Mas Duda Rasa Perjaka

Mas Duda Rasa Perjaka
Bayi Besar Riska



Tubuh Riska terasa remuk digempur oleh suaminya berkali-kali. Zayyan telah berdusta padanya, minta cuma sekali lagi, nyatanya berkali-kali. Berbeda dengan Riska, Zayyan malah bahagia.


Senyumannya cerah sekali secerah mentari pagi. Dia menebar senyuman pada semua orang yang ditemui nya. Suatu hal langka dalam hidupnya, karena Zayyan adalah tipikal pria pemalu dan pendiam. Dia jarang tersenyum pada orang asing atau orang baru.


Keduanya sudah berada dalam mobil. Zayyan melirik ke arah Riska yang tampak lelah dan mengantuk.


"Kamu ngantuk?" tanya Zayyan lembut membuat Riska menganggukkan kepalanya pelan.


"Ngantuk sekali … Mas jahat! Bisa-bisanya gempur aku dua jam! Katanya cuma sekali, nyatanya berkali-kali sampai jalanku sempoyongan!" celetuk Riska membuat Zayyan mengernyitkan dahinya.


"Bukan dua jam, tapi hanya 115 menit."


Zayyan membantah membuat Riska mengerucutkan bibirnya.


"Ya tinggal tambah 5 menit aja, Mas. Bakal jadi 2 jam!" seru Riska dengan nada kesal membuat Zayyan langsung meliriknya.


Degg.


Jantung Zayyan terasa sangat sakit,ketika melihat raut wajah kesal istrinya. Pria itu merasa bersalah, karena telah menggempur istrinya semalam. Zayyan hilang kendali, hasratnya sangat buas semalam.


Tiba-tiba mata Zayyan memanas. Dia segera mengalihkan netra nya lurus ke depan.


"Maaf, karena ulahku kamu kurang tidur, maaf karena sudah membuat pinggang mu sakit. Maaf untuk semuanya," cicit Zayyan dengan suara serak membuat Riska terhenyak.


Dia segera menoleh ke arah sang suami. Tampak wajah Zayyan memerah. Gadis itu baru ingat kalau sang suami sangat sensitif dan cengeng.


Padahal, Riska tak sepenuhnya kesal pada Zayyan. Justru dia ingin berdebat kecil dan berakhir bermanja-manja pada sang suami. Seperti wanita pada umumnya – pura-pura ngambek biar disayang-sayang.


Gleg.


"Aku lupa kalau punya suami sensitif nya ngalahin ibu hamil," batin Riska pelan.


Dia menggenggam tangan Zayyan, namun pria itu langsung menarik tangannya kembali.


Nah, kan … suaminya selain sensitif mudah ngambek.


"Mas, maksud ku bukan begitu … aku nggak marah, malahan aku seneng kamu mainnya lama semalam. Itu tandanya kamu perkasa!" Riska berusaha membujuk suaminya yang sedang sensi dan merajuk.


Zayyan tetap menatap lurus ke depan. Dia tak menghiraukan Riska, hatinya terlanjur sesak dan merasa bersalah telah membuat istrinya lelah.


Riska yang melihat Zayyan diam saja semakin bingung mau berbuat apa. Dia tidak punya pengalaman membujuk laki-laki.


Gadis itu menggaruk tengkuknya tak gatal.


"Haduh, bagaimana ini? Dia sepertinya benar-benar marah padaku. Haiss … malah dia silent treatment lagi! Aku harus bagaimana? Ya Allah … bagaimana cara membujuk suami yang sedang sedih dan marah."


Riska panik sekali. Dia teringat nasehat ibunya kalau sebagai seorang istri tidak boleh membuat suami marah atau sedih, karena malaikat akan mengutuknya.


"Mas kamu marah?" tanya Riska lagi membuat Zayyan menjawab tanpa menoleh.


"Enggak," balas Zayyan dengan suara serak menahan tangis.


Zayyan tak menjawab melainkan hanya menggelengkan kepalanya cepat saja tanpa berniat menoleh ke arah Riska.


Tiba-tiba teringat saat melihat Zayyan menangis sesenggukan dalam pelukan Naima. Apa mungkin sang suami harus dipeluk dulu agar mau berbicara?


Ting.


Riska tersenyum cerah saat mendapatkan ide itu.


"Mas, tolong menepi. Ada hal yang ingin aku lakukan!" pinta Riska membuat Zayyan serta menepikan mobilnya.


Suasana kembali hening. Zayyan tak merasakan pergerakan di sampingnya.


"Mas, tatap aku!" titah Riska membuat Zayyan menundukkan kepalanya.


"Tahan air matamu, Zayyan. Kamu tidak boleh lemah … kamu harus kuat. Tahan air matamu jangan sampai jatuh di hadapan Riska!" batin Zayyan terus menyemangati Zayyan agar tak menangis.


Riska yang habis kesabarannya langsung bergerak naik ke atas pangkuan Zayyan. Membuat pria itu terkejut. Dia melebarkan matanya saat melihat wajah cantik istrinya sangat dekat dengan wajahnya.


"Kalau mau nangis ya nangis aja. Jangan ditahan, Mas. Nanti dada kamu sesak!" Sang istri menarik suaminya masuk ke dalam pelukan.


Zayyan yang sedari tadi menahan tangisnya langsung menumpahkan segala rasa sesaknya.


"Hiks … maaf … semalam aku kelepasan. Seumur hidup baru semalam aku ngerasain nikmatnya bercinta. Jadi,aku hilang kendali … hiks … aku salah. Tapi, aku nggak suka kamu cemberut kayak tadi … hiks!"


Zayyan meluapkan suara hatinya membuat Riska memejamkan matanya. Dia menghela nafas berat, ternyata hati Zayyan benar-benar hello Kitty. Lembut dan perasa. Padahal, Riska hanya cemberut saja sudah membuat Zayyan sedih.


"Sepertinya aku menikah dengan bayi besar," gumam Riska dalam hati.


"Udah jangan sedih lagi, sebagai gantinya nanti malam kita main tiga kali," ujar Riska lembut membuat Zayyan yang tadinya terisak-isak langsung terdiam dan tersenyum cerah.


"Benarkah? Tiga kali? Yes … oke kalau begitu, nanti sampai di rumah aku bakal cari gaya baru!" seru Zayyan semangat membuat wajah Riska pucat pasi.


"O ow … sepertinya bakal terjadi gempa lokal!" batin Riska pasrah.


*


*


Yeyyy author up nih 🤭😘


Tunggu sebentar yah, author bakal ngetik lagi buat bab selanjutnya 🌹❤️ tetap tungguin 😘🥰


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