
David termangu duduk di kursi antrian rumah sakit. Bajunya dipenuhi oleh darah Rina, demi apapun saat ini pria itu ketakutan, meski bukan dirinya yang kecelakaan, namun melihat dengan mata kepala sendiri kecelakaan maut yang sangat tragis membuat mentalnya terpukul.
"Ya Tuhan … dia yang kecelakaan, aku yang tremor," gumam David pelan.
Tak berselang lama salah satu petugas medis keluar dari ruang UGD. Segera David berdiri menyambut wanita berseragam hijau itu.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya David penuh rasa khawatir menyelimuti dadanya.
"Apa Anda Zayyan? Sedari tadi pasien menyebut nama Zayyan," perawat itu bertanya pada David.
"Zayyan adik saya, Dok. Apa yang terjadi pada pasien?" tanya David serius menatap lekat wajah khawatir dan lelah perawat itu.
"Sepertinya tidak banyak waktu lagi, sebaiknya Anda saja yang masuk. Pasien sedang sekarat sekarang!"
Mendengar ucapan tim medis membuat David segera masuk ke dalam ruang UGD. Para dokter telah menyingkir dari sana. Tampak mata Rina nyaris tertutup, darah di wajahnya telah dibersihkan.
"Hey, ini aku David … apa kamu masih mengenalku?" tanyanya dengan suara lembut membuat Rina tersenyum lemah.
"Kak David … kakaknya Zayyan," jawab Rina lemah dalam keadaan sekarat.
Tanpa sadar David menggenggam tangan Rina dengan erat. Dia menatap dalam wajah pucat pasi Rina.
Hati pria itu berdebar kencang, bukan gara-gara jatuh cinta melainkan takut. Takut bila sesuatu yang buruk terjadi pada Rina, bisa-bisa mental David semakin terpukul, karena menyaksikan secara langsung musibah besar yang menimpa Rina.
"Iya, benar … hey, jangan tutup matamu," larang David saat melihat mata Rina nyaris tertutup.
Rina berusaha memaksa membuka matanya. Dia menatap sendu wajah panik David yang sangat dekat dengannya.
"Kak … tolong jaga anakku, ya … dia nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Tolong rawat dia dengan baik, Syila anakku … dia anak yang penurut dan ceria. Jangan biarkan senyuman nya hilang. Tolong gantikan peranku …"
Rina berbicara dengan suara tersendat-sendat, karena lehernya seperti dicekik kuat oleh seseorang.
Tangannya menggenggam erat tangan David. Genangan air mata merembes membasahi pipi David. Dia membelai pipi Rina yang terluka karena goresan pecahan kaca jendela.
"Hey, kamu kuat … kamu harus hidup," lirih David pelan dengan suara parau.
Dia sangat takut melihat orang sekarat untuk pertama kalinya. Perasaan takut, cemas dan khawatir bercampur menjadi satu.
"Sekali lagi tolong … jaga Syila," gumam wanita itu nyaris tak bersuara.
Orang yang dia kenal mati secara tragis di hadapannya membuat David sedih.
"Hey … tolong dia! Dokter!" teriak David histeris membuat dokter menggelengkan kepalanya lemah.
Luka Rina terlalu parah, bahkan denyut nadinya nyaris tiada saat datang ke rumah sakit.
David menangis sesenggukan, dia mengacak-acak rambutnya kasar. Wajahnya merah padam dan matanya memanas.
Dadanya terasa sangat sesak.
"Akkk … sial kenapa rasanya sangat sakit? Hiks … padahal aku tidak dekat dengannya. Ya Tuhan … hatiku sakit. Mama … hiks … mama."
David memukul dadanya yang terasa sesak. Pria itu memang tampak kuat, namun dia tetaplah seorang anak manja yang selalu menyayangi dan dekat dengan ibunya.
Ternyata begini rasanya melihat orang yang kita kenal meninggal di hadapan kita. Rasanya sangat menyesakkan, berbagai pikiran buruk merasuki isi kepalanya. Dia takut ditinggalkan.
"Mama … Syila datang!" Suara ceria dan menggemaskan anak kecil terdengar oleh David.
Sontak pria itu menoleh ke arah pintu melihat sosok anak kecil berdiri seraya memandang dirinya dengan sorot mata polos.
"Oom, apa ada mama Syila di sini? Tadi kata Tante suster, mama ada di sini," tanya gadis kecil itu polos membuat dada David semakin sesak saat mengingat pesan terakhir Rina.
*
*
Salah semua tebakannya 🤭🤭
Kenapa dititipkan sama David? Jawabannya ada di next bab … udah 4 bab ni.
Yuk tembus komentar seratus, maka author bakal up kilat lagi 💋💋🌹
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