
Setelah melakukan visum, Arsyila pulang bersama David. Gadis kecil itu tampak murung, dia memilih menatap keluar jendela. Hatinya sedang gelap kelabu, usianya yang masih muda, namun dipaksa dewasa oleh keadaan untuk mengerti dan merasakan kehilangan orang tua.
Banyak hal yang tidak bisa dicerna dan dipahami karena pikirannya masih terbatas. Belum tahu makna kehilangan yang sesungguhnya.
Masih mengira kalau orang tuanya baik-baik saja dan berada di tempat yang indah bernama surga.
Dulu dirinya dirundung, karena tidak punya ayah. Sekarang dia dirundung, karena tak punya ibu.
Mengapa mulut manusia sangat kejam dan tajam?
"Pa … kenapa mereka jahat banget sama Syila? Padahal Syila tidak jahat sama mereka? Dulu Syila diejek karena nggak punya Papa sekarang mereka ejek Syila karena tidak punya Mama?"
Pertanyaan itu keluar dari lisan gadis kecil yang tak mengerti tentang asinnya garam kehidupan.
Dia bertanya tanpa menoleh. Syila memilih menggambar di jendela mobil.
David termangu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut kecil Syila. Hatinya sesak dan sakit, ujian Syila sangatlah berat. Dirinya saja terpuruk saat kehilangan istrinya yang ternyata selingkuh dengan adiknya sendiri.
Lantas, bagaimana dengan Arsyila?
Dirinya ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh orang tua dan tak dianggap ada oleh keluarga ibunya.
Sakit bukan?
Tentu saja sakit.
David tersenyum getir. Dia mengelus puncak kepala anak yatim-piatu itu dengan sangat lembut.
"Mereka cuma iri sama Syila karena baik-baik saja dan tetap bahagia meski cuma punya satu orang tua. Sedangkan, mereka punya orang tua lengkap tapi tidak baik-baik saja dan bahagia."
"Meski Syila cuma punya papa, Syila bebas mau main apa saja dan belajar kapan saja. Sedangkan, mereka? Kadang tidur saja tidak bisa karena dituntut untuk menjadi pintar oleh mama dan papa mereka."
David memberikan pengertian pada Arsyila dengan caranya sendiri agar gadis kecil itu mengerti sedikit banyak tentang hitamnya dunia ini.
Arsyila menggigit bibirnya guna menahan tangis agar tak tumpah.
"Tapi, Syila juga iri sama mereka karena punya orang tua lengkap," cicit Arsyila pelan membuat David terhenyak.
Pria tampan itu segera menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Tangisan Syila yang tertahan langsung melengking kencang. Dia meluapkan semua perasaannya dengan tangisan.
"Huwaa … Syila kangen Mama!"
David mengangkat gadis kecil itu atas pangkuannya. Dia menepuk lembut punggung Arsyila membuat gadis kecil itu semakin nyaman untuk menangis dalam pelukan sang ayah angkat.
"Sutttt … semuanya akan baik-baik saja ya, girl. Besok kita ke kuburan mama."
David memberi pelukan ternyaman pada Arsyila. Mengecup puncak kepala anak angkatnya berulang kali. Memberikan ketenangan pada Arsyila agar dia tahu kalau dirinya tak sendirian.
Ada David yang akan melindunginya dari kejamnya dunia.
Ada rasa iba dalam dada David. Dirinya ingin memberikan keluarga lengkap untuk Arsyila.
"Apa sudah saatnya aku cari mama muda buat Syila ya? Tapi, apa ada yang mau sama duda sad boy kayak aku?"
David bertanya-tanya dalam hati. Tanpa sengaja dia menatap spion mobil depan dan melihat wajahnya di sana.
"Haiss … aku lupa kalau aku tampan. Jangankan mama muda, istri orang saja pasti bakal jatuh cinta padaku, apalagi aura ku seperti ATM berjalan," batik David tersenyum lebar dalam hati penuh kesombongan atau lebih tepatnya percaya diri tingkat dewa.
*
*
"Besok habis pulang dari kuburan mama kita ke kebun binatang," ajak David disambut dengan senyuman bahagia oleh Arsyila.
"Yess … Syila seneng banget, Papa … Syila mau lihat orang hutan di sana. Mau lihat bapaknya kucing oyen juga!" balas Arsyila semangat membuat David tertawa kecil.
"Emang kucing oyen punya bapak?"
"Punya, Pa."
"Siapa?" David bertanya seraya mencubit gemas hidung mancung putri angkatnya.
"Harimau sumatera," jawabnya polos.
David tertawa lepas, begitupun Arsyila. Mereka berdua tak sadar telah memancing atensi para pelayan.
Semua orang tersenyum senang melihat Arsyila bahagia bersama David. Terlebih lagi gadis kecil itu ceria dan sopan pada mereka. Membuat semua orang nyaman berinteraksi dengannya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Ternyata sudah ada Zayyan dan Riska di sana. Keduanya tersenyum lebar menyambut kedatangan Arsyila, karena mereka memang telah merindukan gadis kecil itu.
"Syila!" panggil Riska semangat membuat gadis kecil itu langsung mengalihkan atensinya pada Riska.
Senyuman cerah terbingkai di wajah mungilnya. Berbeda dengan Riska dan Zayyan yang telah pudar senyuman mereka saat melihat pipi Syila biru kemerahan.
"Astaghfirullah, Sayang … pipi kamu kenapa?" tanya Riska khawatir begitupun dengan Zayyan.
Keduanya bangkit dari sofa segera mendekati Arsyila dan David.
Wajah Arsyila berubah cemberut. Dia teringat Tante jahat yang menyakitinya.
"Ini gara-gara Tante jahat, Aunty!" Gadis kecil itu melapor, dia tidak memanggil Riska ibu lagi, karena David melarangnya.
Riska mengambil alih gendongan Arsyila. Dia membawa gadis kecil itu duduk di sofa.
Zayyan mengepalkan tangannya erat. Dia kecewa pada sang kakak karena telah gagal menjaga Arsyila hingga gadis kecil itu terluka.
"Kalau memang kamu tidak bisa menjaganya dengan baik. Biar aku dan Riska saja yang merawatnya!" dengus Zayyan mengibarkan bendera permusuhan dari kata-katanya.
David langsung menatap tajam pada adik bungsunya.
*
*
Bismillah, udah bisa up lagi. Insya Allah akan teratur up nya ya guys ❤️🌹🥰
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️