
Mereka berhambur memeluk Kennan, Aryan dan Hanin begitu cerdas cermat di menangkan oleh mereka, Satrio menepuk punggung Kennan sebelum merangkulnya
"lo kalo mau bikin jantungan, bukan begini o'on"
Kennan terkekeh kecil, nilai meraka awalnya unggul tapi saap pertengahan nilai mereka disusul bahkan dilewati meski akhirnya mereka tidak memberi kesempatan lawan di akhir akhir pertanyaan. Mereka melewatkan pertanyaan yang menurut mereka mudah tapi pertamyaan sulit mereka menjawab cepat.
"Teman lo nekat" Aryan mendengus, beberapa kali dia ingin menjawab pertanyaan mudah tapi Kennan melarang "padahal nilai kita bisa lebih tinggi dari ini"
"kalau mau adu kecerdasan jangan ambil pertanyaan mudah, cih " Hanin berucap dan berdecih mengingat ucapan Kennan.
Kennan mengedikkan bahunya setelah mendorong Satrio menjauh, berkata "Mereka punya prinsip, yang cerdas maka dia raja. Sekolah kita tidak kekurangan Raja"
Alisa mendekat memukul kepalanya " Raja raja kepala lo. " Alisa tersenyum sebelum menepuk bahunya "Posisi gue gak boleh di rebut"
" siap Yang Mulia" Aryan menjawab dia merangkul Alisa mengacak rambutnya.
"Kalian pacaran?" Hanin yang merasa ada sesuatu dengan kedekatan Aryan dan Alisa sejak lama akhirnya bertanya, Aryan menyeringai sambil mengerlingkan matanya pada Hanin dan menjawab dengan nada yang membuat kesal
"Ra.Ha.Si.a"
Alisa melepaskan rangkulan Aryan "gerah gue sanaan, babu"
Kennan melihat ke arah SMA lawan, di sana orang orang yang mengeroyok Keana berdiri bersama. Kennan bisa melihat tatapan permusuhan dan pria berkacamata yang menjadi pimpinan hari itu.
"Yo Tedi!" Aryan melambai lambai ke arah cowok berbadan sedikit gempal yang hari itu membuat Keana mabuk
Kennan masih dendam padanya.
Kennan memang tidak tau apa yang dia lakukan bersama Keana sebelumnya tapi mengingat bagaimana dia mencekoki Keana membuat emosi Kennan kembali menyala.
Tedi mundur kebelakang melihat Aryan melambai lambai dengan wajah penuh semangat hanya dia yang tau bagaimana Arti senyum Aryan. Dia juga merasakan tatapan tajam dari orang yang pernah merebut gadis yang menjadi mainannya.
"sialan Keana, bagaimana dia bisa mengenal cowok ganteng itu " Gadis di samping Tedi memberenggut.
Hari itu dimana mereka bertemu Keana dan memberinya pelajaran karena berani menolak permintaan mereka, meraka benar benar terpana dengan Kennan yang merebut Keana dari tangan mereka, bahkan rasa nyut nyut jari yang terjepit pintu mobil masih bisa mereka rasakan.
Kennan merasakan telfonnya berdering, dia mengambilnya dan sebuah panggilan video masuk, Hanna. Dia memberitau teman temannya kalau Hanna menghubungi
" HANNAAAAAAAAAA..... " mereka berseru begitu tersambung, Hanna bisa terkekeh melihat mereka
"Hana oleh oleh!" Sean yang berdiri di belakang melambai agar bisa ternotif
Hana mengangkat jempolnya, dia menatap mereka bertanya dengan suara manisnya "Bagaimana? Menang?"
" memang lo pikir presiden kita apaan? Tentu saja menang!" Radi menepuk pundak Kennan karena ponsel sudah di kuasai cewek cewek.
"kapan balik?" tanya Arumi "gue mau mochi asli buatan orang jepang"
"udah gue beliin kok"
" gue juga mau oleh oleh" Hanin ikut nimbrung " cowok jepang"
"abang gue mau?
"gak deh, gak mau digorok Sabi gue"
*****
Kennan memilih bersandar di pagar besi saat mengantar sekolah lawan pulang, meski hanya sekedar kesopanan dia sangat malas berbaur dengan mereka.
