
Dua Minggu berlalu semenjak Riska ketahuan hamil. Keadaan Zayyan semakin aneh, pria itu mengalami kehamilan simpatik. Anehnya semenjak Riska hamil, mulut Zayyan mulai lemes. Dia tidak lagi pendiam, sudah menjadi pria normal yang banyak bicara dan berani bertemu banyak orang.
Biasanya Zayyan selalu pendiam dan pemalu. Sepertinya anak yang dikandung Riska menuruni sikap Raja yang punya mulut lemes.
Saat ini keduanya sedang menonton film azab. Awalnya Riska menolak untuk ikut menonton, namun dia tidak tahu harus berbuat apa, karena Zayyan seperti anak kecil yang akan menangis bila keinginannya ditolak.
[Dasar menantu sialan. Jangan pernah coba-coba peras uang anakku yah?! Ambil ini dan pel seluruh lantai yang ada di rumah ini?!]
[Hiks … ba-baik, Ma]
[Jangan panggil aku mama! Nggak Sudi aku punya menantu miskin dan kolor sepertimu, Tukiyem??]
Zayyan yang melihatnya pun mengumpat kesal. Dia sangat kesal pada protagonis dalam film azab tersebut.
"Dasar wanita goblok! Harusnya kalau di dorong ya dorong balik. Udah miskin, goblok lagi … mau aja dijadiin babu!" umpat Zayyan kesal membuat Riska menghela nafas berat. Dia memijat keningnya yang terasa nyeri.
"Mas, itukan cuma film … ngapain sampai marah-marah nggak jelas. Lagian dia cuma akting jadi menantu tersakiti!" kata Riska berusaha membuat Zayyan tenang. Namun, pria itu tetap kesal, mungkin juga karena efek kehamilan simpatik.
"Ya walaupun akting harusnya dia lawan, dong. Gara-gara film begini banyak istri di Indonesia yang memilih mengalah dan mau dijadikan babu sama mertua dan ipar dengan dalih berbakti pada suami. Apaan berbakti sama suami?! Yang ada dia menzalimi diri sendiri. Kesel aku, Sayang! Kamu juga kalau nanti ada yang jahat sama kamu jangan cuma diam, langsung balas tunai. Jangan kredit!" gerutu Zayyan sambil menasehati istrinya.
Riska tidak tahu harus tertawa atau menangis, karena suaminya benar-benar sangat menyebalkan. Meski apa yang dikatakan oleh Zayyan benar adanya.
"Iya, Mas … tahu … tapi itukan cuma film. Dia di bayar juga. Kalau kamu nggak suka film ini, tinggal cari Chanel yang lain!" balas Riska lembut seraya mengelus lengan sang suami.
Dia berusaha menenangkan suaminya yang sedang marah-marah. Zayyan menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan.
"Hah .. lebih baik kita ke pantai saja, mau nggak, Sayang?" tanya Zayyan menoleh ke arah istrinya.
Pria itu ingin memanjakan mata istrinya. Selama beberapa hari ini Zayyan sangat sibuk, dia pulang larut malam dan berangkat pagi. Jarang ada waktu berduaan untuk bermesraan. Namun, Riska dapat memahami suaminya dengan baik.
Dia tidak pernah cemburu atau marah-marah. Malahasan Zayyan yang selalu meminta maaf karena merasa tidak enak pada istrinya.
Mendengar ajakan sang suami membuat Riska tersenyum dengan lebar. Dia sudah sangat lama ingin ke pantai.
"Mau, Mas … aku mau ke pantai! Mau naik banana boat juga. Udah lama aku nggak ke pandai!" balas Riska dengan senang hati.
Sang suami tersenyum manis. Dia ikut senang melihat istrinya bahagia.
"Ya sudah kalau begitu yuk kita siap-siap dulu!"
Keduanya segera beranjak dari sana. Zayyan mematikan televisi, suami istri itu memakai pakaian pasangan.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️
*