Mas Duda Rasa Perjaka

Mas Duda Rasa Perjaka
Gimana Kalau Kita Punya Anak?



Tubuh pria itu membatu. Dia tidak tahu harus merespon bagaimana, karena Zayyan adalah anak bungsu, dia tidak punya adik. Karakternya pendiam dan pemalu, apalagi pada orang asing, baik tua dan muda, Zayyan tak tahu cara menyapa dengan ramah.


"Papa, lagi apa? Kenapa nggak pernah pulang ke rumah?"


Gadis kecil itu bertanya dengan suara menggemaskan membuat Zayyan terdiam cukup lama. Raut wajahnya seperti orang kebingungan, Riska yang melihatnya juga bingung.


"Mas, kenapa diam saja? Ngomong dong. Kasihan dia," bisik Riska pelan membuat Zayyan menutup loudspeaker ponselnya.


"Emangnya aku harus ngomong apa? Aku nggak punya pengalaman ngomong sama anak kecil," balas Zayyan dengan nada pelan membuat sang gadis menepuk jidatnya.


Awalnya Riska cemburu, karena kehadiran Rina dan anaknya. Tetapi, tak jadi setelah melihat Zayyan yang kaku seperti balok kayu pada orang asing.


"Ya, tinggal jawab apa yang dia tanya," ujar Riska asal membuat Zayyan mengerti.


Dia menghadap layar ponselnya. Tampak Syila dengan wajah sumringahnya menunggu jawaban dari Zayyan.


"Ekhm … lebih baik kamu tidur. Sudah malam, anak kecil tidak boleh begadang, nanti giginya ompong," kata Zayyan datar membuat Riska hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Senyum, Mas … senyum … biar dia tidak takut," bisik Riska lagi membuat Zayyan memasang senyuman terbaiknya.


"Oke, Papa … Syila anak baik, jadi harus patuh sama orang tua. See you, Papa … good night, i Miss you so bad." Gadis kecil itu berbicara lugas tanpa bantahan. Sepertinya Rina mendidiknya dengan baik.


"Yeah, see you," balas Zayyan tersenyum kaku.


Tutt …


Panggilan berakhir, Zayyan menghela nafas lega. Pria itu mengelus dadanya seperti sebuah beban telah terangkat.


"Kamu kaku amat sama anak kecil, Mas. Gimana kalau kita punya anak nantinya, bisa-bisa dia takut sama kamu kalau kaku seperti tadi," celetuk Riska membuat Zayyan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Yang tadikan bukan anakku, makanya aku kaku. Beda cerita kalau anakku, darah dagingku. Pasti ada yang namanya kontak batin dan kebahagiaan tak terkira saat berbicara karena dia tercipta dari air m*ni ku," jelas Zayyan secara logis membuat Riska paham.


Zayyan tersenyum usil. Mereka sedang membahas anak, membuat Zayyan tak sabar untuk punya anak.


"Kamu sudah siap untuk hamil, tidak?" tanya Zayyan seraya memeluk Riska dari belakang.


Zayyan masih bertelanjang dada membuat kulitnya bersentuhan dengan lengan Riska.


"Aku sudah siap, Mas. Tapi, agak takut sih, takut nanti terkena sindrom baby blues," balas Riska jujur membuat Zayyan mengeratkan pelukannya.


"Kamu jangan takut. Kata temenku yang bekerja sebagai dokter, sebenarnya sindrom baby blues itu tidak akan menyerang wanita yang punya anak, bila wanita itu mendapat dukungan dari suami, mertua dan keluarga. Mereka yang terkena sindrom ini, biasanya stress akibat mengurus anak sendiri."


"Urusan beres-beres rumah, masak juga tugas bersama, karena kata Mama skill memasak itu adalah skill untuk bertahan hidup, di mana semua orang harus bisa. Ada kalanya istri sakit, harus diurus dan dilayani, and itu sudah menjadi kewajiban suami untuk melayani atau merawat istri yang sedang sakit. Nggak lucu kalau istri sakit, tiba-tiba suami lapar terus suruh istri bangun buat masak. Itu tidak adil bagi kaum perempuan. Dengan dalih istri harus berbakti pada suami."


Zayyan berbicara panjang lebar dengan lugas membuat Riska tersenyum-senyum sendiri. Kata mertuanya Zayyan sangat pendiam dan pemalu juga irit berbicara. Namun, setelah menikah dengannya. Zayyan tampak berubah menjadi lebih baik.


"Itu semua Mama yang ajarin?" tanya Riska lembut seraya mengelus lengan Zayyan yang berada di perutnya.


"He'um, Mama dan Papa yang ajarin aku begitu," balas Zayyan polos membuat Riska gemas.


"Hais, kamu benar-benar contoh anak mama terhebat, Mas." Riska memberi jempol untuk Zayyan membuat pria itu tersipu malu.


"Hihi … pipi kamu merah, Mas," goda Riska membuat Zayyan salah tingkah.


"Udah ah mau tidur, kamu jangan suka godain aku. Nanti aku goda balik kamu nggak bisa jalan seminggu," ancam Zayyan karena salah tingkah membuat Riska menutup mulutnya untuk menahan tawa.


*


*


Epilog.


Seorang wanita cantik sedang membelai kening gadis kecil yang terlelap di sampingnya. Tangan kirinya digunakan untuk memeluk bingkai foto kecil yang menggambarkan foto dirinya dan sang suami.


"Kamu harus kuat kalau suatu hari mama juga pergi ya, Syila … asal kamu tahu, Mama dan Daddy selalu sayang kamu," lirihnya menahan Isak tangis.


"Kevin … aku rindu, kenapa kamu cepat banget perginya," batin Rina menangis sesenggukan.


*


*


Guys, tidak ada pelakor di sini yah, jadi aman di baca 🌹🥰❤️💋


Sengaja author nggak buat setiap bab komedi, agar tidak monoton hehe 🤭 biar sesekali ada bawangnya.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️