" Kennan Rajendra!" Kennan menghentikan langkahnya berbalik melihat siapa yang memanggilnya
Bukh
Kennan langsung terduduk di tanah berbarengan dengan suara histeris cewek cewek, dia mengangkat pandangannya.
Cowok dengan bagian rahang di plaster, lengan seragam sengaja di lipat berbarengan dengan lengan kaos dalamnya. Dia mengulurkan tangannya ke arah Kennan.
"Gue pikir orang mati yang gentayangan" Dia tersenyum ke arah Kennan tidak ada penghinaan melainkan kelegaan seolah apa yang menjadi bebannya terangkat.
Langkah cowok itu terdorong ke belekang saat Satrio maju mendorong dan menarik kerahnya "apa maksud lo hah?"
Kennan bertumpu pada lututnya dan berdiri, dia menarik bahu Satrio mundur. Menatap cowok yang memukulnya yang mengangkat sebelah keningnya dengan muka tengil.
"Pak Pres!" Kennan menggelengkan kepalanya pada Satrio, dia melihat ke cowok itu lagi, cowok itu menyeringai dan berkata
"sudah lima tahunkan?"
Kennan menghela nafas sepertinya dia sudah bertemu beberapa orang yang dari masa lalunya belakangan ini dan sekarang dia tidak terkejut lagi.
"Arvan!" Cowok itu tersenyum lebar sambil berdecak pinggang, semua orang yang ada di sana melihat ke arah Kennan. Kenzo meliriknya memperhatikan reaksi Kennan yang selalu memasang wajah tenang.
Arvan, dia adalah teman main Kennan saat masih kecil orang yang selalu berdiri disisinya dimasa masa dia harus menghadapi semuanya, saat dia dibully Arvan lah yang rela dipukuli demi membelanya.
"melihat bagaimana lo ngebantai senior gue" Arvan menggosok hidungnya sebelum menatap Kennan "gue kayaknya tidak bakal nantang lo adu nilai lagi." Menghela nafas panjang "padahal dulu nilai lo selalu dibawah gue"
"hah? Gue pikir lo pintar dari dulu, pak" Satrio mencetuk, Arvan menggelengkan kepalanya dia menunjuk Kennan "nilainya dulu selalu rata rata saja. Bilang bagaimana lo bisa lebih pintar dari gue?"
Kennan menatapnya datar "gue selalu lebih pintar dari lo" Kennan berucap dan berbalik dia butuh ke kamar mandi sekarang, melihat Arvan mengingatkannya masa masa kelam sekolahnya dan hari itu.
"woi" Kenzo menahan Arvan yang hendak mengejarnya dia menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar dia tidak menyusul Kennan, mata Arvan meredup dia juga saksi yang melihat hal yang dilihat Kennan hari itu, dia menyaksikan Kennan yang bersinar redup seketika. "masih belum bisa menerima?" dia bertanya dengan suara pelan.
"Dia membencinya"
"siapa?"
"pamanku!" jawab Kenzo dia melangkah untuk kembali mengirim orang itu pergi, dia menahan Arvan saat hendak masuk ke mobil " jangan menemuinya dulu, dia.. "
Arvan meninju pelan bahu Kenzo dan tertawa pelan "gue tau, sampaikan salam gue ke anak itu"
"hm, gue hanya tidak sangka lo masuk SHS" ucap Kenzo mengedikkan bahunya
"Gue juga tidak mau" dia terkekeh dan melangkah masuk ke bis.
Dia duduk di dalam bis menatap ke luar jendela bis, dia tadi sangat terkejut mendengar nama Kennan di sebutkan saat melihatnya dia lebih kaget karena dia tidak melihat jejak Kennan yang dikenalnya tapi dia tau dia orang yang sama.
Kennan yang dia lihat hari ini muram dan tawa yang dikeluarkannya tidak dari hati. Sejak lulus dari sekolah dasar dia sudah mencari dimana Kennan tapi tidak ada tanda tanda kehidupan Kennan sampai dia dikirim ke luar negeri, dia kembali baru beberapa bulan lalu dan dipaksa masuk ke SHS padahal dia ingin masuk ke sekolah negeri.
Dia menghela nafas menyilangkan tangannya di belakang kepala menjadikannya bantal
"dasar"
******
TBC