Mermaid Love Story (S1&S2)

Mermaid Love Story (S1&S2)
Mencoba Mengingat~



"Bagaimana disini ada pertanyaan?"


"Tidak pak, ini waktunya istirahat." kata Ji Hyun.


Defina mengangkat tangannya, "Aish... Anak ini selalu saja, pak lebih baik kita istirahat saja." rengek Ji Hyun seperti anak kecil


"Ji Hyun, kenapa dengan kau ini bukankah kau sudah bertaubat tidak akan membuat masalah lagi dikampus ini?" kata guru Kang dengan suara yang mengejek.


"Ayo Defina apa yang akan kamu katakan?"


"Begini pak apakah hewan menyukai musik?" tanya Defina tanpa ragu.


Serentak semua siswa tertawa kecuali Aeera, Nadya dan juga Areum, guru Kang memukul-mukul meja agar semua murid diam, "Kenapa kalian tertawa pertanyaan Defina sangat bagus,"


"Hewan menyukai musik? Jawabnya adalah ya, untuk sebagian kecil kasus. Namun, untuk sebagian besarnya jawabnya adalah tidak. Untuk dapat menikmati musik, dibutuhkan kemampuan otak yang cukup cerdas guna mencerna suara dan alunan lagu yang masuk melalui indra pendengarannya.


Live Science mencatat bahwa hewan peliharaan yang dekat dengan manusia akan lebih dapat menerima toleransi alunan nada. Anjing, kucing, burung, dan hewan lain yang dipelihara sejak kecil, mereka dapat beradaptasi dengan baik akan hal ini." jelas guru Kang.


"Baiklah, mungkin sampai sini saja pelajaran ini nanti kita akan lanjutkan kalian boleh istirahat dulu."


Murid-murid pun keluar kelas, tidak dengan Nadya dia masih terduduk dikursinya, "Sebenarnya Angga dimana?" gumamnya.


Areum yang baru beberapa langkah meninggalkan kelas ia memutuskan untuk kembali, ia melihat Nadya yang sedang membereskan buku-bukunya.


"Hay, Perkenalkan namaku Areum" ucap Areum sambil mengulurkan tangannya.


Nadya hanya mematung menatap tangan Areum, karena tidak dibalas akhirnya Areum kembali menarik tangannya.


Areum melihat kearah leher Nadya, ia membulatkan matanya saat mendapati kalung yang ia cari. "Kalung itu, bukankah kalung yang dicari oleh ibunda?"


"Ada apa kau kembali kesini?"


"Hah itu... aku, aku tidak tahu arah kantin kemana" kata Areum.


Nadya memiringkan senyumnya, "Kenapa tidak ikut saja dengan yang lain?" tanya Nadya lalu pergi begitu saja, tangan Areum mengepal.


"Gadis itu, begitu sombong sekali awas saja kau aku akan menghabisi mu menggunakan kekuatanku!" Areum kembali keluar untuk menuju kantin.


***


Angga duduk di bebetuan ia menghirup udara segar, ia begitu merindukan sekali suasana pantai.


Angga melirik kearah bebatuan yang membuatnya penasaran karena ia tidak sengaja melihat seperti ada tulisan.


"Angga, Nadya?"


Angga terdiam sesaat mengingat-ngingat, ia juga begitu heran kenapa saat bertemu dengan Nadya sepertinya mereka berdua sudah dekat, saat mengingat-ngingat tiba-tiba saja kepalanya sakit bayangan-bayangan gadis itu kembali muncul didalam pikirannya.


"Argg... sebenarnya siapa gadis itu!"


"*Angga!"


"Terima kasih telah membawakanku makanan daratan, andai saja aku bisa kesana."


"Aku Mencintaimu*."


Dan bayangan yang terbesit didalam otaknya saat dimana kejadian empat tahun silam, Angga turun kembali kedataran yang rendah dan membiarkan gelombang air laut menerjangnya, dan sosok putri duyung yang kembali membawanya kedaratan.


Saat itulah rasa sakit itu menghilang, Angga terdiam tanpa ekspresi, "Atau jangan-jangan Nadya adalah sosok gadis yang selama ini menghantui pikiranku?"


Angga beranjak berdiri dan berlari untuk kembali pulang.


***


Areum duduk dimeja kantin dimana Nadya, Aeera dan juga Defina berkumpul disana. Nadya meliriknya dengan tatapan yang begitu dingin.


"Em... aku ikut duduk disini,"


Defina mengangguk dengan senyumannya yang terus mengembang, tiba-tiba saja ada notifikasi masuk dihandphonenya.


Defina melihat pesan dari seseorang, "jika kau ingin menjengukku tidak apa-apa, datanglah kemari"


Ya, pesan itu tidak salah lagi dari Zidan. Defina tersenyum lalu kembali meletakkan ponselnya.


Andra yang baru saja datang kekantin kini melihat punggung Defina ia pun menghampirinya, "Tidak biasanya kau berkumpul seperti ini" katanya.


Defina melirik kearah Andra, "Apakah kak Andra tidak tahu siapa perempaun yang ada disebelah aku?" tanya Defina.


Andra menggelengkan kepalanya perlahan, "Dia Nadya dan Aeera Kak."


Andra menoleh kearah Nadya lalu duduk disampingnya, "Benarkan kau Nadya?" tanya Andra.


Nadya hanya mengangguk perlahan, "Astaga Nadya kau kemana saja?"


"A.. aku pulang kampung"


"Kau semakin cantik Nadya tetapi ada yang berubah dari kamu,"


Nadya hanya terdiam seolah-olah menunggu jawaban dari mulut pemuda itu, "Kau waktu itu biasanya cerewet tetapi sekarang kenapa menjadi pendiam hah..." kata Andra sambil tetawa dan mengusap-usap kepala Nadya.


"Tapi dimana Alsafa, tumben biasanya kalian selalu berempat jika kemana-mana, dan dimana itu Marcell?"


Nadya menatap Aeera yang hanya menunduk melihay makanannya, "Em... Alsafa dia sedang mambantu kak Amanda, Marcell dia meninggal empat tahun yang lalu."


Deg... walaupun kadang Andra dan juga Marcell selalu bertengkar entah kenapa ada rasa sedih dihatinya.


"Astaga, aku tidak menyangka hal ini akan terjadi tapi aku turut berduka cita."


Areum yang memakan makanannya dengan perlahan ia pun masih mendengar percakapan Nadya dan juga Andra.


"Bukankah Marcell, dia adalah pangeran ikan dari kerajaan barat. aku pernah mendengar berita bahwa Marcell telah tiada, aku yakin jika gadis yang ada dihadapanku ini sama sejenis denganku."