksanya dan mendapati jika kekuatan Justine telah habis terserap bahkan seluruh kekuatannya." jelas Alsafa
Nadya terdiam tidak percaya, "T-tapi siapakah orang itu?" tanya Nadya bergumam.
"Kita harus lebih berhati-hati, aku yakin pasti orang itu sedang mengincar kalung kmu Nadya, kau tidak boleh lengah, kau harus selalu menjaga kalung itu itu bukan kalung biasa, itu adalah kalung keturunan kerajaan kita." kata Aeera dan diangguki oleh Nadya.
***
Nadya berpamitan untuk pergi ke toilet, disana ia berdiri didepan cermin.
"Aku sungguh lelah sekali, menghadapi situasi seperti ini tapi bagaimana lagi aku tidak ingin membuat semua keluarga kerajaan kecewa, aku harus semangat, semangat Nadya!" gumam Nadya sambik tersenyum.
Setelah itu Nadya membersihkan tangannya dan keluar dari toilet, saat hendak menghampiri mejanya ia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Ahh.. maafkan aku, aku tidak sengaja." ucap Nadya sambil membungkukan badannya tapi matanya tidak sengaja melihat sebuah tanda yang sama di leher pemuda itu.
Saat menyadarinya, pemuda itu langsung menutupinya dan membungkukan badannya, "Tidak apa-apa." ucapnya sambil membenarkan topi lalu pergi meninggalkan caffe itu.
"Tu-tung..."
"Nadya, kemarilah!" teriak Defina.
Nadya langsung menghampiri mejanya dan duduk disebelah Aeera, mereka kembali mengobrol membicarakan hal-hal yang didaratan dan juga dilautan.
Setelah puas mereka kembali pulang kerumah,kini Alsafa menginap satu malam dirumah, gadis itu sungguh merindukan suasana berkumpul bersama sahabatnya.
"Akhirnya kita bisa berkumpul lagi, aku sungguh merindukan kalian em.. aku juga sungguh rindu sekolah." kata Alsafa
Nadya tersenyum sambil berjalan kedapur, "Bahkan aku merindukan lautan kali ini." ucapnya sambil membawa minum didalam kulkas lalu meneguknya.
"Benarkah, jika begitu datanglah kalau ada waktu, seluruh keluarga istana merindukanmu Nadya,"
"Apakah hanya Nadya?" tanya Aeera sambil memanyunkan bibirnya dan hal itu membuat Alsafa tertawa.
"Tentu saja kau Aeera, meraka merindukan tingkah kekanak-kanakanmu." ucapnya sambil tertawa karena melihat reaksi Aeera yang kesal.
"Kenapa, kekanak-kanakan?" Aeera bertanya sambil tertawa lalu ia menghampiri Alsafa yang berbarin diatas sofa.
"Mereka tidak tahu saja, bahkan aku bersikap lebih dewasa dari mereka awas saja jika aku bertemu dengan mereka." ucap Aeera dengan begitu gemas.
"Nadyaa..." rengek Aeera seperti anak kecil sambil memajukan bibirnya kedepan.
Defina menghampiri Nadya dan tersenyum misterius, Nadya yang melihatnya bingung dan penasaran. "Ada apa kenapa kau menatap dan tersenyum seperti itu kepadaku?" tanya Nadya.
"Kau ditunggu seseorang didepan, cepat Nadya dia sedang menunggumu," kata Defina.
"Siapa orang itu?" tanya Aeera ikut penasaran.
Defina hanya mengangkat kedua alisnya, tanpa lama-lama Nadya berjalan keluar untuk menemui orang yang dimaksud oleh Defina.
Saat Angga melihat Nadya keluar dan menghampirinya, pemuda itu tersenyum dan menatap hangat Nadya. "Ternyata kamu Angga, aku kira siapa yang datang malam-malam seperti ini" kata Nadya sambil menutup gerbang ia melihat Angga menghampirinya.
"Emm.. ya, apakah aku menganggu waktumu?" tanya Angga.
Nadya menggelengkan kepalanya, "aku datang kemari karena.. aku ingin jalan-jalan bersamamu, bisakah kau menemaniku?"
Nadya tersenyum tipis lalu ia menganggukan kepalanya pelan, "tunggu aku akan memgambil tasku dulu."
Angga dengan cepat menarik tangan Nadya, "itu tidak perlu." katanya sambil tersenyum dan Nadya pun membalas senyuman itu.
***
Sesampainya meraka didepan super market, mereka berdua membeli dua ramen dan minuman soda, mereka menikmatinya didepan super market.
"Udara hari ini sangat segar." ucap Nadya lalu kembali melanjutkan makan.
Angga mengangguk setuju, ia melihat Nadya yang lahap memakan ramen tersebut ia tersenyum tipis melihatnya.
Sedangkan disisi lain Ye Jun yang berjalan menuju mereka langkahnya terhenti saat mengenali sosok gadis yang ada dihadapannya, ia memiringkan kepalanya sambil berjalan nenuju sosok gadis itu.
"Wahh ternyata kau benar Nadya, sedang apa kau disini dan ini..." Ye Jun menunjuk kearah Angga tatapannya berubah malas ia memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kenapa aku harus menemuinya."
"Ye Jun kau dari mana?" Nadya melihat kantong kresek yang dipegang Ye Jun.
Pemuda itu menyodorkan kantong kresek kepada Nadya, "Aku sudah membeli ini, tunggu..." Ye Jun melihat kearah ramen yang Nadya makan ia menatap Angga yang juga menatapnya dengan kesal, pemuda itu menyimpan kantong kreseknya dimeja lalu masuk kedalam super market.
Tak lama kemudia Ye Jun keluar sambil membawa ramen ditangannya, lalu ia duduk diantara Nadya dan juga Angga.
"Aku akan ikut makan bersama kalian, ayo kalian berdua lanjutkan makan." katanya sambil menatap Nadya dan Angga bersamaan.
Dengan sedikit kesal Angga kembali melanjutkan makan, Ye Jun tersenyum tipis seolah-olah dia berhasil mengerjai Angga.