Mas Duda Rasa Perjaka

Mas Duda Rasa Perjaka
Cobaan Hidup Zayyan



Zayyan dan Riska sudah pulang ke hotel. Tidak banyak pembicara antara keduanya, mereka berdua sama-sama diam membuat suasana menjadi sangat dingin. Zayyan tidak tahu harus berbuat apa, karena dia tidak punya pengalaman membujuk wanita yang sedang marah.


Terlebih lagi kejadian tempo lalu membuat Riska semakin dingin padanya. Ada rasa takut dalam hati pria tampan itu, bila sampai Riska ingin bercerai dengannya.


"Aku mau pulang ke rumah, Bunda!" tegas Riska lagi setelah keluar dari kamar mandi.


"Besok pagi kita berangkat ke Jakarta. Malam sudah larut, lebih baik kita istirahat dulu!" balas Zayyan datar menanggapi permintaan Riska.


Hari keduanya sama-sama sedang bimbang. Ego mereka masih saja keras, belum melebur menjadi satu. Butuh waktu untuk pengantin baru agar bisa saling memahami satu sama lain.


Sama halnya seperti pasangan pada umumnya. Tak mudah untuk saling mengerti dan memahami.


Riska berjalan ke arah sofa. Dia memilih tidur di sana, malas sekali tidur satu ranjang dengan Zayyan dalam kondisi perang dingin di antara mereka berdua.


"Kenapa kamu tidur di situ?" tanya Zayyan heran dengan raut wajah dinginnya.


"Aku mau tidur di sini." Riska menjawab dengan raut wajah datar. Dia enggan menoleh ke arah Zayyan.


Emosinya sedang hancur, bisa-bisa dia kembali mengajak Zayyan bertengkar.


"Tidur di kasur, Riska. Nanti badan kamu sakit!" larang Zayyan dengan nada tegas tak membuat Riska menoleh ke arahnya. Dia tetap kukuh pada pendiriannya untuk menjauhi Zayyan saat ini.


"Aku pernah hidup miskin dan tidur di atas kursi kayu dan aku baik-baik saja, tidak usah mengkhawatirkan aku!" sanggah Riska dingin lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang.


Zayyan terkejut mendengar fakta kalau Riska pernah hidup miskin. Namun, setahunya Raja Baskoro tidak pernah miskin.


Ahh … Zayyan sadar kalau mereka belum mengenal terlalu lama satu sama lain. Masih banyak cerita yang belum Zayyan dengar dan masih ada rahasia yang belum terungkap.


Zayyan menghela nafas berat, sungguh keadaan yang seperti ini sangat membuatnya tak nyaman. Padahal baru malam kemarin mereka bermesraan dan tertawa bersama di atas ranjang.


Lalu sekarang mereka berdua saling berjauhan dan sama-sama egois.


Bergerak Zayyan melangkah mendekati Riska. Dia mengangkat tubuh kecil istrinya dengan mudah membuat Riska terkejut bukan main.


"Mas, turunin aku?!" teriak Riska karena kaget tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara.


Zayyan tak menjawab, dia juga tidak menghiraukan Riska yang memberontak sedari tadi.


Zayyan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Membuat Riska ingin bangkit, namun Zayyan segera mendorong tubuhnya hingga terjengkal ke belakang.


"Kamu tidur di kasur, biar aku tidur di sofa." Setelah mengatakan itu Zayyan segera merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia tidur memunggungi Riska yang masih terkejut dengan sikap Zayyan.


Sang gadis menghela nafas berat. Dia masih marah pada Zayyan dan dirinya juga butuh waktu untuk sendiri.


"Huff … ternyata pertengkaran suami istri adalah sisi gelap pernikahan," gumam Riska pelan.


Begitupun dengan Zayyan. Pria itu belum tidur. Pikirannya masih tertuju pada perdebatan nya tempo siang dengan Riska. Hati menyuruh Zayyan untuk segera meminta maaf. Namun, ego melarangnya.


"Mama … anak bungsu mu ini lagi galau."


"Mark, David … sekarang aku sadar kalau bertengkar dengan kalian lebih baik daripada bertengkar dengan istri."


"Gara-gara tadi siang, jatah ku malam ini kandas."


Zayyan bermonolog sendiri. Ternyata yang paling dirugikan saat pertengkaran suami istri adalah suami.


Istri bisa tidur nyenyak tanpa hoho hihi. Sedangkan, suami tidak. Sama halnya seperti Zayyan.


Zayyan berbalik arah, karena rindu melihat wajah cantik Riska.


Gleg


Zayyan menelan ludahnya ketika melihat selimut Riska melorot dan gaun tidur istrinya naik ke atas perut memperlihatkan segitiga merah muda yang menggoda.


"Oh my God … di antara banyaknya ujian hidup, yang paling berat adalah ujian menahan n*fsu. Apalagi n*fsu pada yang sudah halal," gumam Zayyan pelan.


Sesuai yang bersembunyi di balik celana Zayyan langsung tegak.


Tuing.


Zayyan langsung menundukkan kepalanya melihat miliknya yang terbungkus celana pendek.


"Duhai, anaconda … segeralah tidur kembali, karena percuma bangun kalau pemilik lembah berbulu sedang marah besar!"


*


*


Wkwk 🤣🤣 kasihan banget si Zayyan. Emang fakta di lapangan begitu ya, Bun 🤭🤭 pak su emang syulitt menahan diri buat nggak minta jatah.


Eh btw author mau crazy up 6/8 bab … dengan janji para pembaca novel ini komentar semuanya dan vote senin jangan lupa kopi juga biar author semangat up 🤭


Mau tidak???


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️