
Guys, dukung karya ini biar masuk rangking karya baru yah. Mohon dukungannya, semua yang baca author mohon kerjasamanya untuk komentar dan favorit biar author semangat ππ
Gak berat kok, cukup klik tombol bentuk love dan komentar emoticon β€οΈ juga boleh.
*
*
Semua orang yang mendengar kisah Zayyan ikut sedih. Mereka paham betul bagaimana berada di posisi Zayyan. Untuk membayangkan nya saja mereka tak mampu. Mencintai dalam diam, berjuang demi mendapatkan cinta istrinya. Tetapi, sia-sia.
Tidak ada hasil sama sekali. Seolah perjuangan Zayyan tiada artinya.
Riska menatap Zayyan dengan sorot mata penuh arti. Gadis cantik itu melihat kalau Zayyan tampak sangat terluka oleh masa lalunya.
"Lantas, apa kamu masih mencintainya? Bila kamu terpilih menjadi menantu saya dan menikah dengan, Riska. Kalau suatu hari nanti wanita itu datang kembali dalam kehidupan mu, apakah kamu akan menerimanya dengan tangan terbuka dan mencampakkan anak gadis ku begitu saja?" tanya Raja serius membuat Zayyan terhenyak.
Pria itu terdiam beberapa saat, dia tidak pernah berpikir tentang itu. Selama ini dia mencoba melupakan cinta pertamanya, berharap semua rasa itu tiada.
Semua mata memandang Zayyan. Menunggu jawaban dari pria itu.
"Tidak akan. Saya tdak mau jatuh ke dalam lobang yang sama seperti di masa lalu. Cukup sekali saya dibodohi oleh cinta, sekarang tidak lagi. Saya juga ingin bahagia, ingin tahu rasanya dicintai dan disayangi. Saya ingin tahu dipeluk saat sedang sedih, saya ingin tahu rasanya bercerita dengan istri entang hari yang telah saya lewati. Saya ingin tidur dipeluk olehnya. Saya ingin saling membahagiakan. Bukan saya saja yang berusaha membahagiakan nya. Tetapi, dia juga berusaha untuk membahagiakan saya."
"Saya akan memperlakukannya seperti ratu di hati dan di hidup saya. Tetapi, saya juga ingin diperlakukan seperti raja di hati dan di hidupnya. Saya tidak mau hubungan feeling lonely. Sudah cukup di masa lalu saya menderita, karena cinta dalam diam dan cinta bertepuk sebelah tangan. Sekarang tidak lagi! Saya ingin bahagia!"
Zayyan berbicara dengan lugas. Dia mengeluarkan semua isi hatinya. Pria tampan itu tidak mau menyesal di kemudian hari. Dia sangat lelah di masa lalu, karena berjuang sendirian. Pria itu memberikan yang terbaik untuk pasangannya. Tetapi, dirinya tak mendapatkan balasan sama sekali.
Pernahkah kalian merasakan seperti apa yang Zayyan rasakan? Feeling lonely? Punya pasangan, tetapi, seperti tidak punya. Merasa sendirian.
Meski kita paham betul kalau kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing.
Kita yang harus memperjuangkan kebahagiaan kita.
Sayangnya, pria tulus seperti Zayyan telah disia-siakan. Setiap harinya dia berusaha untuk membahagiakan pasangannya. Tetapi, Rina tidak peduli padanya.
Zayyan lelah β¦ untuk mengingat masa lalu saja dia terlalu lelah.
Raja mampu melihat kesungguhan dalam sorot mata Zayyan. Melalui ucapan dan nada bicara Zayyan terdengar sangat meyakinkan.
Pria tua itu tersenyum penuh arti. Dia menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Cerita kalian bertiga sangatlah unik. Masing-masing punya kesedihan."
David, Mark dan Zayyan menegakkan punggung mereka. Seperti peserta CPNS yang sedang menunggu pengumuman kelulusan.
Wajah mereka semua tegang dan serius. Terkecuali Mark yang tersenyum senyum sendiri.
