
Riska keluar dari mobil suaminya. Dia melangkah sembarang arah. Hatinya sakit dibentak oleh sang suami, padahal dia hanya ingin menjaga perasaan sahabatnya saja. Meski ia sadar salah, namun tak seharusnya Zayyan meninggikan suara padanya.
Hampir sebulan mereka menikah, namun sudah bertengkar hebat. Riska mengira kalau menikah tidak ada yang namanya pertengkaran. Seperti sang ibu dan sang ayah. Nyatanya gadis itu tak tahu kalau orang tuanya juga pernah bertengkar, bahkan lebih parah daripada pertengkarannya dengan Zayyan.
"Tega kamu bentak aku, Mas … bahkan Ayah dan Bunda aja nggak pernah bentak aku." Sang gadis merasa sangat sakit hati. Dirinya dibesarkan penuh kasih sayang dan kelembutan.
Tak pernah dimarahi atau dibentak. Sekalinya dibentak oleh suami sendiri, pria yang menggantikan ayahnya.
Lelah berjalan tak tentu arah. Riska memilih duduk di halte bus. Petang sudah datang, namun dia tidak berniat untuk kembali. Terlebih lagi dia tersesat tak tahu arah kembali.
Riska menghela nafas berat. Dia memilin gaunnya. Bingung mau ke mana. Tangisnya semakin deras saat sadar sang suami tak mencarinya.
"Jahat kamu, Mas. Kamu udah nggak sayang sama aku. Buktinya kamu tidak berusaha mencariku," gumam Riska pelan.
Tiba-tiba sang gadis tersentak saat merasakan elusan tangan di pundaknya. Dia segera menghindar dan menoleh ke samping.
Sudah ada dua orang preman bertato menatap lapar dirinya.
"Pergi kalian?! Jangan macam-macam dengan saya!" sentak Riska berusaha menahan rasa takutnya.
"Yaelah, Neng … kami satu macam. Bukan macam-macam!" sanggah sang preman menatap mesum tubuh seksi Riska.
Sang gadis memundurkan langkahnya. Dia gemetar ketakutan, tungkainya nyaris luruh ke jalanan.
"Jangan coba-coba ganggu saya, atau kalian akan tahu akibatnya?!" ancam Riska tak main-main pasti akan mengadukan mereka pada Zayyan atau orang tuanya.
"Akibatnya kami bakal merem melek, Neng. Ayuk, ikut kami biar main enak!" ajak pria itu berani menarik tangan Riska.
Riska berusaha untuk melawan. Dia memberontak, kakinya menendang-nendang ke sembarang arah berusaha untuk melukai preman itu. Suasana sangat sepi, karena langit mulai gelap.
"Lepasin?! Kalian tidak tahu siapa saya … saya ini anaknya Raja Baskoro! Pemilik perusahaan Elektronik raksasa asal Jakarta!" teriak Riska menggertak lawannya.
Dirinya seolah merasakan Dejavu. Kembali lagi ke masa lalu, saat dirinya dilecehkan oleh seorang wanita.
"Tolong!! Tolong!!"
Gadis itu tak bosan berteriak minta tolong. Dia berharap suaminya datang menjadi menolong dirinya. Riska tak berhenti berdoa dalam hati agar keselamatan menyertainya.
Bugh.
Bugh.
Preman yang menarik Riska tumbang ditendang oleh seseorang. Riska yang ketakutan memilih mundur. Dia melihat sang suami sedang menghajar kedua preman itu.
Bugh.
"Sialan, kalian … berani-beraninya menyentuh istriku?!"
Zayyan menendang dada sang preman. Terjadi perkelahian hebat antara Zayyan dan dua preman itu.
Beberapa menit yang lalu. Zayyan sudah merasa tenang. Dia ingin mencari istrinya untuk berbicara baik-baik. Agar hubungan mereka berdua tidak dingin seperti es kutub.
Nyatanya Riska tidak ada di sekitarnya. Zayyan panik dan khawatir, bergegas mencari Riska ke dalam galeri, namun tak ada istrinya di sana. Zayyan memilih mencari istrinya menggunakan mobil, berharap Riska berada tak jauh darinya.
Berapa murkanya Zayyan ketika melihat sang istri ingin dilecehkan oleh dua preman jalanan. Bergegas dia turun tanpa suara langsung menendang punggung pria itu.
Krak.
Zayyan menginjak tangan preman yang berani menyentuh pundak Riska.
"Akkk … ampun!" teriaknya penuh kesakitan.
Zayyan seperti orang kesetanan. Dia tetap menghajar mereka tanpa ampun.
"Berani-beraninya kalian mengganggu istriku, Bajingan?! Sudah berapa perempuan yang kalian ganggu, huh?!" bentak Zayyan murka.
Nyatanya dia preman itu tumbang lebih cepat dari perkiraan Zayyan. Mereka tidak bisa membalas perbuatan Zayyan.
Tak berselang lama polisi datang. Karena sebelumnya Zayyan sempat menghubungi polisi. Dia tidak akan melepaskan dua preman yang mengganggu istrinya.
"Pastikan mereka berdua mendapatkan hukuman berat!" desis Zayyan pada polisi.
"Siap, Pak!" Para polisi itu ketakutan saat melihat Zayyan. Awalnya mereka mengabaikan laporan Zayyan, namun saat pria itu menyebutkan namanya lengkap dengan gelar juga jabatannya, mereka semua ketar-ketir.
Kembali lagi pada Zayyan. Dia segera mendatangi istrinya yang tampak ketakutan.
Dia menarik Riska dalam pelukannya. Namun, istrinya segera mendorong tubuh Zayyan.
"Aku mau pulang ke rumah, Bunda!" balas Riska datar membuat Zayyan tersentak.
*
*
Namanya pengantin baru dan pernikahan masih seumur jagung, pasti ada lika-likunya. Semua pasutri juga pasti ada di posisi Riska dan Zayyan.
...Karena menikah itu ibadah paling panjang. menyatukan kedua orang yang berbeda karakter, pola pikir dan kebiasaan....
... Pasti membutuhkan waktu agar keduanya bisa melebur menjadi dua kepala satu pikiran, dua hari satu pilihan.🌹🥰❤️...
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️