
Didalam kamar Nadya tidur telentang dengan handphone ditangannya.
Hay ya, apakah kau sudah tidur?~ {Unknow}
Siapa?~ {Nadya}
Ye Jun~ {Unknow}
Kau tahu nomorku dari mana? jangan-jangan dari Defina.~ {Nadya}
Hehe...~ {Ye Jun}
Nadya menghela nafas lalu ia menyimpan handphonenya dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan paginya seperti biasa Nadya, Defina dan Aeera sudah berada dikampus, guru Kang sedang mengajar disana.
Tatapan ketidak sukaan ditunjukan oleh Areum kepada Nadya, ia seperti sedang menyusun sebuah rencana untuk membuat identitas Nadya diketahui oleh dunia.
Setelah jam istirahat Nadya tidak ikut pergi kekantin melainkan ia berjalan menuju gudang seperti sebuah kesempatan saat Areum melihat Nadya dengan segera ia mengikutinya.
Nadya duduk dikursi yang sudah tidak dipakai lagi bahkan hampir rusak, ia sedang tenggelam dalam pikirannya.
Areum mulai mengotak atik handphonenya lalu ia menghampiri Nadya.
"Nadya seorang putri Mermaid dari kerajaan barat musuh bebuyutan kerajaan utara?" Kata Areum dengan begitu lantang sehingga membuat Nadya menoleh kepadanya.
"Mungkin kemarin aku kalah, tetapi sekarang aku akan menang!" katanya lagi seperti tersirat sebuah ancaman.
Nadya beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri tepat didepan Areum dengan tangan yang menyilang jangan lupa kan juga wajah dinginnya.
"Kau, kau ingin melakukan apa lagi?" tanyanya begitu dingin.
"Tentu saja menghancurkan identitasmu!"
"Hmm... Jika kau bisa!"
"Tentu saja, tapi tunggu kelihataannya kau tidak begitu pantas menjadi putri Mermaid."
"Kau!"
"Tunggu apa ini, sebuah tanda sisik? ouhh aku sungguh tidak percaya dengan hal ini saat itu aku tidak percaya dengan adanya seekor Mermaid."
Nadya memiringkan senyumnya lalu ia memajukan langkahnya, dengan cepat ia mengambil handphone yang berada ditangan Areum lalu membantingnya dilantai.
"Jika kau ingin berhadapan denganku, pikirkan terlebih dahulu!" Ucap Nadya.
"Sunggu menyusahkan sekali!" merasa puas Nadya lalu pergi meninggalkan Areum sendirian.
Gadis itu membisu menatap ponselnya yang sudah hancur dengan gemetar ia mengambilnya.
"Nadya kau sangat pintar sekali." gumamnya sambil tersenyum licik.
Saat keluar dari gedung Nadya menghentikan langkahnya saat Ye Jun berada tepat didepannya.
Pemuda itu memutari tubuh Nadya yang mematung, "Apakah Ye Jun mendengar percakapanku dengan Areum?"
"Kau... Apakah kau me..."
"Nadya ayo ikut denganku."
"Kemana?"
"Kita bolos hari ini." Belum sempat menimpali perkataan Ye Jun pemuda itu sudah menarik tangan Nadya.
Saat keluar dari gerbang kampus tidak sengaja Angga yang keluar dari ruang dosen melihat mereka berdua bahkan tatapannya tertuju kearah tangan Ye Jun yang menggenggam Nadya.
"Nadya mau kemana?" gumam Angga lalu ia berlari menuju kelas.
Dikelas Angga berlari menuju meja Defina, gadis itu sedang mengobrol dengan Aeera, Jeny dan yang lainnya.
Brakk...
"Astaga!"
"Angga kau mengagetkan sekali!" ucap Aeera.
"Nadya kemana?" tanyanya langsung.
"Nadya? bukankah tadi dia sedang kegudang," ucap Defina.
"Tadi aku melihat Nadya berlari keluar kampus bersama Ye Jun." Celetuk Laila
Angga menyandarkan tubuhnya di tembok dengan perasaan yang kalut bahkan nafasnya masih terdengar tersengal-sengal karena tadi berlari.
"Aish... Angga sebenarnya kau ini ada apa?" tanya Jeny.
"Mungkinkah dia cemburu dengan Ye Jun?" celetuk Laila tatapannya tertuju kearah Aeera.
"Mungkin Ye Jun dan Nadya hari ini akan bolos."
"Benarkah?"
"Areum ada apa denganmu? ponselmu kenapa rusak?" tanya Kim So Un teman Ji Hyun.
"Ouh ini, itu..."
