
Seorang gadis cantik berdiri di balkon kamar. Memandangi indahnya rembulan dan bintang, udara malam tak membuat dirinya sejuk, karena pada dasarnya hatinya sedang panas. Dia memikirkan pernikahan nya yang baru seumur jagung.
Sadar kalau dirinya dan sang suami telah salah. Seharusnya mereka berdua bisa berbaikan setelah berdebar, namun ego dan harga diri mereka terlalu tinggi, sehingga tidak ada yang mau untuk meminta maaf duluan.
Setetes air mata terjun membasahi pipinya teringat nasihat sang ibu yang sangat menampar dirinya.
"Adek yang salah lebih dulu. Kenapa tidak langsung memilih suami sendiri? Dalam Islam saat seorang wanita telah bersuami, maka yang harus diprioritaskan selain agama adalah suami. Bukan orang tua atau sahabat. Karena tanggung jawab suami itu berat, makanya Allah menyuruh istri patuh pada suami. Suami itu tidak sedarah dengan kita para istri, tapi suami mau memenuhi kebutuhan kita, dia mau mengambil peran seorang ayah untuk melindungi dan menyayangi kita."
"Dalam kasus adek ini, Zayyan pantas untuk cemburu. Justru kalau dia tidak cemburu itu bahaya, Dek. Karena suami yang tidak punya rasa cemburu saat kecantikan istrinya dipandang oleh mata laki-laki lain itu disebut dayyuts. Haram mencium bau surga. Fitrahnya seorang istri itu memamerkan ketampanan suami, sedangkan fitrahnya seorang suami adalah menyembunyikan kecantikan istri!"
Waktu itu Riska hanya bisa menangis dan terdiam. Dia juga malu untuk kembali ke rumah sang suami. Riska tetap kekeh ingin berdiam diri di rumah orang tuanya. Dia ingin Zayyan menjemputnya pulang, namun tak berani untuk sekedar mengirim pesan.
Lucu memang, namun begitulah seorang wanita. Terlalu malu dan keras kepala mengakui kesalahan. Meski mereka sadar salah dan berjanji untuk berubah.
"Aku rindu kamu, Mas," lirihnya pelan seraya meneteskan air matanya.
Degg.
Deggg.
Tubuh Riska membatu saat sebuah kalung terpasang di lehernya. Terlebih lagi kulit lehernya merasakan deru nafas seseorang.
Dia menelan ludahnya kasar. Dia ingin berbalik, namun tubuhnya seperti batu. Dia tidak berani untuk berbalik, takut kalau tebakannya salah.
Sepasang tangan melingkar di perutnya. Dagu orang itu diletakkan pada pundak polos Riska.
"Maaf, karena terlambat untuk.minta maaf dan jemput kamu," bisik seseorang yang suaranya amat dirindukan.oleh Riska beberapa hari ini.
Sang gadis langsung berbalik dan memeluk erat tubuh suaminya. Dia menangis sesenggukan dalam pelukan Zayyan. Menumpahkan semua rasa rindu dan sesak secara bersamaan.
"Enggak … aku yang salah, Mas. Hiks … maafin aku karena udah keras kepala dan merasa paling tersakiti!"
Riska mengakui kesalahannya. Sang wanita tidak mau kalau dirinya melakukan kesalahan untuk kedua kalinya yaitu meninggikan ego.
Biarlah dia menurunkan ego nya untuk meminta maaf pada Zayyan.
Zayyan ikut meneteskan air matanya. Dia bisa bernafas lega karena sang istri tak marah seperti tempo lalu.
Bersyukur sang ayah dan sang ibu di rumah peka pada permasalahan rumah tangganya.
Bersyukur karena punya orang tua seperti Naima dan Jack Lee yang punya pikiran bijak, sehingga tak menambah api dalam rumah tangga putra mereka.
Setelah berpelukan dan sama-sama meminta maaf. Keduanya tersenyum manis, mereka malu-malu bertatapan. Pipi Riska dan Zayyan merona malu.
"Kamu punya jerawat asmara," gumam Zayyan pelan seraya menyentuh satu jerawat di kening Riska.
Sang istri mengerucutkan bibirnya. Dia kesal, karena seumur hidup baru kali ini ada jerawat kesasar di wajahnya.
"Apanya jerawat asmara … sekali jerawat tetap jerawat, Mas. Nggak ada yang namanya jerawat asmara!" celetuk Riska membuat Zayyan tertawa kecil.
"Kata orang ini jerawat asmara, karena cuma satu dan warnanya juga merah. Aku juga punya!" Zayyan menarik rambutnya ke belakang, memperlihatkan satu jerawat di pelipisnya.
Riska tersenyum lebar melihatnya. Ternyata sang suami juga punya.
"Yey, berarti aku nggak sendirian!" sorak Riska bahagia.
Keduanya sama-sama tertawa. Hingga sorot mata mereka berdua bertemu membuat Zayyan dan Riska saling mendekatkan wajah mereka.
Cup.
Ciuman panas tidak bisa terelakkan. Keduanya hanyut dalam gelombang asmara. Nikmatnya bercinta tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
*
*
Hah
Riska terjaga dari tidurnya. Sang gadis melihat ke samping dan tak menemukan suaminya.
Tes.
Cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Rasanya sangat sakit setelah bercinta dengan sang suami, nyatanya hanya bunga tidur semata.
Kata-kata maaf yang keluar dari lisan mereka berdua. Ternyata sia-sia.
Tidak ada pelukan hangat. Atau ciuman singkat menyambut dirinya.
"Cuma mimpi," gumamnya pelan dengan suara parau.
"Apanya yang mimpi, Sayang?" Suara bariton seseorang terdengar oleh telinga Riska.
Degg.
Segera sang gadis menoleh ke samping dan melihat suaminya sudah berdiri tegak di depan pintu kamar mandi.
"Ini nyata! Bukan mimpi!" Riska segera turun dari ranjang dan berlari memeluk erat tubuh suaminya.
"Jangan pergi lagi," pinta Riska dengan suara serak khas bangun tidur terdengar sensual.
Gleg.
Zayyan menelan ludahnya kasar, dia baru saja mandi besar dan hanya ada handuk di pinggang yang menutupi asetnya.
Berbeda dengan Riska yang masih telanjang.
Sepertinya gadis itu belum sadar akan keadaannya.
"Ris, sebaiknya kamu pergi sebelum anaconda ku mengeluarkan jurusnya!" pinta Zayyan dengan suara parau membuat Riska terhenyak. Dia melonggarkan pelukannya dan melihat ke bawah.
Tuing.
Benda itu tegak seperti rudal balistik.
"Ti-tiang listrik mu, Mas. Tegang lagi," tunjuk Riska dengan suara terbata-bata.
"Haiss … gara-gara kamu ini semua," celetuk Zayyan kesal membuat Riska bingung.
"Kok gara-gara aku?"
"Kue apem mu masih kelihatan!" Zayyan mencolek sesuatu di bawah sana membuat Riska terhenyak dan sadar kalau tubuhnya telanjang.
"Mas!" pekik Riska saat Zayyan menggendong nya dan masuk ke kamar mandi lagi.
Zayyan hanya bisa tersenyum senang. Karena sudah berbaikan dengan istrinya.
"Akhirnya aku bisa buka puasa juga," batin Zayyan kegirangan.
*
*
Author up lagi nih!! 😘❤️🥰 Udah double, mau triple nggak?
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