
Jam pulang sudah tiba, Nadya hari ini berinisiatif mengikuti Areum. Saat Nadya mengendap-endap mengikuti Areum tiba-tiba saja Defina dan Aeera datang.
"Nadya," sapa Defina.
Nadya menoleh terlihat jelas kedua aahabatnya itu ada disampingnya. "Kau sedang apa?" tanya Aeera sambil melihat sekitar.
"Ti... tidak,"
"Ayo kita pulang, aku sudah tidak sabar ingin tidur" celetuk Defina.
"Em... lebih baik kalian berdua saja aku ada urusan mendadak"
"Urusan? apa kau akan kelautan?" tanya Aeera.
"Ouh, aku tahu kau pasti ingin berjalan bersama Anggakan." ucap Defina sambil melihat kearah Aeera yang sedang tersenyum.
Nadya menyernyitkan keningnya lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan, "Nadya!" teriak Ji Hyun membuat ketiga gadis itu melihat kearahnya.
Ji Hyun menghampiri Nadya dengan berlari, "Kau... aku cari-cari, ternyata kau ada disini." ucap Ji Hyun dengan terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Defina.
"Ini, apakah ini milikmu?" tanya Ji Hyun sambil menyodorkan buku yang bersampul ekor duyung.
Nadya segera menggambilnya dari tangan Ji Hyun, "Aku sungguh lupa terima kasih." ucap Nadya.
Ji Hyun mengangguk dengan senyuman jailnya, "Tapi aku sudah membaca sebagian dari buku itu,"
Nadya membulatkan matanya ia hampir saja melanyangkan buku yang ada ditangannya itu kepada Ji Hyun.
"Aku hanya bercanda."
"Kau, sudahlah aku pamit dulu." ucap Nadya lalu kembali melanjutkan niatnya untuk mengikuti Areum.
Ji Hyun, Defina dan Aeera menatap kepergian Nadya yang lama semakin menghilang. "Ada apa dengan sahabat kalian itu?" tanya Ji Hyun.
"Entahlah." jawab Aeera dan Defina bersamaan.
Ji Hyun tersenyum lalu ia mengacak-acak puncak kepala Defina sehingga membuay gadis itu kesal. "Ji Hyun, kau!" teriak Defina.
Ji Hyun melambaikan tangannya sambil berjalan, "Sampai jumpa besok!" teriak Ji Hyun
"Hey, besok hari minggu!" balas Defina.
"Sudahlah, kau ini kenapa selalu saja bertengkar dengan Ji Hyun seperti kucing dan tikus saja awas saja nanti lama-lama kalian berjodoh...." kata Aeera yang langsung lari, Defina membulatkan matanya lalu mengejar Aeera yang sudah menjauh.
Kini Nadya sedang bersembunyi dibalik pohon kelapa, ia baru tersadar ternyata dia sekarang sudah mengejar Areum sampai pantai
"Pantai? kenapa dia kepantai?"
Saat Areum melepaskan sepatunya dengan segera Nadya menghampirinya dengan santai dan tangan yang bersedekap di dada.
"Nadya? kenapa bisa kau ada disini?" tanya Areum gugup.
Nadya memiringkan senyumnya, "Untung saja identitasku belum ketahuan..." Areum menghela nafas lega.
"Sejenis denganmu? maksudmu apa, apakah kamu sengaja menguntitku dari kejauhan?"
"Aku tahu siapa kamu sebenarnya, kau adalah putri duyung bukan?"
"Putri duyung? Nadya mana ada zaman sekarang seperti itu..."
"Jangan berbohong aku sudah mengetahuinya!" Nadya mennyingkirkan rambut yang menghalangi leher Areum sehingga terlihat tanda sisik disana.
"Tanda ini, tanda yang menandakan kau adalah Mermaid!" katanya dengan intonasi suara yang meninggi untung saja disana hanya ada mereka berdua.
Wajah yang tadinya lugu kini berubah menjadi mengerikan Areum menghentak tangan Nadya yang sedari tadi memegang rambutnya.
"Baguslah kau sudah mengetahui identitasku, dan..." mata Areum tertuju kearah kalung yang berada dileher Nadya.
"Apa tujuan mu datang kedaratan ini?! dan kau, aku ingin mengetahui kerajaanmu ada dimana?"
Areum tersenyum licik, "Aku Mermaid dari kerajaan Utara dan tujuanku kemari mungkin ingin menghancurkan mu." kata Areum dengan nada penekanan diakhir kalimatnya.
Nadya memundurkan langkahnya, Areum yang menyadarinya tersenyum puas lalu memajukan langkahnya.
"Kau, kau tidak akan bisa menghancurkan kerajaanku!"
"Benarkah?" Areum bersiap-siap untuk mengeluarkan kekuatannya dan saat tangannya sudah berada diudara Nadya pun tahu jika ada aura kejahatan didiri Areum, bahkan ia juga tahu sekarang ada cahaya yang keluar dari tangan Areum.
"Kau ingin membunuhku? silahkan aku tidak takut denganmu!" kata Nadya dengan senyum yang meremehkan.
"Lihat saja bagaimana nasibmu jika kekuatan ini mengenaimu." Areum mulai mengarahkan kekuatannya itu kepada Nadya.
"Nadya!" teriak Alsafa yang tiba-tiba datang.
Areum dengan segera bersikap seperti biasanya, dan melihat kearah Alsafa yang sedang berlari menghampirinya.
Nadya masih menatap Areum dengan tatapan dinginnya. "Sial kenapa wanita itu tiba-tiba saja datang, andai saja dia tidak datang mungkin nasib Nadya sudah hancur ditanganku bahkan aku sekarang sudah mengambil kalung Nadya."
"Kenapa? apakah tidak jadi?" tanya Nadya, Alsafa yang sudah berada disampingnya pun kebingungan dengan perkataan Nadya.
Alsafa menoleh kearah Areum yang sama juga sedang menatapnya dengan tajam, entah kenapa energinya turun saat dekat dengan Areum.
"Kenapa tiba-tiba aku menjadi pusing?"
Nadya melihat kearah Alsafa yang sedang memegang kepalanya ia tahu betul apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Al, lebih baik kita pergi dari sini." katanya tapi sebelum pergi ia menatap Areum dengan tatapan tajamnya seolah-olah gadis itu tidak akan pernah bisa menghancurkan kerajaan milik Nadya.
Areum menatap kepergian Nadya, ia tersenyum meremehkan. "Sekarang kau sudah tahu identitasku, lihat saja permainanku akan segera dimulai!"