
Angga dan Nadya saling duduk berhadapan didepan mini market, Angga membeli dua mie yang dicup dan juga minuman mineral.
"Ayo makan, kamu pasti belum makankan?"
Nadya mengangguk dengan senyuman yang mengembang, ia mengambil sumpit lalu mulai mencicipi mienya.
Angga hanya memperhatikan Nadya ia baru tersadar jika Nadya belum mengganti pakaiannya ia pun pertanya, "Kamu kenapa belum ganti baju? Emangnya kamu belum pulang kerumah?"
Nadya mematung, ia menyimpat kembali sumpitnya lalu berkata, "Iya aku belum pulang kerumah tadi saat aku bersama Aeera aku malah ditarik oleh Ye Jun yang tiba-tiba datang."
"Ye Jun?" gumam Angga.
Nadya mengangguk saat mendengarnya, "Teman sekelas kita,"
"Ouh, iya aku tahu." perlahan-lahan senyuman Angga pudar, ada sedikit rasa sakit hati tetapi ia menyembunyikannya.
Nadya kembali melanjutkan memakan mienya, ia begitu risih saat rambutnya selalu jatuh hampir mengenai kuah mie, Nadya pun tanpa pikir panjang mengikat rambutnya menggunakan karet yang ada didekatnya.
Angga terkejut saat melihat tanda yang ada dileher Nadya karena penasaran ia pun bertanya kepada Nadya.
"Ya, itu tanda apa dileher kamu?"
Nadya terkejut ia dengan terburu-buru kembali menguraikan rambutnya, "Kenapa aku bisa melupakannya!" umpat Nadya.
"Ouh ini... Itu, ini tanda yang dimiliki oleh bangsa kita,"
"Maksud kamu bangsa mermaid..." kata Angga dengan intonasi suara rendah.
Nadya menganggukan kepalanya lalu ia menempelkan jari telunjuknya dibibir. "Jangan mengatakan hal ini kepada siapa-siapa," kata Nadya hal itu membuat Angga merasa gemas, pemuda itu kemudian mengacak-acak rambut Nadya sehingga membuat gadis itu memanyunkan bibirnya.
"Sudah, lebih baik lanjutkan makananmu setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang."
Setelah menghabiskan makanannya, Nadya dan Angga berjalan menuju rumah Defina seperti biasa disetiap perjalanan mereka berpegangan tangan.
Adena yang kebetulan melewati jalan yang sama dengan Angga dan juga Nadya, ia menglihatnya karena kesal gadis itu pun menghampirinya.
"Angga!" seru Adena sambil memisahkan tangan Angga yang berpegangan dengan Nadya.
Nadya terkejut, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Adena. "Aku tadi kerumah kamu tapi ternyata kamu disini sama... perempuan ini!" kata Adena sambil memutar kedua bola matanya seolah tidak sudi menyebut nama Nadya.
"Apaan sih lepas gak," kata Angga dingin ia berusaha melepaskan tangannya yang dipeluk oleh Adena.
"Pokonya kamu harus anterin aku pulang! aku udah jauh-jauh dateng kerumah kamu dan kamu malah jalan sama dia!" rengek Adena.
"Aku gak mau, lagian siapa suruh kamu dateng kerumah aku gak ada kerjaan tau!" sembur Angga lalu ia kembali menggenggam tangan Nadya dan menarik gadis itu agar meninggalkan Adena.
***
Sesampainya didepan rumah Nadya membuka pintu tapi ia tidak masuk kedalam rumah ia menunggu Angga untuk pergi meninggalkannya.
"Selamat malam ya, semoga tidur nyenyak" ucap Angga sambil mengelus-elus puncak kepala Nadya.
Nadya hanya tersenyum dan mengangguk, "Yaudah kalau gitu kamu pulang, hati-hati dijalan ya." kata Nadya lalu ia masuk kedalam rumah.
Angga tersenyum beruntung sekali ingatannya pulih, saat berbalik badan dan ingin melangkah tiba-tiba saja ia terpaku.
"Yaampun, bukankah tadi aku ingin menanyakan kepada Nadya soal gelang ini."
"Lebih baik besok saja." Angga kembali melanjutkan langkahnya.
Defina dan Aeera yang mendengar pintu terbuka segera bersembunyi. Dan saat Nadya melewatinya mereka berdua berteriak sehingga membuat Nadya terkejut.
"Kamu kemana aja!" teriak Defina dan Aeera bersamaan.
"Astaga, kalian berdua!"
"Hehe... kamu kemana aja sih ya?" tanya Defina.
Nadya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, "Itu... aku habis jalan sama Angga."
Defina dan Aeera terkejut lalu ia menuntun Nadya agar segera duduk disofa, "An... Angga udah ingat sama kamu?" tanya Aeera.
Nadya menganggukan kepalanya, "Jadi... ah yaampun aku seneng banget akhirnya kamu sama Angga bersatu lagi." kata Defina
Nadya hanya tersenyum, ia juga tidak pernah menyangka jika selama ini Angga yang selalu ia pikirkan dilautan bisa bersamanya lagi.
***
Areum yang sedang berada dilautan ia mondar mandir dengan kepala yang mengangguk. "Jadi, mereka berdua dekat?" gumam Areum.
Senyuman liciknya kini terukir dibibir, "Baiklah aku akan menggunakan Angga agar bisa mendapatkan kalung itu. gak kebayang jika aku benar-benar mendapatkan kalung itu semua warga yang ada kerajaan Mermaid ini akan bertunduk kepada ibundaku. dan aku juga Ibunda akan hidup lebih lama haha...."
Jadi setelah kematian sang raja kerajaan Mermaid arah Utara dipimpin oleh Diana ibunda dari Areum, sejak itulah para warga lautan yang berada disana seperti kekurangan tidak ada lagi yang memperhatikannya selain sang raja.
Bahkan mereka pernah melihat menggunakan mata kepalanya sendiri, bahwa sang ratu baru pernah menyiksa salah satu warga dengan cara mencambuknya karena dia memohon kepada sang ratu agar sang ratu selalu memperhatikan warga lautan dan memberikannya makan.
Tetapi hal itu malah membuat Diana marah ia memutuskan untuk menghukum warga itu dan menjebloskannya di penjara bawah lautan.