
Suasana menjadi hening, sejenak hanya ada kesunyian di ruang tamu. Mereka semua terdiam tanpa ada suara yang membunuh keheningan.
Zayyan dan David merenungi pertanyaan penuh makna dari Mark. Mereka bukan orang bodoh, tentu tahu arti dari pertanyaan Mark yang penuh makna.
Apakah wajar kalau seorang suami menjadikan istrinya samsak tinju?
Apakah layak seorang wanita dijadikan samsak tinju?
David menghela nafas panjang. Entah mengapa urusan percintaan mereka tidak pernah berjalan mulus.
Punya wajah tampan, harta banyak tidak menjamin bisa mulus dalam percintaan. Terlebih lagi Mark, selalu saja terlibat dalam rumah tangga orang lain.
Namun, kali ini berbeda, mereka tidak bisa marah, karena paham betul arti dari pertanyaan Mark.
"Lakukan apa saja yang menurutmu benar," kata David datar tak tahu harus merespon bagaimana lagi.
Mark tersenyum kecil. Hatinya sedikit tenang, karena sudah meminta izin pada kedua saudaranya untuk menjadi pebinor.
"Jangan lupa minta izin sama mama dan papa dulu, biar kamu sukses jadi pebinor," tambah Zayyan polos membuat Mark menganggukkan kepalanya semangat.
"Saran mu bagus, Zay. Kalau perlu aku cuci kaki Mama, terus aku minum air cuciannya biar rencana ku jadi pebinor sukses," imbuh Mark senang membuat David nyaris tersedak ludah.
Mereka bertiga tertawa bersama. Menikmati waktu bersama sebelum berpisah lagi.
Setelah beberapa jam berada di rumah orang tuanya. Zayyan dan Riska memutuskan untuk segera beranjak dari sana.
*
*
Malam sudah larut, seorang gadis bangkit dari ranjangnya lalu berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan cairan bening dari mulut. Perutnya seperti di aduk-aduk, namun saat kembali memuntahkan tak ada isi sama sekali. Hanya cairan saja.
Huwekk.
Zayyan mengernyitkan dahinya di kala merasa terusik dengan suara orang muntah. Perlahan dia melawan kantuknya, membuka mata lebar saat merasa kasur di sebelahnya kosong.
Huwekk.
"Sayang," panggil Zayyan dengan suara khas bangun tidur. Dia berjalan ke kamar mandi dan terkejut melihat istrinya sedang muntah-muntah.
"Astaghfirullah … kita ke dokter yah," ajak Zayyan langsung peka melihat wajah istrinya pucat pasi.
Riska mencuci mulutnya. Dia segera memeluk tubuh suaminya erat.
"Besok aja, Mas. Ini udah malam," gumam Riska pelan.
Zayyan tidak bisa menutupi rasa khawatirnya. Dia menggendong istrinya keluar dari kamar mandi. Kemudian dia bantu Riska tidur dengan nyaman.
"Sekarang aja ya kita ke dokter. Wajah kamu udah pucat banget, Sayang," balas Zayyan lembut membuat Riska menggelengkan kepalanya lemah.
"Besok aja …"
Zayyan menghela nafas berat. Rasa kantuknya menghilang dalam sekejap saat melihat wajah pucat Riska.
Dia segera mengambil minyak kayu putih dari laci, pria baik itu menuangkan minyak kayu putih pada telapak tangannya, kemudian ia usap perut Riska dengan lembut. Tak berhenti di situ, dia juga memijat kaki, tangan dan kepala istrinya.
"Makasih ya, Mas," lirih Riska pelan.
Zayyan tersenyum kecil. Dia mengecup kening istrinya.
"Masih mual-mual?" tanya Zayyan lembut.
"Masih, Mas. Tapi, berkurang waktu Mas elus perut aku," balas Riska pelan.
Segera saja dia beranjak dari sana, Zayyan mengambil sesuatu dari lemarinya.
"Sayang, kamu pipis dulu gih, nanti tampung ke dalam botol kecil terus masukin ini ke dalam urin kamu," suruh Zayyan cepat membuat Riska terheran-heran.
Dia menerima tespek dari Zayyan. Sang gadis menelan ludahnya.
"Kalau gagal gimana?" tanya Riska takut membuat Zayyan kecewa.
"Kalau gagal ya coba lagi … udah ah … cepat pipis sana!" titah Zayyan tak sabar membuat Riska mengerucutkan bibirnya.
Segera gadis itu berjalan ke kamar mandi dipapah Zayyan. Dia melakukannya yang diperintahkan oleh suaminya. Zayyan menunggu di luar.
1 menit
2 menit
3 menit
10 menit.
Zayyan sudah tak sabar lagi, segera dia mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang … udah siap belum? Udah 10 menit ini loh."
Zayyan mengeraskan suaranya agar terdengar ke dalam. Tak berselang lama Riska keluar dari kamar mandi, wajah gadis itu sembab karena menangis membuat Zayyan iba.
"Hey .. nggak usah nangis, it's okay … kita bisa coba lagi," ujar Zayyan lembut seraya menangkup pipi Riska.
Gadis itu semakin terisak-isak, dia memberikan tespek pada Zayyan membuat pria itu langsung melihatnya, dia sudah siap-siap kecewa.
Namun …
Garis dua.
"Ga-garis d-dua," ujar Zayyan terbata-bata membuat Riska tersenyum haru.
"Aku hamil, Mas," balas Riska menegaskan kalau dirinya positif hamil.
Kepala Zayyan langsung pusing tujuh keliling, seperti ada bintang berkeliling di atas kepalanya.
"He he … aku jadi pa–," belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya. Zayyan jatuh tak sadarkan diri membuat Riska terkejut.
Bugh.
"Astaghfirullah, Mas?! Mas … bangun! Jangan pingsan." Riska berusaha menyadarkan suaminya. Gadis itu panik karena Zayyan tak sadar.
"Ya Allah … ck .. yang hamil siapa yang pingsan siapa," gerutu Riska kesal melihat suaminya pingsan.
*
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Maaf banget yah baru up lagi ya, guys 🌹🥰❤️