
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Usia si kembar tiga telah mencapai empat tahun. Suka dan duka Zayyan merawat anak-anaknya bersama Riska.
Ketiga balita itu mendapatkan kasih sayang berlimpah ruah dari orang tuanya. Meski terkadang Zayyan dibuat stress oleh anak-anaknya.
Mereka bertiga benar-benar hiperaktif. Terkadang membuat Riska dan Zayyan kewalahan. Namun, mereka tetap menikmati masa-masa indah menjadi orang tua.
Zayyan keluar dari kamar anak-anaknya. Dia mencari keberadaan istrinya tak tentu saja berada di dapur.
Zayyan melihat istrinya sedang membuat adonan donat. Semakin hari Riska semakin pintar memasak. Berbagai jenis kue sering dibuatkan untuk Zayyan dan anak-anaknya.
Chef rumahan adalah gelar Riska pasca punya anak.
Zayyan memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Dia tersenyum manis dan mengecup tengkuk leher Riska, membuat wanita itu geli.
"Lagi buat apa, Yank?" tanya Zayyan basa-basi seraya meneruskan aksinya untuk menggoda istrinya.
"Mau buat donat, Mas. Ricka suka banget sama donat, jadi aku buat hari ini biar dia seneng!" jawab Riska lembut tak terusik dengan kelakuan Zayyan.
"Aku juga suka donat," balas Zayyan membuat Riska tersenyum manis.
"Aku buat untuk kamu juga, Mas."
Zayyan tersenyum penuh arti. Dia mencium daun telinga Riska, berhasil memancing hasrat wanita itu. Suara manja keluar dari bibir Riska.
"Mas," lirih Riska pelan.
"Aku mau donat yang ini," bisik Zayyan seraya menyentuh sesuatu di bawah sana.
Riska menggigit bibir bawahnya. Sang suami memang sangat usil dan pintar memancing hasrat Riska.
"Nanti malam aja, Mas."
"Aku maunya sekarang."
"Nanti malam."
"Sekarang."
Tiba-tiba mereka berdua berhenti. Keduanya saling bertatap muka saat tak mendengar suara anak-anaknya.
Suasana rumah berubah tenang dan sunyi tanpa suara teriakan anak-anaknya.
Sepertinya proyek besar sedang berjalan.
"Mas."
"Yank."
Keduanya langsung berlari ke kamar anak-anak untuk melihat keadaan ketiga balita itu.
Hanya mainan berserakan di lantai.
Keduanya segera berlari ke kamar mereka yang pintunya sudah terbuka.
Saat tiba di depan pintu, tungkai Zayyan dan Riska luruh ke lantai melihat apa yang sedang dikerjakan anak-anak mereka.
"Hihihi … cat yang mama punya emang is the best," ujar Ricka seraya tertawa kecil melihat dinding kamar orang tuanya telah dilukis bunga.
"Lipstik Dior ku … aku baru sekali memakainya," gumam Riska pelan dengan suara lemah.
Zayyan seperti orang kehilangan nyawanya. Tatapannya seperti mayat hidup ketika melihat laptopnya sedang di bedakin oleh Ricko.
"Hehe … laptop papa udah bersih dan ganteng kayak aku," ujar Richo tersenyum polos setelah memandikan laptop Zayyan dan memakaikan bedak pada laptop ayahnya.
Ricky tak mau kalah. Dia menggambar mobil di lantai marmer kamar orang tuanya menggunakan semir sepatu Zayyan.
"Ini ban nya … ini body nya … ini spion nya. Apalagi yang belum yah?"
Bocah itu bertanya pada dirinya sendiri.
"Aha … Pak Ujang," serunya teringat supir yang selalu mengantarkan mereka ke manapun.
Sudah cukup … Zayyan dan Riska tak bisa menghentikan anak-anak mereka.
Proyek besar telah ready.
"Mas … aku butuh kesabaran lebih untuk menghadapi tiga balita ini," lirih Riska pelan.
"Andai kesabaran bisa dibeli, Yank. Sudah ku borong habis agar hatiku tetap lapang meski laptop ku berkali-kali dimandiin," imbuh Zayyan lemah.
*
*
Wkwkwkwk 🤣🤣🤣 realita nggak sih? Kalau anak diam-diam baek tandanya proyek besar sedang berjalan.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️
Mampir juga di novel temen author yang gak kalah bagusnya 🥰🥰