Mas Duda Rasa Perjaka

Mas Duda Rasa Perjaka
Jadi Menikah?



Waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa hari Jum'at telah tiba. Pernikahan Riska dan Zayyan hanya diselenggarakan di masjid Istiqlal Jakarta. Mereka tidak membuat pesta lebih, karena resepsi pernikahan akan diselenggarakan pada hari Minggu.


Sengaja tidak sekalian diadakan agar Riska dan Zayyan bisa beristirahat juga bercocok tanam dalam berbagai hal. Agar keduanya tak canggung di atas pelaminan nantinya.


Riska tampak cantik dengan balutan kebaya pengantin berwarna putih. Saat ini gadis itu sedang dalam perjalanan menuju masjid Istiqlal. Rasa gugup menyerang Riska.


"Bunda, Adek gugup," ujar Riska dengan raut wajah cemas di wajahnya.


Laila tersenyum manis. Dia menggenggam lembut tangan Riska. Wanita paruh baya itu menatap lekat wajah cantik putrinya yang telah dirias.


"Gugup, cemas, takut dan deg-degan semuanya sudah pernah Bunda rasakan. Tidak hanya Adek, semua perempuan di dunia ini pasti merasakannya di hari pernikahan. Yang perlu kamu tanamkan dalam hati kalau hari ini pasti akan terlewati dengan baik. Sama seperti sebelumnya."


Laila berbicara dengan lembut. Memberi pengertian pada anak gadisnya yang sebentar lagi akan menjadi istri orang.


"Tapi, kami menikah karena dijodohkan, bukan karena cinta," cicit Riska pelan.


"Pernikahan itu bukan hanya tentang cinta, Dek. Mungkin di tahun pertama cinta terlihat penting. Tetapi, di tahun berikutnya kamu akan sadar kalau pernikahan bukan hanya tentang cinta … peran cinta dalam pernikahan hanya 20%. Selebihnya ada ekonomi, rasa nyaman, perhatian, penyatuan antara dua keluarga si istri dan si Suami."


"Jadi, salah kalau Adek kira pernikahan akan gagal hanya gara-gara tidak cinta. Buktinya, banyak orang yang katanya saling cinta nyatanya bercerai di tengah jalan. Tetapi, lihatlah betapa banyak di luar sana orang yang awalnya tidak cinta malah menua bersama. Sampai di sini adek paham?"


Laila memberikan sudut pandangnya tentang pernikahan pada sang anak. Riska yang mendengarnya merasa nyaman, karena dia bisa memandang pernikahan dengan sudut pandang yang berbeda.


Apa yang telah dikatakan oleh Laila benar adanya. Pernikahan tidak mulu-mulu tentang cinta.


Riska tersenyum manis. Dia meyakinkan dirinya bahwa pernikahannya pasti akan baik-baik saja.


Dia juga berjanji akan belajar mencintai Zayyan.


*


*


Di lain sisi, keluarga Zayyan telah berada di mesjid. Mereka menunggu kedatangan pengantin wanita yang sedang berada di jalan.


David dan Mark menatap ke segala penjuru mesjid. Mereka merasa tenang dan damai berada dalam mesjid.


"Dav, lampu kristal itu mirip yang ada di rumah kita ya," tunjuk Mark pada kakaknya membuat David menganggukkan kepalanya.


Jack Lee dan Naima hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua anak laki-laki mereka.


"Kalian berdua kayak nggak pernah ke mesjid saja," ledek Jack Lee membuat David dan Mark memutar bola matanya malas.


"Macam papa pernah aja," balas David sinis membuat Jack memelototi putra pertamanya.


"Enak bener tuh mulut ngomong. Enggak tahu kamu kalau papa pernah jadi muadzin di mesjid ini, bukan kayak kalian nggak pernah jadi muadzin," sanggah Jack Lee tak terima membuat Mark tersenyum sinis.


"Yeee … gini-gini kalau sholat nggak pernah spam Al-Ikhlas, bukan kayak papa jadi imam sholat magrib di rumah bisanya cuma spam Al-Ikhlas," sindir Mark tepat sasaran membuat wajah Jack Lee merah padam.


"Aku yakin malaikat juga bakal ketawa denger papa kalau sholat spam Al-Ikhlas," tambah David membuat Mark tertawa cekikikan seraya menutup mulut mereka.


"Kurang asam kalian," ketus Jack Lee sekuat tenaga menahan diri untuk tak mengumpat di dalam mesjid.


Jack Lee benar-benar marah pada David dan Mark. Namun, pria itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena apa yang dikatakan oleh anak-anaknya benar. Maklum saja Jack Lee mualaf dan dia cuma hafal tiga surah pendek terakhir di Alquran.


Berbeda dengan tiga orang itu, Zayyan malah gemetar karena gugup. Tangannya menjadi dingin membuktikan pria itu sangat gugup.


"Riskana Anjani Baskoro … Riskana Baskoro Anjani," gumamnya sedari tadi mengulang nama Riska.


Naima yang mendengarnya segera menggenggam tangan putranya.


"Riskana Anjani Baskoro, Zay … bukan Riskana Baskoro Anjani," ralat Naima lembut pada anak bungsunya.


Mata Zayyan berkaca-kaca. Dia sangat takut salah sebut nama.


"Ma … aku …"


Belum sempat Zayyan berbicara. Jack Lee segera bangkit berdiri menyambut kedatangan calon besan nya.


"Itu mereka sudah datang."


Zayyan, David dan Mark langsung menoleh ke arah pintu mesjid. Mata mereka bertiga melebar sempurna ketika melihat Riska dan Laila yang tampil cantik juga tertutup.


"OMG … Tante Laila cantik banget," puji Mark pelan di setujui oleh David.


"Kita doakan semoga Tante Laila cepat jadi janda," tambah David pelan.


"Aamiin," imbuh seseorang membuat David dan Mark langsung menoleh ke pemilik suara itu.


"Papa!" seru keduanya serempak dengan raut wajah merah padam.


*


*


Wkwk 🤣🤣🤣 sengklek semua mereka tuh.


Mau up lagi nggak?? ❤️❤️


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