
Hai, Guys ... maaf telat up. bismillah hari ini crazy up semua novel author 🌹🌹
yuk follow akun Instagram author Balqis7850 dan follow akun profil author di NT juga.
...Yuk semangat ikutan giveaway nya 💋💋 biar dapat THR nanti pas lebaran 💋🌹Kalau rame yang ikutan, lain kali bakal author adakan giveaway barang, berupa mukena, tas cantik, sepatu dll....
*
*
Seminggu kemudian, setelah kepergian Rina, Syila dirawat oleh David, pria itu memasukkan Syila ke dalam kartu keluarganya. Awalnya Naima dan Jack Lee menolak kehadiran Syila, namun setelah tahu bagaimana kehidupan Rina dan orang tua Rina yang tak menginginkan Syila membuat mereka menerima Syila sebagai cucu angkat mereka.
Hubungan Zayyan dan Riska terasa hambar, karena Zayyan berubah menjadi lebih pendiam, terkadang pria itu melamun dalam waktu yang lama.
Tugasnya setiap hari hanya kerja, ibadah dan melamun. Riska sudah berusaha menghibur Zayyan, namun tak membuat sang suami kembali ceria.
Kepergian Rina membuat Zayyan terpukul. Apalagi setelah tahu Kevin juga tiada.
"Mas, makan dulu yuk. Aku sudah masak gulai kambing dan nasinya masih hangat. Enak kalau kita makan sekarang!" ajak Riska lembut seraya mengusap punggung suaminya yang sedang duduk tegak menatap layar laptop.
"Aku sibuk, Ris. Bentar lagi ya … kamu kalau lapar makan saja duluan!" Zayyan berkata datar tanpa menoleh ke arah Riska.
Mata Riska berkaca-kaca melihat sang suami tak menghiraukan nya. Padahal Riska sudah bersusah-susah tidak tidur siang untuk memasak gulai kambing yang tentunya menghabiskan banyak waktu.
Dia ingin makan malam bersama sang suami. Riska ingin seperti awal menikah, dia rindu Zayyan yang romantis dan manis.
Selama seminggu dia sering kali diabaikan oleh Zayyan. Pria itu bahkan tidak meminta haknya sama sekali, Zayyan seperti hidup sendiri di rumah mewah mereka.
Ya, keduanya telah pindah ke rumah mewah yang dibeli Zayyan untuk Riska.
"Sudah seminggu, Mas," ujar Riska dengan suara serak.
Tangannya terkepal erat. Dia tidak suka dengan sikap Zayyan seperti ini. Gadis itu sadar kalau sang suami merasa kehilangan, namun kehidupan terus berjalan selama nyawa masih bersatu dengan raga.
"Sudah seminggu Mbak Rina meninggal, tapi kamu masih belum move on. Tiap hari kerjamu cuma sholat lima waktu, kerja terus-terusan. Bahkan, pulang ke rumah juga untuk kerja?! Setiap malam aku tunggu kamu pulang sampai aku ketiduran di sofa, terus saat kamu pulang, hanya sebentar saja, karena kamu sudah pergi saat aku bangun tidur?!"
Riska meninggikan suaranya. Dia sudah sangat muak dengan sikap Zayyan yang tak memperdulikannya sama sekali selama seminggu ini.
Setiap kali dia ingin berbicara dengan Zayyan, pria itu selalu berkilah dengan mengatakan dirinya sedang sibuk.
Mereka tidak punya waktu untuk mengobrol bersama. Rasanya kesal sekali mengingat hal itu.
Zayyan tersentak mendengar teriakan Riska. Pria itu bangkit berdiri melihat wajah Riska memerah, mata gadis itu berkaca-kaca menjelaskan bahwa kondisi hatinya sedang tak baik-baik saja.
"Sayang … bukan begitu." Zayyan ingin menyentuh Riska, namun gadis itu memundurkan langkahnya.
Dia sudah sangat kecewa pada Zayyan. Kesabarannya yang setipis tisu sudah basah dan hampir koyak.
Saatnya meluapkan segala amarah terpendam Riska.
"Bukan begitu apanya, huh?! Kamu jahat, Mas … kamu egois … kamu hidup di rumah ini bersamamu, tapi, perilakumu seolah-olah kamu masih lajang?! kamu anggap aku tidak ada di rumah ini?!" teriak Riska melepaskan segala emosi negatif yang bersarang di dalam hatinya.
Zayyan menghela nafas berat. Jujur saja hatinya sakit dibentak oleh istrinya, karena dia jarang sekali dibentak. Namun, saat ini yang harus diprioritaskan adalah perasaan Riska.
Sang istri sedang mengamuk karena ulahnya. Dia mengira Riska akan baik-baik saja, nyatanya sang istri keberatan dengan perilakunya selama seminggu ini.
Inilah yang membuat Riska kesal, dia sudah meledak-ledak seperti orang yang kebakaran jenggot. Namun, Zayyan masih tenang seperti air.
Pria itu langsung sadar dirinya salah dan meminta maaf pada Riska. Membuat sang istri kesal pada dirinya sendiri, sebab Zayyan bukan lawan yang pas untuk diajak berdebat.
"Kamu nyebelin banget, Mas … hiks … aku marah sama kamu! Seharusnya kamu jangan minta maaf dulu biar marahku lama. Huwaa …"
Riska menangis sesenggukan membuat Zayyan tersenyum kecil. Dia langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya. Pria itu sadar sekali dirinya telah salah, karakternya yang tenang, pendiam, perasa dan sensitif mengerti dengan baik alasan Riska marah.
Sang istri terus memberontak, dia juga memukul dada bidang Zayyan bertubi-tubi. Riska kesal sekali pada Zayyan, karena telah mengabaikan nya selama seminggu.
Bugh.
Bugh.
"Kamu jahat! Kamu cuekin aku selama seminggu … hiks …"
Riska menumpahkan segala kekesalannya pada sang suami membuat Zayyan menerima semua pukulan kuat istrinya.
"Iya, aku salah, Sayang … maafin aku, ya," ujar Zayyan dengan suara lembutnya membuat Riska langsung memeluknya erat. Gadis itu menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang sang suami.
Marahnya sudah reda. Pada dasarnya seorang istri bila sedang marah hanya butuh permintaan maaf dari lisan sang suami.
Ada kalanya istri menjadi api, suami menjadi air. Begitupun sebaliknya.
"Jawab dulu, kamu mau maafin aku, nggak?" Zayyan mengecup pundak istrinya.
Riska tak langsung menjawab. Amarahnya memang sudah hilang, namun rasa kesalnya masih bersarang dalam hati.
"Mau, tapi, ada syaratnya," balas Riska serak dan manja membuat Zayyan tersenyum kecil.
Cup.
Zayyan mengecup pipi istrinya. Lalu ia melonggarkan pelukannya dan membelai pipi chubby istrinya.
"Emang syaratnya apa?" Zayyan bertanya seraya membelai bibir basah milik istrinya. Sontak mata Riska berubah sayu menatap sang suami.
Belaian pada bibirnya membuat darahnya berdesir.
"Mas," lirih Riska parau.
"Apa?" bisik Zayyan pelan menatap bibir sang istri penuh damba.
*
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