KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
Extra



Keana menatap kembarannya tidak percaya yang masuk ke rumah diiringi dua makhluk kecil.


Dia hampir satu jam menunggu di bandara untuk menjemputnya tapi si empu malah ke rumah kakak perempuannya untuk menjemput keponakannya.


"antee..." Anak perempuan itu melepaskan tangan adiknya berlari ke arah Keana


"Aluna jangan lari sayang nanti jatuh!" Tegur Keana dia menangkap tubuh anak empat tahun itu.


Kennan yang berjalan di belakang keponakannya yang lain memilih membawa anak itu ke gendongannya.


"Papa sama mama ke mana?" Tanya Kennan karena merasakan rumahnya sepi, empat tahun tidak pulang dia hanya di sambut oleh saudara perempuannya yang cerewet.


"Bantuin Arvan meriksa gedung" Keana membuka mulutnya menerima suapan dari Aluna yang makan ciki "jangan makan banyak cikinya supaya bisa makan nasi"


"Ehm"


"Terus kamu ngapain hanya tinggal duduk di sini? Arvan gak nikah sendirian!"


Keana menatap saudara kembarnya kesal "menurutmu kenapa aku disini?"


Kennan hanya terkekeh dia melangkah ke tangga "adek Luna mau sama ante atau sama om Nan?"


"Sama ante aja ah" ucapnya sambil mendusel di perut Keana.


"Asla kok gak ikut?" Tanya Keana karena tidak biasanya dua adiknya datang tapi si Sulung tidak


Kennan menghentikan langkahnya "lagi butuh waktu Mama Papanya dulu"


**


Kennan turun ke bawah keesokan paginya tentunya dengan Alvin(bukan Apin IPS 1) yang sudah mandi dalam gendongannya


Di ruang makan keluarganya sudah berkumpul dia langsung menyalami orang tuanya dan kakak laki lakinya yang sekarang sudah jadi bapak satu anak, umur anak Reynand sekarang baru dua tahun.


"Lah ini anak sudah di sini" Kennan menepuk kepala Asla yang tentunya langsung di tepis


"Jangan di ganggu dulu, Nan!" Tegur Risa yang berjalan ke arahnya untuk mengambil alih Alvin darinya. "Anak Mama gak nakal kan?''


"Ngak" jawab bocah dua tahun itu yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang Mama.


"Rapi amat!" Tegur Keana melihat Kennan dari atas ke bawah "mau kemana?"


"Bantuin Arvan cariin calon istri baru" ucap Kennan yang menarik kursi di samping Keana "aduh ssh" dia mengusap lengannya yang mendapat cubitan dari Keana


"Kakak ikuttt..." Keyra mendekati kakaknya lalu memeluknya, Keyra lumayan merindukannya.


Kennan mengusap kepala adiknya "besok ya dek, hari ini kakak mau jemput kak Satrio dulu"


"Kirain pacar kamu dek" ucap Lintang, Kennan hanya tersenyum kecil melihat itu kening Lintang terangkat "kalian putus?"


"Tidak, Hana hanya tidak bisa datang karena masih ada yang harus dia lakukan di kampusnya" jawab Kennan.


"Om Nan, ngak boleh pacalan... Dosa kata pak ustad" kata Asla mencetuk dengan lidah cadelnya


Keana mengusap kepala keponakannya "nah Asla bener nih"


"Buruan halalin kak" Kinara ikut bicara, Kennan hanya menghela nafas


"Iya, selesai wisuda." Dia mengambil sarapannya juga untuk Keyra yang tidak mau lepas darinya. "Makan sendiri ya, kamu sudah mau SMP kenapa masih manja?"


"Biarin" Keyra mengambil makanan yang diberikan kakaknya "kak, nanti ajarin Key ya PRnya, kata kak Kean kakak pinter"


"Iya"


"Emang iya kakak pinter? Kok adek gak percaya ya?" Ucap Keyra, Kennan tidak menjawab hanya tersenyum kecil sambil mengacak rambut adiknya "pinter mana dari kak Rey?"


"Pinteran Mas Lintang" Arman yang dari tadi diam menjawab, Risa mencibir


"Tapi tidak pernah bisa ngelewatin Arsyad"


"Arsyad pinternya diatas rata rata waktu itu" ungkap Lintang dia melihat Kennan "aku pernah lihat Kennan cerdas cermat waktu dia SMA, dia pintar"


"Bener kak?" Keyra mendongak meminta jawaban tapi Kennan hanya diam.


"Makan saja, nanti kakak bantuin pr nya."


***


Menjelang Siang Kennan tiba di bandara bersiap menjemput Satrio yang kemarin menghubunginya untuk di jemput.


Sebenarnya Kennan tidak ingin kembali sebelum kuliahnya berakhir tapi Keana akan menikah dan dia harus jadi walinya.


Dia duduk di kursi tunggu karena pesawat akan mendarat setengah jam lagi, salahnya yang datang terlalu cepat harusnya dia ke apartemennya dulu, tapi percuma Afkar dan Istrinya masih di luar negeri.


"Boleh duduk di sini?" Suara manis terdengar dari samping, Kennan hanya mengangguk tapi tidak berniat melihat.


Dia menghela nafas, sejak semalam Hana sulit dia hubungi membuatnya sedikit gelisah.


"Anak ini kemana sih?" Gumamnya dia masih mencoba menelfon Hana tapi masih tidak aktif.


"Masnya disini mau ngantar atau jemput?" Kennan tidak menjawab dia menoleh ke samping melihat ke arah perempuan yang bicara


Perempuan yang berambut hitam legam, memakai coat tebal padahal musim panas.


"Jemput!" Jawabnya singkat dan kembali fokus ke hpnya.


