Mas Duda Rasa Perjaka

Mas Duda Rasa Perjaka
Pesan Masuk



Ekhm.


David berdehem keras guna menutupi kegugupannya. Dia keceplosan menggombal gadis desa calon pengasuh putri angkatnya. Andai waktu bisa diputar kembali, David menarik ucapannya.


"Haiss, ngapain aku gombalin tuh cewek. Bisa-bisa dia nggak respect sama aku gara-gara kepedean, bisa-bisa dia pikir aku naksir sama dia. Padahal jiwa buaya ku kambuh," gumam David dalam hati.


Sungguh, pria itu merasa sangat gugup berhadapan dengan gadis bermata bening seperti Nia.


Kasih polos tak tercela. Akan tetapi, David tidak mau jatuh ke dalam pesona gadis polos lagi. Dulu mantan istrinya juga polos, ternyata pura-pura polos.


"Ya ampun, Nia … Bude cari-cari tadi di mall nggak ada. Ke mana aja kamu, huh? Kenapa bisa sama Den Zayyan dan Non Riska?" tanya Mariana dengan nada kesal.


Dia kesal bercampur lega, karena keponakannya sudah ketemu. Nia yang dimarahi malah tersenyum polos. Dia mengangkat dua jarinya memohon maaf pada sang bibi.


"Hihi … maaf, Bude." Nia menceritakan semuanya pada sang bibi. Wanita tua itu menghela nafas lega, dia bersyukur keponakan nya bertemu dengan orang yang ia kenal.


"Syukurlah, kamu nggak ketemu sama preman jalanan. Lain kali dengerin kata Bude. Kalau Bude suruh tunggu ya tunggu, jangan ke mana-mana, ujung-ujungnya sesat, 'kan!"


Sang bibi mengomeli Nia seperti seorang ibu mengomeli anaknya.


Ekhm.


David kembali berdehem membuat sang bibi tersadar. Tak seharusnya dia memarahi sang keponakan di hadapan majikannya.


"Maaf, Den … ekhm … ini keponakan Bibi, Den. Yang kemarin bibi ceritain!" seru sang bibi seraya merangkul pundak Nia.


"Nia, ini Den David, calon majikan kamu. Ayo perkenalkan diri kamu." Sang bibi memberi perintah.


Baru saja Nia menarik nafas dalam-dalam untuk menepis rasa gugupnya dan memperkenalkan diri. Namun, David lebih dulu bersuara.


"Ke ruang kerja saya sekarang!" titah David datar lalu pergi meninggalkan semua orang.


Nia menggigit bibirnya. Dia takut menghadapi David, karena melihat ekspresi wajah David tidak seramah Riska dan Zayyan.


"Galak amat jadi majikan," batin Riska kesal.


Sang bibi menghela nafas berat. Dia merangkul lengan Nia, mengajak sang keponakan untuk datang ke ruang kerja David.


"Hayuk ikut, Bude."


Nia menoleh ke arah Riska dan Zayyan. Gadis itu tersenyum manis dan berterima kasih pada kedua orang itu.


"Terima kasih banyak," cicit Nia pelan dibalas anggukan kepala oleh keduanya.


Sepasang suami istri itu tersenyum kecil. Akhirnya, mereka bisa membawa Nia bertemu dengan bibinya.


Wajah pria tampan itu tegang melihat istrinya nyaris terjatuh.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Zayyan panik.


"Aku lemes, Mas. Pengen istirahat," gumam Riska pelan.


Mendengar jawaban sang istri, Zayyan segera menggendong istrinya ala bridal style. Zayyan membawa Riska ke kamarnya saat lajang dulu.


Awalnya mereka ingin pulang ke rumah. Tetapi, Riska terlanjur sakit membuat rencana mereka terpaksa urung.


Zayyan meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan hati-hati.


"Bentar, aku buatin susu buat kamu dulu ya," ujar Zayyan lembut membuat Riska menganggukkan kepalanya.


Pria tampan itu segera beranjak keluar dari kamar.


Senyuman manis terpasang di wajah pucat nya. Beruntung sekali dia memiliki suami seperti Zayyan.


Minusnya cuma cengeng dan baperan. Lebihnya pengertian, perhatian dan cinta padanya. Masih banyak lagi kelebihan Zayyan yang tak mampu Riska jabarkan dengan kata-kata.


Suara dering ponsel Riska berdering. Dia segera melihat siapa yang menelpon nya.


"Ulul," gumam Riska pelan.


*


*


Yuhuuu … David dan Mark punya novel sendiri yah. Jadi, cuma spoiler aja di sini 🥰🥰


Maaf up malam hehe.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


Mampir Juga di novel temen author yang nggak kalah bagusnya 😘🙏🌹


Author Libra