
Seminggu berlalu semenjak Riska melahirkan. Rumah Zayyan benar-benar ramai, lebih tepatnya ramai karena suara tangisan anak-anaknya. Mata Zayyan cekung, lingkaran hitam terdapat di sekitar matanya.
Jarang sekali dia tidur semenjak anak-anaknya lahir. Tiada malam tanpa begadang, tanpa tangisan anak-anaknya.
Suara tangis tiga bayi mungil itu bak alunan melodi kematian bagi Zayyan. Ditambah kenyataan pahit yang harus dia terima, yaitu istrinya sedang nifas dan Zayyan harus berpuasa selama beberapa purnama.
Oek … oek
"Suttt … Ricko jangan nangis ya, Nak. Nanti Ricka dan Ricky ikut nangis!" ujar pria itu pelan pada putranya.
Ricko Lee Zaka anak pertama Zayyan.
Ricky Lee Zaka anak kedua Zayyan.
Ricka Lee Zaka anak ketiga Zayyan.
Jangan tertawa mendengar nama ketiga bayi mungil itu. Simple memang, namun, Zayyan telah berusaha mencari nama yang baik untuk anak-anaknya.
Butuh waktu empat hari untuk mencari nama yang pas untuk anak-anaknya.
"Sutt … Ricko … Ricko … kalau kamu menangis, nanti papa sunat loh!" ancam Zayyan membuat Riska yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mencubit pinggang suaminya.
"Auch … sakit, Yank."
"Berapa kali ku bilang kalau yang pakai baju biru namanya Ricki, Mas. Yang pakai baju putih baju Ricko, dan yang pink Ricka! Gimana sih … mereka ini anak kamu loh, kok bisa sering ketuker nama mereka," omel Riska kesal membuat Zayyan mengerucutkan bibirnya.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Riska. Zayyan belum bisa membedakan antara Ricko dan Ricki.
"Gimana nggak ketuker, lihat tuh wajah mereka berdua. Mirip banget! Kalau si Ricka aku tahu, karena dia cewek!" protes Zayyan membuat Riska memutar bola matanya malas.
Sang suami memang benar-benar menyebalkan menurutnya. Zayyan semakin hari semakin pintar mengomel. Entah ke mana Zayyan yang pendiam dan kaku.
Pernikahan mereka sedang berjalan menuju dua tahun dan sikap Zayyan yang malu-malu berubah menjadi malu-maluin.
Tak tahu saja Riska kalau Zayyan berubah karena otaknya memang sudah sengklek semenjak mengetahui nikmatnya lembah berbulu.
"Haiss … namanya juga kembar, Mas. Kamu ini … iss … kesel lama-lama ngomong sama kamu! Minggir, biar aku kasih makan Ricki dulu! Kayaknya dia lapar!"
Riska mendorong suaminya ke samping. Dia segera menggendong putranya. Seperti punya insting tajam, Ricka membuka mulutnya dan mencari-cari sumber kehidupan nya.
Gleg.
Zayyan menelan ludahnya kasar, saat melihat benda kenyal itu semakin besar dan berisi semenjak menyusui.
Aaaa … Zayyan bisa gila.
"Ututu … anak mama haus dan lapar yah! Iya sayang … ya udah makan dan minum yang banyak yah. Biar cepet gede dan bisa makan buah nanti," ujar Riska lembut dengan nada yang dibuat-buat imut seperti ibu muda pada umumnya saat berbicara dengan bayi nya.
Sama seperti pecinta kucing saat berbicara dengan kucing nya.
Zayyan menelan ludahnya berkali-kali melihat putranya menyedot sesuatu yang ingin sekali disedot oleh Zayyan.
Ingin sekali dia menampol kepala Zayyan, karena telah berani meminta hal tersebut padanya. Sang suami benar-benar menyebalkan.
"Mas, kamu ada-ada saja! Jangan aneh-aneh ihh … makin hari makin mesum aja jadi suami," omel Riska seperti Emak-emak ber-daster pada umumnya.
Penampilan Riska setelah melahirkan benar-benar berubah. Jarang memakai gaun mewah lagi, cukup daster yang punya resleting atau kancing baju depan. Agar mudah menyusui anak-anaknya.
Menjadi ibu tiga anak kembar tak semudah ibu satu anak. Apalagi anak-anaknya merupakan anak pertamanya dan Zayyan. Tentu saja mereka tidak punya pengalaman dalam merawat anak.
Berbeda dengan Zayyan yang begadang malam dan sering terjaga tengah malam. Riska malah tidur pulas, itu semua atas anjuran dokter dan perintah Zayyan.
Mau selelah apapun bekerja di siang hari, Zayyan tetap berusaha ikut andil dalam merawat anak-anaknya.
Buat bersama maka merawat bersama juga.
Itulah prinsip Zayyan. Setiap malam dia yang menenangkan anak-anaknya bola rewel dan tentunya telah ada ASI Riska yang sudah dipompa sebelumnya.
"Kamu tega banget sih. Lihat si Jacky udah bangun. Masak setiap kali aku mau, harus olahraga lima jari, Yank," rengek Zayyan seperti anak kecil yang tak dikasih permen.
Riska melihat raut wajah suaminya tampak lelah dan kurang tidur. Ada rasa iba dalam hatimu, namun mau bagaimana lagi. Zayyan yang menyuruhnya fokus tidur malam.
Teringat nasehat ibunya tempo lalu.
"Nifas tidak menjadi alasan untuk tidak melayani kebutuhan biologis suami. Ada seribu cara untuk memuaskan suami meski dalam keadaan Nifas. Apalagi kalau suaminya seperti Zayyan, dia perhatian dan peduli sama kamu dan anak-anak. Layani dia dengan baik agar dia ridha atasmu dan Allah juga ridha atasmu, Dek!"
Riska tersenyum manis. Mengingat kebaikan Zayyan dalam bersabar merawat dan menenangkan anak-anak mereka membuat hati Riska tersentuh.
"Sana mandi. Nanti aku nyusul. Tunggu Ricka kenyang dan tidur dulu!" suruh Riska membuat wajah letih Zayyan berbinar terang seperti purnama di malam hari.
Zayyan langsung melompat kegirangan. Dia meninju udara, melakukan peregangan otot-otot tubuhnya.
"Hayyahh … aku tunggu di kamar mandi, Istriku," ujar Zayyan seraya mengedipkan matanya sebelah membuat Riska tertawa kecil.
*
*
Wkwkwkwk 🤣🤣🤣 kira-kira bunda semua waktu nifas, pak Su pernah kesel sama diri sendiri nggak?? Hihihi
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author yang gak kalah cantik nya ya gius 🥰🥰