"Oh... Ah, nama saya Silvia, hm... Saya baru tiba di sini jadi belum kenal siapapun apa boleh minta tolong?"


Kennan melihat jam melingkar di pergelangan tangannya, tinggal 15 menit lagi pesawat mendarat.


"Hm, saya tidak tahu bagaimana mendapat alat trasportasi, bisa saya ikut masnya nanti" gadis itu menyampirkan rambutnya.


"Maaf, tapi saya juga hanya naik taksi ke si-"


"PAK PRESSSSS"


Kennan mengalihkan pandangannya dan mendapati Satrio melambai ke arahnya dengan riang, bukankah masih lima belas menit.


Kennan berdiri menatap papan pengumuman... Pesawat dari inggris baru akan mendarat lima belas menit lagi itu benar kecuali...


"Hai!" Seorang muncul lagi di belakang Satrio yang cengengesan


Satrio tidak dari Inggris!


Kennan mematung di tempatnya, sudah lima tahun tidak bertemu mereka hanya saling menyapa melalui video call. Kennan mengangkat sebelah keningnya ke arah gadis yang tersenyum lebar


"Minggir!" Gadis itu mendorong Satrio ke samping dia menyeret kopernya dan berjalan cepat ke arah Kennan.


"Hati hati!" Tegur Kennan dia berjalan ke depan untuk menangkap gadis yang menjatuhkan dirinya ke pelukannya. "Kalau jatuh bagaimana, Aoki Hana-san?" Tanya Kennan dengan suara sangat pelan dan penuh penekanan saat menyebut nama Hana.


Hana menyengir kemudian menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Kennan. Kennan mengusap kepala Hana tanpa sadar melengkungkan bibirnya ke atas


"Kenapa tidak bilang mau datang?"


Hana mengangkat wajahnya yang sembab ke arah Kennan yang suaranya sangat lembut di telinganya, Kennan mengangkat tangannya merapikan anak rambut Hana yang menutupi wajahnya.


"Surprise!!" Ucap Hana


"Gue tau kalian sama sama kangen, tapi jangan lupain gue woi" seru Satrio dia menangkap koper yang sempat dilepaskan Hana begitu saja "orang berjasa mempertemukan kalian!" Dengusnya


Kennan dan Hana hanya menatapnya sekilas sebelum berbalik meninggalkannya


"WOIII"


"anu..." Silvia yang dari tadi hanya diam menarik ujung kemeja Kennan.


Kennan meliriknya "anda bisa minta bantuan teman saya"


Kennan mengangguk sopan dan menggandeng Hana pergi. Di belakang ada Satrio yang mengomel ngomel sendiri


"Mentang mentang presiden seenaknya sama ajudan!" Dumelnya.


Kennan dan Hana masuk dalam mobil yang dibawa Kennan tadi. Dia sengaja berbohong pada Silvi, bukan karena pelit hanya saja dalam menjalin hubungan dia tidak suka disalah pahami, selama ini perempuan masuk ke dalam mobilnya hanya keluarga dan beberapa teman yang sudah di kenal Hana.


Silvi yang melihat itu dari belakang hanya menganga tidak percaya sedangkan Satrio hanya mendengus karena harus membayar taksi lagi.


Kennan mengetuk ngetukkan jarinya di kemudi mobil, entah kenapa suasana tiba tiba akward terlebih tatapan Hana selalu melihatnya, Kennan meliriknya sekilas


"Kenapa?" Hana menggelengkan kepalanya tapi masih menatapnya lurus.


Kennan menghentikan mobilnya karena lampu merah dia bersandar di jok kepalanya menoleh ke arah Hana, tidak ada yang berubah dari Hana hanya terlihat lebih dewasa dari terakhir kali mereka melihat satu sama lain tanpa perantara sosial media.


"Kamu tambah tinggi?" Tanya Kennan menyadari kalau Hana memang tidak setinggi sebelumnya


Hana menyengir dan mengangkat tujuh jarinya "tujuh centi." Tak lama dia kembali cemberut saat melihat perawakan Kennan "kamu juga tambah tinggi"


"Hanya tambah 3 centi.'' jawab Kennan "mau ketemu orang tuaku?"


"Eh?" Wajah Hana memerah di tanya hal seperti itu, Kennan hanya terkekeh dan kembali menjalankan mobilnya karena lampu sudah kembali hijau.


"Hana"


"Hai?" Hana melihat ke arah Kennan yang sekarang menegakkan duduknya, sebelah tangannya memegang kemudi sedangkan lainnya dia kepalkan dibawah hidung, Hana bisa melihat wajah Kennan memerah "apa?"


"Target menikah, umur berapa?" Tanya Kennan, tangannya mengcengkram kemudi erat.


Hana yang mendapat pertanyaan itu menunduk menautkan kedua tangannya, wajahnya terasa panas hingga ke telinga.


"Ak.. Aku tidak punya target" cicitnya.


Kennan menarik nafas sangat pelan dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Kennan membuka sabuk pengamannya dan memutar tubuhnya ke arah Hana yang sekarang melihat ke arahnya dengan wajah memerah.


"Itu... " Kennan mengatupkan bibirnya karena mengatur detak jantungnya "itu... Dua bulan lagi kuliahku selesai... Apa tidak masalah?"


"A.. Apa?"


Kennan menarik pelan tangan Hana menatap lurus ke mata Hana


"Mau kan, menikah denganku?"


Hana tidak menjawab dia menggigit bibirnya menahan desakan air mata yang menerobos ingin keluar.


"Hana?"


Tangan Kennan terulur menghapus air mata Hana yang jatuh tanpa sadar.


"kalau kamu belum sia-"


"Aku mau!"


****


Tamat


Dah selesai ya, jangan ditagih lagi.!


Jangan lupa mampir nengokin Angga dan Lily ya😊😊