
Nadya Hanya menatap sinis Marcell, sebenarnya dari lubuk hati Marcell benar-benar cemburu tapi ia pandai menyembunyikan perasaannya.
Nadya melihat keluar jendela dan ia juga melihat angga yang berjalan menaiki sepeda dan membonceng Amanda.
"kak Amanda? ngapain dia sama angga?"
***
"makasih ya angga,"
"iya sama-sama kak, kakak bener disini aja?" tanya angga.
"iya gak apa-apa."
Angga mengangguk setelah itu membalikkan sepedanya.
"eh tunggu angga! aku mau nanya boleh?"
"ouh... boleh kak, emang mau nanya apa?"
"eum... emang bener ya kalau kamu itu pacarnya Nadya?" tanya amanda sedikit ragu.
angga terkekeh, "gak kok kak, waktu itu aku cuman... ya gimana ya jelasinnya"
Amanda mengangguk mengerti. "ya udah aku paham kok,"
"yaudah kak, aku pulang dulu ya"
"iya hati-hati angga."
***
malam hari Nadya sedang duduk di sofa ruangan kamarnya ia selalu kepikiran angga.
"ya kamu belum tidur?" kata Defina
Nadya menggelengkan kepalanya. "aku lapar"
"yaudah gih sana makan!"
Nadya kemudian berjalan menuju kearah dapur ia membawa roti.
"ini gimana ya?" gumam Nadya bingung
"nadya kamu belum tidur? kamu lagi apa?" Marcell tiba-tiba datang dan menghampiri Nadya.
"aku lapar, gimana ini Cell?" tanya Nadya sambil menjulurkan rotinya.
Marcell tersenyum manis setelah itu mengambil roti yang dipegang oleh Nadya.
"gini nih caranya" Marcell kemudian memasukan roti itu kealat pemanggang roti bakar.
Marcell menghela nafas setelah itu menarik tangan Nadya sehingga membuat Nadya jatuh ke pelukan Marcell, Marcell memegang pinggang Nadya menggunakan tangan kirinya dan satunya lagi untuk menopang tubuhnya.
Nadya merasakan wangi khas Marcell dan nafas hangat menyapu wajahnya. Nadya menatap bola mata indah Marcell.
"astaga, ternyata Marcell ganteng juga. ya ampun Nadya kamu sadar dong!!!"
Nadya menundukkan kepalanya dan berjalan mundur tetapi Marcell menahan pinggangnya.
"ih Marcell lepas!!" bisik Nadya
"gak mau, kamu harus bilang aku ganteng!" kata Marcell sehingga membuat Nadya terkejut.
"apaan sih, kegeeran banget." Nadya melepaskan tangan Marcell dengan paksa.
Nadya kembali fokus kearah alat pemanggang roti ia menatapnya heran sedangkan Marcell pergi menuju kulkas untuk membawa slai blubery.
tinggg...
"Ahhh...." Nadya terkejut
"ya ampun ya ngagetin aja," suara Aeera yang sepertinya bangun tidur dan gadis itu menghampiri Nadya.
"kamu lagi apa?" tanya Aeera sambil mengucek-ucek matanya.
"wah roti bakar, Cell tolong buatin dong aku juga lagi lapar nih!" lanjut Aeera
"ya udah tunggu aku bawa dulu rotinya." kata Marcell
aeera mengangguk seperti anak kecil setelah itu duduk di meja makan di samping Nadya.
"ya ini udah jam berapa loh? kamu belum tidur?" tanya Aeera
"kamu gimana?" tanya balik Nadya
"yaelah ya!"
"nih roti bakar chef marcell" Marcell datang dengan roti bakar buatannya.
"wah.. makasih" Aeera kemudian melahapnya dengan cepat.
"ya ampun Aeera pelan-pelan dong!" kata Marcell, Nadya juga dibuat tertawa dengan sikap Aeera sehingga lupa dengan kejadian tadi sore di sekolahnya.
"hmm... enak, sumpah!!" kata Aeera dengan mulut penuh rempah-rempah roti.
Marcell kemudian menatap nadya dan kebetulan Nadya juga menatap Marcell sehingga mata mereka bertemu disana.
Marcell memiringkan senyumnya dan mengangat alisnya."apa-apaan dia, tatapannya itu loh!" Nadya bergidik menyadarkan dirinya.