Mas Duda Rasa Perjaka

Mas Duda Rasa Perjaka
Halo-Halo Bandung



Usia kandungan Riska sudah berjalan hampir sembilan bulan. Hanya tunggu beberapa hari gadis muda itu akan menjadi mama muda. Selama kehamilan Riska tidak banyak mengalami sakit atau fase mengidam.


Zayyan lah yang merasakan itu semua. Tak sedikitpun dia mengeluh, hanya sedikit merengek dan banyak manja pada Riska saja.


Mereka berdua belum mengetahui jenis kelamin calon buah hati mereka, karena ingin menjadi hadiah nantinya.


Baik Zayyan maupun Riska hanya ingin anak mereka sehat.


"Sayang, hati-hati. Jangan banyak jalan, ngeri aku lihatnya. Mana cara jalan kamu ngangkang begitu … sebelas dua belas sama bocah habis sunat," omel Zayyan membuat Riska kesal.


Wanita itu mengambil bunga kertas yang berada di dalam pot, dekat dengannya pun langsung melempari Zayyan yang sedang main game.


"Dasar suami durhakim. Aku jalan kayak gini juga gara-gara kamu?!" sentak Riska galak membuat Zayyan menelan ludahnya.


Sang istri makin hari makin galak. Mereka bukan lagi pengantin baru, Zayyan juga tak lagi cengeng, tak ada lagi yang makanya jaga image.


Mereka benar-benar sudah melebur menjadi suami istri.


"He he … bukan salahku, Yank. Sebenarnya aku juga pengen hamil, biar bisa merasakan apa yang kamu rasakan, tapi apalah daya … sudah ketetapan dari Sang Pencipta kalau laki-laki bisanya menabur benih!" Pria itu membela dirinya. Semakin hari Zayyan semakin pintar membela diri.


Mendengar ucapan suaminya membuat Riska kesal setengah mati. Setiap kali berdebat gara-gara perut Riska yang semakin besar, pasti Zayyan beralasan seperti tadi.


"Ya udah kamu beli semangka di pasar terus telan bulat-bulat dan keluarkan dari bawah bulat-bulat juga, biar kamu tahu gimana sulitnya mengandung!" cerocos Riska kesal membuat Zayyan tertawa cengengesan.


"Istri lagi hamil bukannya di manjain, malah asik main game aja … game game game. Nanti malam tidur sama game aja! Minta jatah sama game. Jangan sama aku?!" ketus Riska lalu berjalan dengan susah payah menuju kamarnya.


Zayyan yang melihat Riska merajuk tertawa kecil. Dia langsung berhenti bermain game.


"Lebih baik aku stop main game, daripada tidak di kasih jatah semalaman," gumam Zayyan pelan.


Pria itu langsung berlari ke kamar mengikuti istrinya dari belakang. Dia melihat Riska kesulitan berjalan.


Bergegas dia menggendong istrinya ala bridal style secara tiba-tiba membuat Riska terkejut.


"Astaghfirullah, Mas … kalau jantung aku copot gimana?" tanya Riska dengan nada kesal.


"Kalau copot ya pasang lagi," balas Zayyan santai seraya mengecup pelipis istri tercintanya.


Plak.


Riska memukul manja lengan suaminya.


"Kamu kira jantung aku mainan bongkar pasang apa, bisa lepas pasang!" celetuk Riska membuat Zayyan tersenyum.


Pria itu tak menjawab, dia membantu Riska duduk di bola besar khusus orang hamil.


"Rileks dulu, biar kamu dan calon bayi kita tenang," ujar Zayyan lembut membuat hati Riska sejuk.


Suaminya memang sangat pandai menyejukkan hatinya yang panas. Inilah alasan Riska tak bisa marah pada Zayyan lama-lama, karena pria itu selalu menjadi air bila dirinya menjadi api.


Riska tidak punya lawan bila marah.


Marah yang dimaksud ya seperti tadi. Kadang kala Zayyan asik sendiri dan Riska tidak suka itu.


