
Defina dan Zidan kini berada dicaffe, gadis itu memesan coffe latte untuk Zidan sedangkan Milkshake untuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang dengan membawa pesannta tadi lalu meletakannya dihadapan Defina dan Zidan.
"Silahkan..." ucap pelayan itu.
"Terima kasih." ucap Defina sambil tersenyum
Pelayan itu lalu kembali sedangkan Defina ia mengaduk-aduk lalu meminum Milkshakenya, Dari tadi Zidan selalu memperhatikan Defina ia tidak menyangka jika cinta terbalaskan juga.
"Def, aku gak nyangka kamu bakal balas cinta aku, dari dulu loh aku suka kamu. Aku berusaha cari perhatian ke kamu tapi kamu malah cuek aja hehe..."
Defina terdiam sejenak. "Maaf ya jika sikap aku dulu malah bikin kamu sakit," ucap Defina tulus.
"Gak kok, malahan aku saking semangatnya buat dapetin cinta kamu, perhatian kamu aku malah jadi lupa diri sendiri." kata Zidan sambil tertawa.
"Kamu..." Zidan menempelkan jari telunjuknya dibibir Defina lalu ia mendekat menggeser kursinya tepat disamping Defina.
"Aku punya sesuatu buat kamu,"
"Apa?" tanya Defina penasaran.
Zidan mengambil kalung yang ada tanda hati disana lalu ia melihatkannya kepada Defina, gadis itu terkejut melihatnya. "Zidan kamu beli ini buat aku?" tanya Defina tidak percaya.
"Kata siapa, aku cuman nunjukin ini ke kamu soalnya aku mau ngasih ini ke mamah aku." kata Zidan dengan tersenyum jail.
Defina memanyunkan bibirnya lalu ia mencubit pinggang Zidan sehingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Yabuat kamu lah, sini aku pakein."
Zidan memakaikan kalung itu dileher Defina setelahnya ia menatap gadis pujaannya itu dengan mata yang berbinar-binar.
"Cantik." ucap Zidan membuat gadis dihadapannya itu tersipu malu.
"Bukan kamu, tapi kalungnya." celetuk Zidan sehingga Defina hampir mencubit Zidan lagi tetapi pemuda itu dengan sigap menangkapnya.
"Iya, iya kamu cantik kok."
Defina tersenyum melihatnya, mata Zidan melihat kearah pergelangan tangan Defina keningnya menyernyit.
"Itu gelang dari siapa?" tanya Zidan.
"Ouh ini, ini gelang dari Nadya bagaimana baguskan?" tanya Defina.
"Tentu saja, jangan-jangan gelang yang dipakai Angga itu juga dari Angga?"
Defina mengangguk membenarkan perkataan Zidan, "Kenapa Angga doang? aku Kenapa gak dikasih?" tanya Zidan dengan raut wajah yang dibuat-buat.
Zidan menghela nafas benar juga apa yang dikatakan Defina, hubungannya dengan Nadya dan juga sahabat-sahabatnya tidaklah terlalu dekat.
Disaat ia tidak melihat Nadya lagi, ia bertanya-tanya kepada Defina tetapi gadis itu tidak menjawabnya.
***
Angga masih menatap Areum yang sedang memegang pipinya yang terasa panas, ia seperti tidak tega kepada gadis didepannya.
"Areum..."
Areum melihat kearah Angga ia tersenyum manis. "Aku tidak apa-apa, aku juga salah karena menjatuhkan air mineral kepada kaki Nadya, tapi aku aneh kenapa Nadya langsung lari?" tanyanya.
Kedua bola mata Angga melihat pipi Areum yang memerah ia langsung tersenyum, "Mungkin Nadya ingin membersihkan kakinya tadikan kaki Nadya terkena pasir, ouh ya aku minta maaf atas Nadya mungkin dia sedang tidak bisa mengontrol emosinya jadi bersikap sepeeti itu." ucap Angga
"Tidak apa-apa."
Angga berpamitan kepada Areum untuk menyusul Nadya, setelah kepergiannya semburat senyuman licik terukir dibibir Areum ia seperti puas telah mengerjai Nadya.
"Aku bahkan akan melakukan hal yang Lebih dari ini, tujuanku adalah memperlihatkan kepada semua orang jika kau adalah seekor Mermaid lalu aku akan menghancurkan kerajaanmu dan mengambil kalung itu."
Angga menemukan Nadya yang baru saja keluar dari toilet ia melihat kaki Nadya yang sudah bersih dan tidak ada tanda jika dia adalah seekor Mermaid.
"Nadya kamu baik-baik saja?" tanya Angga khawatir.
Gadis itu hanya mengangguk sambil memperlihatkan senyuman manisnya. "Sekarang bisakah kau mengantarkanku pulang?" tanya Nadya.
Angga mengangguk lalu mereka berdua kembali ke tempat parkir untuk mengambil sepedanya.
Sesampainya didepan rumah, Nadya turun dan berdiri untuk melihat kepergian Angga tetapi pemuda itu masih ditempat seperti ada pertanyaan yang ingin ia lontarkan kepada Nadya.
"Nadya, itu..."
"Apa, kamu mau tanya sesuatu?"
Angga mengangguk cepat, "Em... ya Kenapa sikap kamu berubah kayak gini beda kayak Nadya waktu dulu." kata Angga To The Point.
Nadya kembali kewujud dinginnya, sehingga membuat Angga bertanya-tanya, Terdengar Nadya menghela nafas.
"Aku masih Nadya yang dulu, mungkin perasaan kamu aja kalau aku udah berubah, ouh ya kalai gitu aku masuk duluan, aku capek sampai jumoa besok lagi Angga." kata Nadya dengan senyuman terpaksanya.
Angga menatap kepergian Nadya lalu ia kembali menggoes sepedanya, diperjalanan pikirannya terbang kemana-mana.
"Justru aku merasakan kalau kamu itu udah berubah ya, tidak mungkin jika perasaan aku aja, aku ngeliat kamu nampar anak baru itu dengan begitu beraninya dulu kamu tidak berani jika melakukannya kan, bahkan aku ngeliat dimata kamu kalau kamu itu menahan emosi."
"Apakah sejak kematian Marcell membuat Nadya berubah, bukannya dulu dia akan dijodohkan dengan Nadya, aku harus menanyakan hal ini kepada Aeera besok dikampus."