"Apakah kalian berdua bertengkar lagi?" tanya Angga dingin.
"Hah..."
"Sebenarnya kalian bertengkar karena apa?" tanya Ji Hyun.
"Kami, hanya salah pamah."
"Salah paham?" ucap Aeera.
Areum mengangguk dengan raut wajah yang dibuat-buat, Aeera mendekati Areum. "Nadya tidak akan mungkin semarah itu jika kau... mengancamnya." ucap Aeera dengan nada penekanan diakhir kalimat.
"Sial, bukankah dia sama seperti Nadya."
"Kau mengancamnya?!" seru Defina sambil mendekati Areum.
"Aku tidak menga..."
"Lebih baik kita bicarakan ini di luar saja." kata Aeera lalu ia pergi meninggalkan kelas diikuti oleh Areum dan Defina.
"Ah... kenapa harus diluar?" ucap Laila sambil menghela nafas.
"Betul, jika disini pasti akan seru."
Sedangkan ditaman Aeera dan Defina kini menatap Areum yang sedang menunduk. "Aku sungguh penasaran dengan tanda sisik itu, apakah benar dia kalangan dari para Mermaid."
Aeera menyisihkan rambut yang menutupi leher Areum, gadis itu terkejut saat melihat tanda yang sama sepertinya.
"Jadi benar, kau sama seperti..."
"Ya, aku seekor Mermaid yang sengaja datang kedaratan ini untuk menghancurkan kau, Nadya dan kerajaan barat." katanya wajahnya pun sudah berubah menjadi mengerikan.
"Jadi benar apa kata Nadya,"
"Ya temanmu itu sunggu menyebalkan, lihat saja sedikit demi sedikit aku akan menghancurkan kalian terutama teman manusia mu ini!" katanya sambil melangkah mendekati Aeera.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan kerajaan barat, meskipun aku manusia aku akan membantu sahabatku."
Tatapan Areum kini tertuju kearah Defina yang menatapnya dengan tajam. "Kau tahu apa tentang Mermaid, apakah kau juga sama sepertiku karena semua manusia sama saja ingin menangkap kalangan Mermaid dan menjadikannya seperti pembantu."
"Kau... kau begitu jahat sekali bahkan lebih kejam daripada Fakhri."
"Hm... Fakhri jangan pernah menyebut namanya, sekarang aku akan membuatmu menangis memanggil-manggil nama temanmu itu." Areum sudah menarik tangan Aeera, Defina yang melihatnya berusaha untuk membantu sahabatnya tapi Areum malah mengeluarkan kekuatannya sehingga mengenai Defina.
"Aww!"
"Defina, apa yang kau lakukan! lepaskan."
"Ikut denganku, aku akan menunjukan kepada semua orang yang ada dikelas jika kau adalah seekor Mermaid."
Aeera membulatkan matanya, gadis itu berusaha meronta tetapi tangan Areum begitu kuat memegangnya.
Dikelas Aeera didorong sehingga hampir membentur tembok untung saja ada Angga disana yang membantunya.
"Apakah kau sudah gila! kau mendorong orang seenaknya." teriak Angga
"Berhenti meneriakiku! asal kalian tahu saja selama ini aku selalu dia menghadapi Nadya tetapi hari ini aku tidak akan tinggak diam!"
"Hey apa yang akan kau lakukan?" tanya Ji Hyun dengan nada kelas.
"Dimana Defina?" tanya Zidan berusaha tenang.
Karena tidak mendapat jawaban dari Areum ia menatapnya tajam, "Aku tanya dimana Defina?!" teriaknya.
"Gadis itu, (Tersenyum jahat) mungkin dia sudah terkapar disana."
"Kau, awas saja jika Defina terjadi apa-apa!"
Zidan berlari keluar kelas untuk mencari Defina, sedangkan Areum kini memulai aksinya ia menarik tangan Aeera dari Angga sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
Areum menyingkirkan rambut yang menghalangi leher Aeera sehingga terlihat jelas terdapat tanda sisik.
Semua yang berada dikelas tidak mengerti apa tanda yang dimiliki oleh Aeera tetapi Angga tahu betul apa tanda itu.
"Kalian tahu ini tanda apa?"
Semua orang terdiam, Aeera melepaskan dirinya lalu ia menatap tajam Areum. "Kau sudah keterlaluan!"
"Aku? ini semua gara-gara Nadya,"
"Kau yang telah membuat masalah dengannya!"
"Kau!" Areum melayangkan tangannga diudara tetapi seperti ada seseorang yang menahan tangannya dengan cepat ia melihat kebelakang dan ternyata...
Siapakah itu? Jangan lupa like teman-teman...