Biasalah … wanita terkadang tidak menyukai pasangan yang terlalu lalai dengan dunianya sendiri.


Apalagi Riska sedang hamil. Tubuhnya tak lagi seperti masih lajang. Mood nya juga random selama hamil.


Sering marah-marah tak jelas. Namun, Zayyan sangat sabar menghadapi wanitanya itu.


"Aku udah booking satu lantai rumah sakit swasta XX biar kamu aman nantinya melahirkan." Zayyan berbicara dengan lembut seraya memegang pinggang istrinya.


Membantu Riska agar aman dan nyaman duduk di atas bola karet itu.


"Boleh kalau rumah sakit swasta, karena swasta sama negeri kan beda, Yank. Swasta sedikit pasien nya dan tentunya berasal dari kasta tinggi. Yang lucu itu kita booking satu lantai rumah sakit negeri, karena kalau negeri pasiennya tentu banyak."


Zayyan menjelaskan pada sang istrinya. Mereka mengobrol hangat, seraya melepas energi negatif yang ada pada mereka.


Saat sedang mengobrol. Riska terhenyak dikala merasakan cairan bening keluar dari sela-sela pahanya. Sedangkan, Zayyan terkejut melihat cairan bening membasahi bola karet hingga lantai.


"Yank, kamu pipis?" tanya Zayyan polos.


"Enggak, Mas … i … ini kayaknya air ketuban," balas Riska terbata-bata membuat wajah Zayyan berubah tegang.


"Ketuban … ketuban … kayaknya aku pernah dengar. Ketuban … itu air …"


Zayyan berusaha mengingatnya, mata Zayyan langsung terbuka lebar saat sadar apa yang terjadi. Begitupun dengan Riska.


"Melahirkan!" seru keduanya serempak.


Tiba-tiba suasana romantis tadi berubah menjadi ricuh.


"Melahirkan … melahirkan. Haduhe, Mas … perutku udah sakit ini. Ketuban ku udah pecah! Kita ke rumah sakit, Mas?!" pekik Riska panik seraya memegang pinggang nya.


"Ada bintang tujuh di kepalaku," gumam Zayyan lalu ambruk di tempat membuat Riska mengumpat kesal dalam hati.


"Ya Salam … kok pingsan sih. Mas, bangun! Bukan waktunya pingsan!" teriak Riska berusaha membangunkan suaminya, namun tak mempan.


Plak.


Plak.


Riska menampar pipi suaminya kiri dan kanan dengan keras agar suaminya sadar. Keadaan sedang darurat, Riska harus ambil sikap.


Benar saja, mata Zayyan terbuka kembali. Dia langsung terduduk dan menatap horor istrinya.


"Ke .. kenapa kamu menampar ku?" tanya Zayyan terbata-bata.


Ya Salam … demi apapun Riska ingin menenggelamkan suaminya ke sungai Nil.


"Sengaja aku tampar biar kamu sadar! Yang hamil itu aku, yang mau melahirkan itu aku, yang harusnya pingsan itu aku, Mas! Aww … bukan kamu. Astaghfirullah, Mas. Tunggu apalagi? Anak kita udah minta keluar ini!" teriak Riska keras menahan sakit membuat Zayyan sadar lalu bergegas menggendong istrinya.


"Gak boleh pingsan … gak boleh pingsan," rapal Zayyan dalam hati.


Untung keduanya tinggal di rumah orang tua Riska yang di Bandung. Jadinya, ada orang lain di rumah yang pastinya menjadi teman mereka.


"Halo-halo Bandung! Riska mau melahirkan. Siapkan mobil sekarang?!" teriak Zayyan kencang membuat seisi rumah geger.


*


*


Wkwkwkwk 🤣🤣🤣 si Zayyan emang sengklek. Kalau punya suami kayak Zayyan kira-kira enaknya di apain yah?? 🤣


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


Mampir juga di karya temen author yang gak kalah seru nya yah 🥰🥰