
Dr. Fa'i karena Kennan sama sekali tidak bersuara, dia seperti berhadapan dengan Kennan lama Kennan kecil saat pertama kali Reynand membawanya ke tempatnya.
Fa'i melirik Reynand yang duduk di tepi kasur Kennan, mengerti tatapan teman lamanya itu Reynand beranjak tapi sebelum dia meninggalkan kamar dia menyempatkan menepuk pundak Kennan seolah memberi tau kalau dia tidak akan kemana mana.
Reynand menghentikan langkahnya begitu mendapati adik perempuannya duduk manis di sofa, Risa.
" Kennan Mana? " tanya Risa begitu melihat Reynand berjalan ke arahnya.
" kamarnya " Risa mengangguk dia baru akan beranjak tapi Reynand mencegahnya, Risa mengkerutkan keningnya bingung " jangan sekarang "
" kenapa? " tanya Risa " dia tidak masuk sekolah dan sudah seminggu, aku akan menanyainya " beritau Risa.
" Kakak tau itu, tapi tidak sekarang " Ucap Reynand dia membalikkan tubuh Risa
" kenapa sih? Dan lagi mobil siapa di dep- "
" Asla mana? Kakak kangen sama dia " Reynand memotong ucapan Risa
Risa menahan dirinya menepis tangan Reynand dia menatap kakaknya
" jangan mengalihkan topik, Asla sama adek dan papanya di halaman belakang bareng kakeknya " Risa bersedekap dada menatap Reynand " jadi? "
" itu.. Dek " Reynand menghela nafas terlebih Risa menatapnya penuh selidik " itu mobil Rifa'i " jawab Reynand
" Rifa'i? Teman kakak yang dokter itu? " tanya Risa, Reynand mengangguk " yang psikolog itu? "
" hn "
Risa makin menatapnya " untuk apa dia di kamar Kennan? " Reynand tidak menjawab dan malah menatap serius Risa, Risa membulatkan matanya " Ken..nan? "
" hn, seperti yang ada di kepala kamu " jawab Reynand, Risa menutup mulutnya tidak percaya
" apa... Karena kejadian Papanya? " Reynand menggeleng tidak tau
" Aku dan Fa'i tidak menanyakan banyak hal padanya karena fokus kami pada psikisnya bertanya ini itu membuatnya makin frustasi. " jelas Reynand " dia Anxiety, dan dugaan kami memang seperti ucapanmu, pemicunya dari masa lalunya "
" pasti berat " gumam Risa dengan tatapan sendunya. " biar bagaimana pun aku juga pernah depresi dan sekarang aku dan Mas Lintang berusaha menyembuhkan trauma anak kami, jadi aku tau bagaimana persaannya. " kata Risa " aku hanya takut dia- "
" dia tidak akan mengakhiri hidupnya " kata Reynand membuat Risa tersentak
" maaf " kata Risa dia tadi hanya melantur, Reynand tersenyum dia mengusap kepala adiknya yang tertutupi hijab itu
" kakak minta maaf "
" eh? " Risa mendongak " untuk apa? "
" karena membiarkan kamu sendirian. " Reynand langsung merangkul adiknya itu membuat Risa menjerit terlebih dia di kekepin. " ayo ke belakang, aku sudah kangen sama ponakan, apa aku tahan saja dia di sini "
" kalau kakak bisa misahin dia dari papanya, mereka itu anak papa semua " Reynand tertawa
" ah...kalah saing lagi " giliran Risa yang tertawa
" makanya nikah, biar punya anak sendiri yang bisa kakak usel usel " ledek Risa.
Reynand mendengus
" memang jodoh itu segampang mungut botol plastik di pantai sangking banyaknya " cibir Reynand,
" makanya nyari " Risa memukul lengan kakaknya " mau Ica carikan? "
" terserah "
" dih... Pasrah banget, gak mau usaha sendiri? "
" Kuping kakak sudah mau copot di tagih nikah. " sungut Reynand, Risa terkekeh
" kan kakak sudah tua bangka makanya di tagih nikah, aku saja sudah punya anak dua " ucap Risa sombong, melihat itu Reynand hendak kembali mengapit Risa di ketiaknya tapi gadis itu lebih dulu melarikan diri
******
" bagaimana perasaanmu saat ini? " dr. Fa'i melirik Kennan yang duduk dengan nyaman di sofa matanya menatap ke langit langit kamarnya.
