
Wajah Zayyan merah padam, pria igua tidak tahu harus menjawab apa, segera dia membuang wajahnya ke arah lain. Sadar kalau hidungnya berdarah, pria itu segera mengambil tisu yang berada dalam jangkauannya di atas meja nakas.
"Haiss … sungguh memalukan," gumam Zayyan pelan.
Pipi Riska merah merona. Jantungnya berdegup kencang, dia tidak tahu kalau Zayyan sedang belajar tentang hubungan badan.
Sejujurnya Riska pernah mendengar curhatan temannya saat menduduki bangku sekolah menengah atas yang pernah berhubungan badan dengan pacarnya.
Saat mendengar cerita temannya membuat area bawah Riska basah.
"Mas beneran duda, 'kan?" tanya Riska menatap Zayyan dengan sorot mata genit.
"Iya," jawab Zayyan malu-malu membuat wajah Riska sumringah.
"Kalau begitu mas lebih hot, dong. Karena punya pengalaman banyak di ranjang." Riska berbicara dengan nada senang, berbeda dengan Zayyan yang menggerutu kesal dalam hati.
Dia cukup terkejut melihat perilaku Riska yang malu-malu tapi mau. Gadis itu tampak penasaran tentang olahraga panas.
"Tapi, aku masih perjaka. Belum berpengalaman dalam hal itu. Ciuman pun belum pernah," balas Zayyan jujur membuat Riska melongo.
Dia tidak menyangka kalau Zayyan belum pernah ciuman. Itu artinya mereka berdua sama-sama belum pernah dijamah oleh siapapun. Ada rasa senang dalam hatinya, karena Zayyan masih terjaga.
"Bagus kalau begitu," gumam Riska tersenyum penuh arti.
Wajah Zayyan meredup. Dia merasa bersalah pada Riska, karena tidak berpengalaman dalam berhubungan badan. Pria itu kaku dan canggung juga kurang peka.
Tetapi, dia pria yang tahu diri.
"Maaf, karena ekspektasi mu tidak sesuai harapan. Tapi, aku janji akan belajar untuk memuaskanmu. Beri aku waktu satu malam untuk mempelajari buku ini. Setelahnya, aku pasti akan mempraktekkan nya dengan baik dan kamu juga pasti puas!"
Zayyan berkata dengan sungguh-sungguh. Dia menunjukkan buku yang ia pegang pada Riska. Pria itu imbuh membuat istrinya puas dan menjerit-jerit kenikmatan.
Serr.
Pipi Riska merah padam sampai telinganya ikut memerah. Dia memilin ujung handuk kimono nya.
"Tidak perlu belajar dari buku, Mas. Kita manusia dianugerahi hasrat dan naluri. Pasti kita bisa melakukannya sesuai dengan tuntunan buku itu," balas Riska malu-malu membuat Zayyan menelan ludahnya.
Entah mengapa hatinya berdebar kencang. Jiwa laki-lakinya berkobar dia menatap Riska dengan sorot mata lapar.
"Kita akan mulai dari mana?" tanya Zayyan serak.
Riska mendongak menatap iris mata coklat Zayyan. Dia dapat melihat hasrat liar dalam sorot mata suaminya.
"Ciuman," balas Riska pelan membuat Zayyan mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya. Perlahan namun pasti bibir keduanya menyatu.
Mereka berdua bertukar Saliva. Zayyan memegang tengkuk Riska memperdalam ciuman mereka berdua, membuat suasana kian memanas.
Eumm.
Riska meng*rang di sela-sela ciuman. Tangan Zayyan seperti sudah pro, pria itu memegang bulatan kenyal mirip squishy itu membuat Riska mencengkram pundak suaminya.
Handuk kimono yang dipakai Riska jatuh ke lantai membuat tubuhnya polos tanpa pakaian. Zayyan melepaskan ciumannya saat merasa istrinya kesusahan bernafas.
Netra indah Zayyan memindai setiap inci tubuh Riska. Membuat gadis itu malu dan menutup kedua bulatan kenyal nya. Pria itu segera menarik kedua tangan Riska.
Gleg.
Jakun Zayyan naik turun melihat gunung kembar dengan puncak berwarna pink. Entah apa yang terjadi keduanya sudah berada di atas ranjang dan tubuh Zayyan juga polos.
Suara indah Riska memenuhi indera pendengaran Zayyan. Pria itu semakin bersemangat membuat Riska merem melek kenikmatan. Dia menuruti kemampuan naluri laki-lakinya.
Ternyata benar, tidak harus belajar dari buku. Zayyan tahu sendiri apa yang harus dia lakukan. Seperti ada guru yang mengajarinya.
"Aku masuk," lirih Zayyan dengan suara serak.
Riska menganggukkan kepalanya cepat. Dia tidak bisa menahan diri lagi untuk dimasuki. Dia juga ingin merasakan rudal balistik Zayyan.
"Masuk saja, aku tidak tahan lagi, Mas," balas Riska dengan suara pelan. Matanya menatap sayu sang suami.
Perlahan dan pasti Zayyan memasuki Riska. Percobaan pertama tidak berhasil, kedua juga tak bisa, yang ketiga kalinya baru rusak balistik Zayyan menembus tembok pertahanan Riska.
Malam yang panas itu akhirnya mereka lalui dengan gelora asmara yang sangat membara.
Tubuh Riska bergetar hebat saat mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya. Begitupun dengan Zayyan, dia merasa sangat puas.
"Akhirnya aku bisa merasakan duda rasa perjaka," gumam Riska tersenyum puas dalam hati.
Berbeda dengan Zayyan yang kegirangan, karena berhasil memasuki gadis perawan. Dia teringat waktu masih kecil sering mendengar suara ibu dan ayahnya saat bercocok tanam mirip dengan suara Riska dan dirinya.
"Kalau tahu enaknya bercinta bakal seenak ini, sudah dari dulu aku minta papa dan mama nikahkan aku dengan Riska. Biar tiap hari bisa ah ah," batin Zayyan kegirangan.
Tangannya tergerak untuk memainkan gunung kembar milik istrinya membuat Riska membuka matanya.
"Mas."
"Lagi boleh?" pinta Zayyan menatap Riska dengan sorot mata berkaca-kaca. Sontak saja Riska termangu melihat mata suaminya yang berkaca-kaca.
Gadis itu yakin bila dirinya menolak keinginan Zayyan, pria itu pasti akan menangis.
"Boleh, tapi satu kali saja ya," cicit Riska pelan membuat Zayyan tersenyum lebar. Dia mengangguk kepalanya patuh bak anak kucing yang patuh pada majikannya.
"Ahh … enaknya bercocok tanam, aku janji akan minta jatah sehari tiga kali," batin Zayyan kegirangan.
*
*
Maaf baru up hehe, soalnya ini bab ekhm ekhm jadi up nya malam wkwkwkwk 🤣🤣🤣
Besok bakal crazy up lagi 😘❤️🥰
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salam Aneuk Nanggroe Aceh ❤️