"Pasti aku yang dipilih menjadi menantu. Secara aku tampan, kaya dan baik hati. Ahh β¦ rencananya aku tidak mau putusin pacar-pacar ku. Tapi, kalau dapat istri seperti Riska. Seperti dapat rezeki nomplok. Kulit bening, mata bulat, plus punya mertua spek ukhti. Bisa cuci mata kalau pulang ke rumah mertua nantinya. Ahayyy β¦ siap-siap jadi pengantin baru!"
Pria itu berkata dalam hatinya. Dia merasa sangat percaya diri, kalau dirinya akan di pilih oleh Raja.
Begitu juga dengan David. Pria itu mengepalkan tangannya erat.
Berbeda dengan Zayyan yang berkecil hati. Pria itu malah pesimis akan dipilih oleh Raja.
"Tenang, Zay. Ingat kata nenek, kalau jodoh takkan salah alamat."
Si bungsu lebih berlapang hati. Dia tidak ingin berharap terlalu tinggi, karena takut terjatuh nantinya.
"Bagaimana, Ja? Kamu tertarik pada duda-duda yang ku punya. Sebelumnya, akan kujelaskan karakter mereka. Di mulai dari David, dia anak yang baik, dominan, keras kepala, penyayang, posesif dan protektif. Sedangkan, Mark. Dia agresif, narsis, terlalu percaya diri sampai lupa sadar diri kalau ada beberapa hal di dunia ini yang tidak dapat kita miliki dan tidak tercipta untuk kita, sedikit mata keranjang, tapi, masih dalam batas wajar, dia tipikal yang rela tahan banting demi orang yang dicintainya bahagia."
"Nah, si Zayyan yang beda. Dia anaknya pendiam, pemalu, suka membantu istriku memasak di dapur. Kurangnya cuma satu, dia tidak pandai mengekspresikan perasaan nya. Hatinya juga sensitif, terkadang ada kata-kata ku atau siapa saja yang membuat hatinya tersinggung, dia akan masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba keluar kamar matanya sudah merah dan bengkak seperti orang yang habis menangis. Berbeda dengan David dan Mark kalau marah bisa meledak-ledak seperti bom waktu. Tapi, tenang saja β¦ meski begitu, mereka tidak pernah bermain tangan dengan siapapun."
Jack Lee memberitahukan karakter anak-anaknya. Agar Riska tahu seperti apa sifat anak-anaknya.
"Hiks β¦"
Di tengah-tengah suasana serius itu terdengar Isak tangis seseorang membuat semua mata memandang ke arah orang itu.
"Zay, kamu kenapa nangis?" tanya David khawatir melihat adik bungsunya.
Zayyan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menyangka kalau Papa tahu kalau aku menangis diam-diam di kamar. Aku kira Papa cuek padaku," ujar Zayyan dengan suara serak membuat Jack Lee terenyuh.
Pria itu segera bangkit berdiri berjalan mendekati putranya. Namun, saat melewati Mark, pria itu menangis sesenggukan secara tiba-tiba.
"Huwaa!" tangis Mark pecah membuat Jack Lee panik.
"Loh, kamu kok ikutan nangis, Mark! Oh atau jangan-jangan kamu juga terharu," tebak Jack Lee.
Mark menangis sesenggukan.
"Kaki ku cantengan papa injak! Huwaa β¦ sakit, Pa!" tangis Mark penuh kesakitan menunjuk kakinya yang di injak oleh Jack Lee membuat pria paruh baya itu melihat ke bawah.
"Hais, salahmu kenapa taruh kaki di lantai. Jadi, ke-injak, 'kan!" protes Jack Lee tanpa merasa bersalah.
"Namanya juga kaki ya pasti letaknya di lantai. Kalau di atas namanya kepala, Pa!" celetuk David kesal.
*
*
Wkwkwkwk π€£π€£. ada-ada aja keluarga satu ini ya, guys.
Btw author pernah cantengan waktu jaman sekolah dan rasanya sakit banget apalagi kalau di injak ππ₯΄π€§
Bersambung.
Salem Aneuk Nanggroe Aceh β€οΈπ