" lebih baik dari kemarin " jawab Kennan tanpa melihat ke arah Fa'i yang juga duduk santai di meja belajarnya. " karena memaksakan diri jadi aku memimpikannya lagi "
" hm " Kennan menutup matanya dengan lengan " dr. Fa'i "
" hn? "
" apa semuanya akan baik baik saja? "
" kalau kamu tetap tenang dan bisa mengontrol emosi, ya semuanya akan baik baik saja " jawab Fa'i dia entah menulis apa di bukunya " ah... Ngomong ngomong, aku lumayan terkejut mendengar kamu setuju masuk sekolah "
" di paksa " Fa'i terkekeh dia melirik Kennan
" jadi? Apa sekolahmu menarik? Atau kelasmu " Fa'i memutat mutar pulpen di tangannya dan jatuh saat Kennan menegakkan tubuhnya tiba tiba
" aku jadi ketua kelas "
" hm? Itu bagus "
" menyebalkan, Aku harus mengurus anak anak rusuh dan pembuat onar " Kennan menghela nafas
" berat sekali sepertinya " respon Fa'i
" tidak juga " jawab Kennan " aku kelas 11 IPA 1 "
Fa'i menopangkan dagunya di sandaran kursi milik Kennan dan mendengarkan Kennan bercerita tentang temannya, dia memperhatikan ekspresi remaja itu.
Setelah merasa cukup Fa'i meminta Kennan istirahat sedangkan dia pamit pulang
" bagaimana? " tanya Reynand begitu Fa'i duduk di sampingnya
" keputusan lo memasukkan dia ke sekolah sudah benar." ucap Fa'i dia mengambil minum yang ada di atas meja yang disiapkan untuknya " dia antusias bercerita tentang kelasnya "
" gue hanya tidak mau dia kehilangan moment remajanya " Reynand memainkan bola plastik milik Adik bungsunya, Keyra.
" bagus, Dengan membuat kenangan dan berlahan menghilangkan kenangan masa lalunya yang pahit " Fa'i mencomot kue yang juga ada di mejanya itu, dia menyilangkan kakinya dan bersandar santai ke sandaran sofa layaknya bos, melihat itu Reynand melemparnya dengan bola, Fa'i terkekeh
" eh tapi, laki laki bermata serigala itu siapa? Gue baru lihat " Fa'i menunjuk keluar dimana keluarga berkumpul
" oh, itu adek ipar gue "
" adek ipar? Suaminya Ica? " kaget Fa'i
" siapa lagi? Ya kali Keyra, dia baru mau delapan tahun oy "
Fa'i meledakkan tawanya sambil meledek Reynand yang dilangkahi adik perempuannya, Reynand? Dia mah sudah kebal tapi meski begitu melihat tawa menjengkelkan Fa'i lama lama membuatnya jengkel juga
" memang kak Fa'i sudah menikah? "
Sebuah pertanyaan yang membuat Dokter Rifa'i dokter ahli jiwa yang memilih menjadi psikolog bukannya psikiater itu kicep, dengan berlahan dia menoleh dan mendapati Risa berdiri di sana dengan bayi mungil dalam gendongannya.
" sesama bujang lapuk tidak usah saling mengatai " Risa menyeringai ke arah mereka sebelum berlalu
Fa'i melongo menatap tidak percaya ke arah Risa yang menaiki tangga, tak lama dia menoleh ke arah Reynand yang terkekeh geli melihat ekspresi Fa'i
" itu... Ica? " Reynand mengangguk " omongannya makin menyebalkan saja ya? " sungut Fa'i dan Reynand bukan lagi terkekeh dia sudah terbahak melihat wajah kesal temannya sejak jaman purba itu. " tidak heran lo berdua bersaudara "
" ok balik lagi soal Kennan " kata Reynand menggantugkan kalimatnya karena meredakan tawanya " apa yang mesti gue lakuin? "
Fa'i menatap sahabatnya itu " pastikan saja dia menulis jurnal hariannya biar gue bisa melihat perkembangannya di sana. Jangan cegah dia beraktifitas hanya pastikan dia tidak bertemu orang dari masalalunya untuk sekarang. Karena itu bisa mempengaruhi mentalnya " jelas Fa'i
" itu sulit " desah Reynand. Fa'i mengangkat sebelah keningnya sambil kembali mencomot kue " gue kurang teliti waktu ngedaftarin dia sekolah. Ketua osis di sekolahnya adalah sepupunya "
" apa cowok yang di apartemen waktu itu? " Reynand mengangguk " lalu yang cewek? Ceweknya Kennan? "
" kembarannya "
" WHAT? " Fa'i berseru kaget, " tapi kenapa dia..." Fa'i menatap ke lantai atas di mana kamar Kennan.
" gue tidak tau, tapi setau gue... Mereka memang tidak akur sejak tragedi itu " Fa'i mengangguk paham.
******
Tbc