
Yuhuuu … tanggal 30 sebentar lagi. Giveaway nya bakal berakhir. Yuk yang belum ikutan Ayuk ikut, ada hadiah ratusan ribu 💸🤑
*
*
Riska membawa Syila masuk ke dalam kamar, dia ingin membersihkan tubuh gadis kecil itu sekalian memberi suaminya waktu berbicara dengan kakak iparnya.
Tersisa Zayyan dan David. Keduanya saling beradu pandang.
"Kalau kamu tidak bisa menjaganya dengan baik, biar aku saja yang rawat dia!" dengus Zayyan dengan nada dingin membuat David menghela nafas berat.
Dia melonggarkan dasinya, hawa panas menjalar dalam aliran darahnya. Dia marah pada Zayyan, namun hal yang wajar bila adiknya marah, karena dia telah gagal menjaga Arsyila.
"Aku teledor … maaf," balas David tak ingin memperbesar masalah. Dia sadar salah dan harus meminta maaf.
Tampaknya Zayyan tak puas dengan permintaan maaf dari kakaknya. Dia tak ingin anak dari sahabatnya menderita apalagi terluka.
"Maafmu juga tidak bisa memutar waktu, Syila sudah terlanjur terluka," tandas Zayyan marah.
David memutar bola matanya malas. Dia harus ekstra bersabar berhadapan dengan adiknya yang belum dewasa sepenuhnya. Baik Mark maupun Zayyan Memiliki sifat kanak-kanak.
Berbeda dengan David yang sudah dituntut dewasa dari kecil, karena dia punya adik di usianya setahun. Kasih sayang yang dia dapatkan dari kecil sudah terbagi.
David harus kuat untuk melindungi kedua adiknya dan menjadi penerus sang ayah.
Anak pertama memang punya beban tersendiri yang tentunya tak dimiliki oleh anak yang lain.
"Aku janji tidak akan teledor lagi, Zay … Syila bakal aman sama aku. Lagian aku sudah suruh Rudy buat urus perpindahan Syila ke sekolah yang lebih bagus dan siswanya beradab. Orang yang melukai Syila juga sebentar lagi bakal masuk penjara."
David menjelaskan pada Zayyan. Pria itu sadar telah teledor, tetapi dia juga bertanggung jawab atas apa yang dialami putri angkatnya. David telah membuat perhitungan pada orang yang berani melukai gadis kecilnya.
Zayyan mendengus kesal. Pipinya memerah menandakan dia sedang marah.
"Kemarin kamu juga janji akan menjaga Syila dengan baik. Nyatanya bohong, Syila terluka. Lebih baik aku saja yang rawat dia!" tukas Zayyan keras kepala.
David sudah jengah dengan Zayyan. Segera dia menyembur keluar semua isi hatinya.
"Emang kalau kamu yang rawat Syila sudah pasti dia bahagia?" tanya David dingin.
"Ya pastilah. Emang dari awal dia lebih dulu panggil aku Papa, tentunya dia bahagia tinggal dengan ku!"
"Dan setelah istriku hamil dan kalian punya anak. Apa kamu bisa menjamin kalau Syila tetap bahagia dan kamu tetap memperlakukan Syila dengan baik? Bagaimana kalau sewaktu-waktu Syila cemburu pada anakmu dan dia tidak sengaja menyakiti anakmu seperti aku yang dulunya cemburu karena mama dan papa lebih peduli padamu dan Mark? Apa kamu akan memarahinya seperti mama dan papa memarahiku?"
David bertanya dengan nada suara dingin. Urat lehernya keluar, matanya berubah merah, teringat saat kecil orang tuanya lebih peduli pada Mark dan Zayyan dengan dalih mereka masih kecil. Padahal selisih umur mereka cuma satu-satu tahun.
David cemburu lalu mendorong Mark dan Zayyan dari tangga. Alhasil kedua adiknya terluka meski tak parah, David dimarahi habis-habisan dan di kurung dalam kamar mandi semalaman.
Pribadi David memang ceria seperti warna pelangi. Dia mudah tertawa, namun dalam ilmu psikologis bila seseorang mudah tertawa, biasanya hatinya rapuh. Sengaja tampil ceria agar orang-orang tak tahu kalau dirinya lemah dan menyedihkan.
Seperti itulah David.
Seperti itulah anak pertama.
Zayyan termangu mendengar pertanyaan David. Bimbang mencari jawaban karena tak menemukan kata-kata yang pas untuk membalas pertanyaan David.
"Anyeonghaseo, wahai para pria galau! Lihatlah aku bawa apa!" seru Mark yang baru saja tiba membuat suasana tegang itu mencair.
Keduanya menoleh ke arah Mark. Mata David membuat sempurna ketika melihat buah berduri itu.
"Huwekk … Mark kenapa kau bawa durian ke rumah? Bukannya aku sering bilang kalau aku tidak suka durian!" teriak David marah menahan rasa mual nya.
Mark tersenyum polos menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Justru karena kamu tidak suka makanya aku bawa durian!" jawab Mark polos.
David murka mendengarnya.
"MARK!!"
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️