
"Oom, apa ada mama Syila di sini? Tadi kata Tante suster, mama ada di sini," tanya gadis kecil itu polos membuat dada David semakin sesak saat mengingat pesan terakhir Rina.
Pria tampan itu menatap sendu wajah polos tak berdosa Syila. Ternyata anak Rina masih sangat kecil, butuh kasih sayang dari orang tua lengkap.
Mengapa takdir begitu kejam pada anak kecil ini? Ayahnya telah tiada saat dia berumur satu tahun, ibunya meninggal saat dia berumur enam tahun.
Entah bagaimana masa depannya nanti.
Zayyan mengikuti Syila dari belakang. Sedangkan, Riska menghubungi orang tua Zayyan tentang musibah yang menimpa Rina.
"Dav, bagaimana keadaan nya?" tanya Zayyan dengan nafas tersengal-sengal, karena lelah berlari.
David menggelengkan kepalanya membuat kaki Zayyan lemas langsung lirih ke lantai tak mampu menahan beban tubuhnya.
Sedangkan Syila yang tak tahu apa-apa hanya mampu melihat dua orang dewasa di sekitarnya dengan tatapan polosnya.
Dia mendekati brankar rumah sakit. Senyum Syila merekah saat melihat Rina sedang tertidur di atas brankar.
"Mama! Syila punya jaket baru!" Gadis kecil itu berteriak penuh semangat menghampiri ibunya yang sudah terbujur kaku.
Dia berdiri di dekat ranjang ibunya, lalu menggenggam tangan ibunya yang sangat dingin. Wajah ibunya pucat pasi seperti tidak punya aliran darah dalam tubuh.
"Tangan mama dingin banget. Lebih dingin dari es krim … hihihi." Gadis kecil itu tertawa cekikikan membuat dada David dan Zayyan terasa sangat sesak.
Lidah mereka Kelu melihat anak sekecil itu telah piatu.
Ingin sekali keduanya berteriak dan menjelaskan pada Syila kalau ibunya telah meninggal. Namun, mereka tak memiliki keberanian dan terlalu sudah menyusun kata-kata agar anak kecil seperti Syila mengerti apa yang sedang terjadi.
Kembali lagi pada Syila, dia langsung membuka jaket bulunya yang dibelikan oleh Zayyan, karena saat mereka makan malam di restoran, Syila kedinginan.
"Mama tahu nggak, jaket cantik ini Papa yang beli. Syila suka banget karena ada bulu-bulunya seperti kucing … hihi … tapi, karena Mama lagi kedinginan, Syila izinin Mama pake jaket Syila! Nah, Mama … ambil dan pakai!"
Gadis kecil meletakkan jaket guna menutupi pundak ibunya yang terbuka. Syila merasa aneh, sebab sang ibu tidak merespon ceritanya sama sekali. Padahal ibunya adalah orang yang paling setia mendengar setiap cerita Syila.
Gadis lugu itu tak tahu kalau pemilik telinga yang setia mendengar keluh kesahnya telah tiada.
"Papa, Mama kenapa masih tidur? Biasanya kalau Syila ngomong, mama selalu bangun. Terus kalau Syila habis pulang bermain, mama pasti peluk Syila sambil ngomong, 'Uhh my angel'. Tapi, kenapa sekarang Mama tidur kayak orang pingsan?"
Syila melayangkan protesnya. Dia bertanya pada David dan Zayyan. Keduanya hanya bisa meneteskan air mata, karena terlalu sedih dan sakit hati.
"Tolong jaga anakku, Kak."
Suara lemah Rina terngiang di telinganya membuat David segera merengkuh tubuh Syila erat.
"Mulai sekarang kamu akan menjadi tanggung jawabku," batin David sungguh-sungguh.
Pria itu melonggarkan pelukannya. Lalu mengelus pipi Syila dengan lembut.
"Syila, Om."
"Nama yang cantik, secantik orangnya … Nah, Syila … Oom mau kasih kabar gembira buat kamu."
Mata gadis kecil itu berbinar terang mendengarnya. Dia paling suka kabar gembira atau hadiah dan semacamnya.
"Apa, Om?"
"Mama Syila yang cantik itu … sudah pergi ke surga untuk selama-lamanya!" David dengan berat hati mengatakan yang sebenarnya.
Mata Syila langsung berair. Bibirnya mengerucut, dia tahu sang ayah telah di surga dan sekarang sang ibu juga ke surga.
Lantas, dia sendirian di dunia.
"Huwaa … Mama jahat! Mama ke surga nggak ajak Syila. Mama pasti ke surga buat jumpa, Daddy … Huwaa … Mama … hiks … Syila juga mau ke surga!"
Tangis gadis itu pecah. Dia sendirian sekarang, kata-kata polos yang keluar dari lisan Syila mengoyak hati orang-orang dewasa yang berada di sana.
Yatim dan piatu. Dua istilah yang menjelaskan bahwa seorang anak telah kehilangan kedua orang tua mereka.
Dunia ini sangatlah kejam untuk anak Yatim dan piatu. Apalagi bila umurnya semuda Syila.
Zayyan mendekati tubuh Rina yang terbujur kaku. Dia tak mampu menahan tangisnya, sahabat baiknya sekaligus mantan istrinya telah tiada.
"Kalian benar-benar jahat. Kita tumbuh kembang bertiga, tapi, kalian berdua lebih dulu pergi dari dunia ini … hiks … kalian jahat," lirih Zayyan tak mampu membendung tangisnya.
Dia segera memeluk tubuh kaku Rina. Menumpahkan segala rasa sesaknya, Zayyan baru bertemu dengan Rina setelah enam tahun berpisah.
Lalu, sekarang Rina pergi untuk selama-lamanya. Menyusul pujaan hatinya yang telah tenang di alam sana.
Riska hanya bisa menangis melihat Zayyan ikut terpukul. Hatinya sesak membayangkan berada di posisi Zayyan.
*
*
Bagi yang pengen cerita David, rilisnya bulan depan yah 🤭🤭 di sini khusus Zayyan. Begitupun dengan Mark.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️ o