
Guys, ini rekomendasi banget buat dibaca sambil nungguin author up 🥰🥰 karya temen author yang kece badai. tuk mampir dan tinggalkan jejak di sana 🥰🥰😚🤗
Bruk!
Suara kantung kresek terjatuh membuat dua orang yang tengah berbicara serius dengan saling menatap mengalihkan atensinya, Nathan terperanjat kaget, dan langsung berdiri dari duduknya.
“Mika.” Ucap Nathan lirih,
Mikayla diam seribu bahasa dia berjalan mendekat kearah Laura dan Nathan, melihat tatapan Mika membuat Nathan menciut sama halnya dengan Laura, dia belum pernah melihat tatapan Mikayla yang terasa dalam dan dingin.
Satu tamparan dilayangkan kepada Laura dengan keras, terlihat betapa perasnya tamparan itu karena melukai ujung bibir Laura.
“MIKA!” Sentak Nathan.
“Itu untuk wanita yang sudah lancang berduaan dengan suami orang, dan kamu!”
Mikayla melayangkan dua tamparan di pipi Nathan tidak kalah kerasnya, “Kamu pria breng*sek yang dengan sadar membawa wanita lain kedalam apartemen tanpa izin seorang istri dan apa katamu, ingin menceraikanku dalam waktu satu tahu. Cih, jangan mimpi kalian bahkan aku bisa membuat hidupmu dan kekasih mura*hanmu ini menderita!” Teriak Mikayla dengan lantang sehingga menggema diruang tengah.
Nathan menatap dalam kedua mata Mikayla, tidak ada keraguan di dalamnya. Semua yang dikatakan oleh Mikayla sungguh-sungguh. Jantung Mikayla berdetak dengan cepat dan iramanya kacau, baru saja dia memasuki masa pemulihan kini harus kembali berpacu.
Mikayla lantas langsung menarik kerah Laura dan menyeretnya dengan paksa keluar dari apartemen, “Ah, tolong Nathan!” Ucap Laura dengan memegangi dadanya.
“Mika, Mikayla!” Ucap Nathan mencoba menghentikan Mikayla.
Mikayla dengan cepat membuka pintu apartemen dan menghempaskan tubuh Laura hingga terjerembab di atas lantai, “Sekali lagi kamu menginjakkan kakimu diapartemen ini, aku patahkan sampai tulang rusukmu.” Ancam Mikayla yang membuat Laura gemetar.
Nathan membelalakkan kedua matanya, dia menatap tidak percaya kearah Mikayla. Suara pintu tertutup dengan nyaring dan cepat.
Mikayla melewati tubuh Nathan begitu saja dengan memunguti kembali barang belanjaannya, Nathan masih bergeming di tempatnya. Dia melihat Mikayla mengusap air matanya dengan cepat sambil mengambil beberapa buah dan sayuran yang berserakan di atas lantai.
Dengan kasar, Mika menaruh semua barang belanjaannya di atas nakas. Berjalan masuk menuju kamar utama di ikuti oleh Nathan. Nathan mencekal pergelangan tangan Mika tetapi Mika hempaskan.
“Kak” Panggil Mika halus.
Kening Mikayla berkerut saat melihat wajah Nathan yang tampak panik, dia bergegas mengambil kunci mobil dengan terburu-buru. Mikayla yang tidak paham situasi menghadang di depan pintu kamar.
“Minggir, Mika. Laura masuk rumah sakit.” Jawab Nathan cepat.
“Lalu kenapa? Memang Laura tidak memiliki keluarga, kenapa harus kakak yang ke sana. Jika aku tidak mengizinkan bagaimana?” Cecar Mikayla dengan wajah yang mulai mengeras.
Nathan meraup wajahnya kasar, “Mika, orang tua Laura itu sibuk dia hanya tinggal sendiri dengan pembantunya. Kamu mengizinkan atau tidak, aku akan tetap pergi.” Jelas Nathan dengan cepat.
“Hubungi saja orang tuanya, Laura masih tanggung jawab orang tuanya. Berbeda denganku, aku sudah tanggung jawab kakak meskipun kakak belum mampu secara penuh. Jangan gila kak, Laura seolah-olah jadi wanita yang harus kakak prioritaskan daripada aku yang statusnya lebih tinggi darinya.” Ucap Mikayla dengan tenang tetapi penuh emosi.
Nathan hanya terdiam, dia tertampar dengan ucapan Mikayla. “Jangan egois, Mika.” Kata Nathan yang membuat Mika tersenyum sinis.
“Egois? Siapa yang lebih egois, aku atau kalian? Apa waktu dua hari kalian habiskan bersama kurang, mana ponselmu biar aku saja yang telfonkan orang tuanya.” Mikayla merebut ponsel Nathan dengan cepat.
“Aku tidak memiliki nomor orang tuanya.” Jawab Nathan pelan.
Gerakan jemari Mikayla terhenti dia mendongak menatap wajah suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Selama kalian pacaran belum pernah bertemu orang tua satu sama lain?” Tanya Mikayla penuh selidik.
Nathan menggeleng lemah, membuat Mikayla menghela nafas frustasi. Ingin sekali dia memukul kepala Nathan dengan keras saat ini.
“Bilang saja pada Kak Laura untuk menelfon orang tuanya saja,” Ucap Mikalya memberikan ponsel Nathan kembali.
Nathan menerima dengan gelagapan karena Mika bukan kasar melainkan tegas, Nathan mencoba menghubungi nomor Laura kembali tetapi nihil. Beberapa panggilan dia coba hingga akhirnya di angkat.
“Jangan pergi atau kakak akan menyesal seumur hidup!” Seru Mikayla dengan mata berkaca-kaca.
Nathan menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu apartemen, “Ingatlah Mikayla, kita menikah karena perjodohan. Jangan pernah melarangku untuk menemui kekasihku, dia sedang sakit dan membutuhkanku!” Jawab Nathan yang langsung membuka dan keluar dari unit apartemennya cepat.
“Tapi aku juga sakit, Kak.” Ucap Mikayla pelan hingga luruh di atas lantai dengan lelehan air mata menatap punggung suaminya yang sudah hilang di balik pintu apartemen.
Mikayla terisak seorang diri. Dia menekuk kedua kaki dan menyembunyikan wajahnya, tubuhnya terguncang dengan hebat. Hingga ponselnya berbunyi, membuat Mika tergerak meraih ponsel yang tidak jauh dari jangkauannya.
Tampak sebuah foto yang membuat Mikayla semakin sakit hati dan marah secara bersamaan, sifat Mommy Bintang lebih dominan dalam dirinya.
“Baiklah, aku ikuti permainanmu akan aku ciptakan neraka paling menyiksa untuk kalian berdua.” Ucap Mikayla lirih tapi tatapannya berkilat penuh amarah.