
Ulul melihat Riska kesulitan menjawab. Lebih tepatnya pertanyaan Zayyan sangat menjebak Riska. Dia sadar kalau saat ini bukan dia yang harus diprioritaskan oleh Riska, karena sang sahabat sudah punya suami.
"Master, ada yang ingin membeli lukisan dan beliau ingin bertemu dengan Master." lapor salah satu anak buah Ulul membuat suasana tegang itu mencair.
"Baik. Ris … aku ke sana dulu. Silahkan lihat-lihat ya!"
Ulul segera beranjak dari sana. Dia bersyukur ada sang bawahan yang menyelamatkan dirinya dari suasana tegang itu.
Pasangan suami istri itu hening untuk beberapa saat. Genggaman tangannya pada Riska terlepas. Pria itu membuang wajahnya ke sembarang arah, dia melonggarkan dasinya.
"Katanya kamu sayang dan cinta sama aku. Nyatanya bohong."
Ucapan Zayyan membuat Riska tersentak. Dia menoleh ke arah sang suami, tampak wajah Zayyan merah padam. Kulit putih suaminya begitu kontras menunjukkan amarahnya. Bahkan, telinga dan leher Zayyan ikut memerah.
"Mas, bukan begitu!"
"Aku pergi dulu. Kalau kamu mau senang-senang di sini sama sahabat kamu, silahkan. Nanti kalau mau pulang, kabarin aku biar aku jemput!" Tanpa menoleh ke arah Riska, pria itu segera pergi dari sana.
Dada Zayyan sesak dan sakit. Riska terlalu lama menjawab pertanyaannya, menunjukkan kalau istrinya sulit untuk memilih.
Hati Zayyan sakit … bahkan, lebih sakit saat melihat Rina dan Kevin bersama di masa lalu.
Pada akhirnya, Zayyan kembali merasakan rasa cemburu.
Riska mengejar sang suami. Dia tidak ingin Zayyan pergi dalam keadaan marah.
"Mas, tunggu!"
Zayyan menulikan telinganya. Dia segera masuk ke dalam mobilnya, disusul oleh Riska dari belakang. Keduanya telah berada di dalam mobil yang sama.
Segera Riska menggenggam tangan Zayyan, namun pria itu segera menariknya kembali.
"Mas, aku sayang sama kamu! Tadi aku cuma bingung mau jujur karena takut Ulul tersinggung."
"Tapi, kamu tidak takut kalau aku tersinggung dengan diam mu tadi, huh?!" sentak Zayyan lepas kendali. Membuat Riska terhenyak.
"Mas, bukan begitu … Ulul itu sahabat baik aku. Cuma dia yang bertahan temenan lama sama aku!" jelas Riska berusaha untuk menenangkan suaminya.
Zayyan tersenyum getir. Dulu Kevin dan Rina juga berasal dari sahabat, lalu berubah menjadi sepasang kekasih.
"Kamu terlalu polos, Riska … tidak ada persahabatan antara wanita dan pria. Kecuali salah satu di antaranya punya rasa lebih!" sarkas Zayyan penuh makna begitu menohok hati Riska.
Sang gadis terdiam sesaat. Dia rasa Ulul tidak mencintainya, begitupun dirinya yang menganggap Ulul hanya sebatas sahabat.
Dia seolah merasakan Dejavu saat sekolah dulu. Jawaban Riska persis seperti jawaban Kevin di masa lalu. Tahu-tahunya Kevin jadian sama Rina.
"Halah … alasan klasik! Kamu mungkin hanya menganggap dia sebagai sahabat. Sedangkan, dia menganggap mu sebagai wanita yang bertahta di hatinya! Aku tahu itu, Ris … karena aku juga pria! Tatapan matanya saat menatap kamu tadi berbeda. Sama seperti …"
"Sama seperti cara kamu menatap Mbak Rina, cinta pertama kamu yang sudah meninggal itu, iya?!" potong Riska cepat membuat Zayyan membesarkan bola matanya.
"Riska?!" bentak Zayyan dengan nada tinggi membuat Riska ikut lepas kendali.
"Apa?!" teriak Riska tak kalah meninggi.
Mata gadis itu berair, cairan bening membasahi pipinya. Matanya memerah, hatinya sakit mendengar tuduhan tak berdasar Zayyan.
"Ternyata benar ya kata orang : Jangan berhubungan dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya."
"Kamu cemburu buta begini pasti karena takut aku dan Ulul menjalin hubungan seperti Mbak Rina dan Mas Kevin, 'kan?"
"Itu artinya kamu nggak percaya sama aku. Kata cinta yang kamu agungkan saat menyentuhku kemarin cuma bualan semata. Karena cinta tanpa kepercayaan itu tidak ada harganya!"
Setelah mengatakan itu, Riska keluar dari mobil Zayyan. Meninggalkan sang suami sendirian.
Zayyan tidak turun mengejar istrinya. Dia butuh waktu untuk berpikir jernih dan dia sadar kalau Riska juga butuh waktu untuk sendiri.
Zayyan melepaskan tangisnya. Dia menutup matanya yang berair.
"Kamu tidak tahu rasanya dikhianati … kamu tidak tahu rasanya dikecewakan oleh orang yang kita sayang. Kamu tidak tahu rasanya dipermainkan oleh orang yang kita cinta, Riska … rasanya sakit sekali," lirih Zayyan di sela-sela tangisnya.
*
*
*
Di sini dua-duanya salah menurut author. Riska tidak bisa tegas dan mengutamakan suaminya. Sedangkan, Zayyan tidak bisa mengontrol rasa cemburunya, karena dihantui oleh rasa sakit dipermainkan oleh Rina dulu.
Menurut Bunda-bunda gimana? 🌹🥰
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