
Setelah makan siang, Zayyan membawa Riska masuk ke dalam kamarnya. Sang gadis menelisik isi kamar Zayyan yang ternyata sangat rapi dan maskulin dengan nuansa abu-abu. Terdapat banyak foto masa kecil Zayyan dan kedua kakak durhakim nya.
Riska terkekeh kecil saat melihat Zayyan sedang menangis seraya melihat ke arah David yang sedang memakan coklat. Sepertinya coklat milik Zayyan dirampas oleh David.
"Jangan dilihat aku malu!" Zayyan menutup mata Riska membuat sang gadis tersenyum geli.
"Kenapa harus malu, sih? Mas, 'kan, suami aku! Lagian waktu aku lihat Mas telanjang, Mas nggak malu. Malahan bangga!" celetuk Riska membuat pipi Zayyan merah merona.
Sang pria teringat waktu malam pertamanya dengan Riska. Malahan dia menyuruh Riska melihat ke bawah saat rudal balistik nya menembus lembah berbulu Riska.
Ahh … membayangkannya saja sudah membuat Zayyan panas dingin.
"Jangan bahas itu lagi! Aku malu …" Zayyan menarik tangannya kembali membuat Riska tersenyum lebar. Sepertinya sang suami malu-malu, dia berniat menggoda Zayyan.
Segera Riska berbalik dan menatap sang suami dengan sorot mata genitnya.
"Kenapa baru sekarang malu? Perasaan semalam kamu malah suka banget dirty talk?" tanya Riska dengan penuh seduktif.
Gleg.
Zayyan menelan ludahnya kasar. Bukan hanya pipinya yang merona, telinga dan lehernya ikut memerah.
"Ya karena semalam suasananya mendukung! Kamu jangan goda aku, nanti kalau aku kelepasan gimana? Ini masih siang loh!" celetuk Zayyan memberanikan diri menatap Riska.
Layaknya sebuah film ingatan semalam berputar di kepala Riska. Sontak gadis itu menelan ludahnya kasar, jalannya saja masih sempoyongan.
"Gawat kalau Mas Zayyan lepas kendali. Bisa-bisa aku keramas lagi," batin Riska takut-takut.
Tiba-tiba Riska teringat maksud perkataan Albert. Dia sudah kembali? Siapa yang dimaksudnya.
"Ekhm … Mas, maksud perkataan Albert tadi apa? Dia sudah kembali itu siapa?" tanya Riska serius membuat Zayyan membeku.
Padahal Zayyan sudah melupakannya. Namun, Riska malah mengingatkan lagi.
"Aku juga tidak tahu … tapi, sepertinya yang dimaksud oleh Albert adalah Rina," balas Zayyan jujur membuat Riska terhenyak.
Gadis itu gugup, takut kalau sampai suaminya jatuh ke dalam pelukan Rina lagi.
Mereka baru saja bersamaan menuju kebahagiaan, tetapi ujian sudah datang begitu cepat.
"Kamu masih cinta sama dia, Mas? Tolong jawab dengan jujur!" Riska menggenggam tangan suaminya. Dia berusaha mencari kejujuran di mata Zayyan.
Mendengar pertanyaan istrinya membuat Zayyan berpikir keras. Dia mencari-cari sisa rasa di dada untuk Rina. Tetapi, tak juga ditemukan. Mungkin hatinya sudah mati rasa dibunuh oleh harapan yang tak terwujud.
"Menurut kamu apa aku masih waras bila aku kembali pada wanita yang jelas-jelas sudah menyakitiku? Terlebih dia sudah punya anak dari pria lain?"
Zayyan tak menjawab melainkan bertanya membuat Riska terdiam beberapa saat.
Riska membalas ucapan Zayyan dengan cepat setelah berpikir keras.
Zayyan tersenyum tipis. Dia membelai pipi Riska dengan sangat lembut.
"Sudah lama aku tidak mencintainya lagi. Enam tahun lalu kami bercerai, selama dua tahun aku drop dan depresi karena dicampakkan olehnya. Setelah dua tahun aku bangkit lagi dengan semangat baru dan rasa cinta ku pada Rina sudah habis. Air mataku sudah kering mengharapkan dia kembali selama dua tahun itu. Dan sekarang aku di sini! Bersama dengan istri baruku."
"Mungkin terlalu dini untuk menyatakan aku cinta kamu, karena kita baru kenal empat hari yang lalu dan menikah baru kemarin pagi. Tapi, aku patuh apa kata mama …"
"Mama bilang menikah dengan orang yang kita cintai itu harapan, tapi mencintai orang yang kita nikahi itu kewajiban. Dan artinya aku akan berusaha untuk memenuhi kewajiban ku dengan mencintaimu."
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Namun, kalau ada perkataan atau kelakuan ku yang membuatmu sakit hati. Langsung katakan padaku, agar aku bisa meminta maaf dan berubah sesuai keinginan mu!"
Zayyan berbicara dengan nada lembut membuat hati Riska menghangat. Mata gadis itu memanas siap meluncurkan air matanya. Tidak menyangka kalau Zayyan bisa seterbuka ini padanya.
Sorot mata keduanya bertemu, perlahan dan pasti Zayyan mendekatkan bibirnya dengan bibir Riska. Keduanya memejamkan mata mereka ingin menikmati nikmatnya berciuman.
Brak.
Suara pintu terbuka membuat keduanya terkejut dan langsung menjauh. Zayyan menajamkan matanya ke arah si pengganggu yang membuat ciuman mereka gagal.
"O ow … sepertinya aku salah kamar!" ujar Mark polos dengan raut wajah tanpa dosa membuat Zayyan mengepalkan tangannya erat.
"Taik mu salah kamar! Jelas-jelas di pintu kamar sudah tertulis 'Ini Kamar Zayyan'!" teriak Zayyan kesal membuat Mark langsung menutup matanya.
"Aku tidak melihatnya!" balas Mark dengan mata tertutup membuat Zayyan murka.
"MAMA?!" teriak Zayyan mengadu pada ibunya membuat Mark langsung berlari masuk ke kamarnya yang berada di depan kamar Zayyan.
"MARK, JANGAN GANGGU ADIKMU! KALAU TIDAK MAMA SUNAT KAU PAKE GUNTING TAMAN!" teriak Naima yang berada di ruang tamu sedang menonton gosip.
Mark yang mendengarnya pun mengumpat kesal.
"Sial! Bekingan nya ras terkuat di bumi siapa lagi kalau bukan Emak-emak!" umpat Mark jengkel.
*
*
Wkwk 🤣🤣🤣 percaya deh kalau punya anak macam Mark atau David, bakal awet muda kita 🤣🤣
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️