
Kennan memberikan tisue ke Hana yang dia ambil dari laci, Hana menerimanya sedangkan Kennan kembali belajar.
Hana tertidur karena merasa lelah, melihat itu Kennan hanya bisa menghela nafas dan mengambil selimut untuknya.
Diperhatikannya wajah Hana, gadis itu memang sangat jepang sekali berbeda dari Farhan yang masih memiliki wajah indonesia meski mata sipit ala jepang tidak bisa membohongi.
Kennan kembali ke kamarnya dan berbaring disana. Dia meraih hpnya dan melihat pesan masuk.
08128764xxxx : Nenek mau bertemu, kembalilah ke rumah tua, sebentar lagi peringatan kematian paman.
Kennan melemparkan hpnya ke kasur, dia tau itu pasti Kenzo. Siapa lagi yang bisa melakukannya dengan mudah? Dia bisa menggunakan wewenangnya sebagai ketua osis untuk melihat profil siswa.
Tangannya memijit pangkal hidungnya karena tiba tiba kepalanya merasa pusing.
Kennan terburu buru keluar kamar memeriksa semua laci.
" pak Pres? "
Kennan menoleh dan menatap Hana yang menatapnya bingung.
" pak pres, lo gak apa? " Hana berdiri menghampirinya " muka lo pucat banget "
Kennan menepis tangan Hana dan kembali mencari obatnya. Kennan menggaruk kepalanya karena tidak bisa menemukan botol kecil yang selalu disimpannya itu.
" lo cari apa? Biar gue bantu " tawar Hana
" obat. "
Hana membantu membuka beberapa laci. Dia melirik Kennan, mata Kennan merah dan sembab. Setelah setengah menit obat itu akhirnya ketemu, Kennan langsung mengonsumsi dua.
Hana membantu Kennan ke sofa dan mendudukkannya disana. Hana mengambil botol obat Kennan dan memperhatikannya.
" obat tidur? "
Hana melihat Kennan yang sudah tertidur di sofa, yang Hana tau... Obat tidur bisa digunakan sebagai obat penenang tapi tidak baik untuk selalu mengomsumsinya dan harus sesuai anjuran dokter.
Hana meletakkan catatan karena dia harus pamit pulang. Hana sekali lagi melihat Kennan yang masih pulas di atas sofa sebelum meninggalkan apartemen pemuda itu dan lagi perasaannya sudah sedikit plong sehabis menangis dan tidur tadi.
" dari mana? " tanya Farhan dengan wajah cemasnya
Dia berkelilig mencari adiknya itu karena Hana tiba tiba hilang dari kamarnya.
" keliling " bohongnya, Farhan mendekat memperhatikan wajah Hana, matanya sedikit bengkak tapi Farhan mengurungkan pertanyaan padanya.
" sudah makan? Kakak buat kare "
" hehe.. Tadi aku sudah makan, sambal ijo " kata Hana dia tidak bohong " tapi aku akan makan lagi " serunya berjalan ke dapur.
****
Risa menatap adiknya berdiri di depan pintu rumahnya, wajahnya sedikit pucat.
" kamu tidak apa? " tanya Risa, Kennan menggelengkan kepalanya
" Asla dan Aluna? " Kennan mencari dua ponakannya itu
" Asla sama papanya ke rumah Arsyad dan Aluna sama neneknya, malam nanti baru dijemput papanya, kenapa dek? " Risa meletakkan gelas yang dia pegang tadi " kamu serius tidak sakit? Mau kakak antar ke rumah sakit mumpung Asla gak ada. "
Bicara soal Asla, Kennan tau keponakannya itu punya trauma dengan rumah sakit, jadi setiap kali orang tuanya akan ke rumah sakit untuk cek-up atau mengunjungi kerabat yang sakit anak manis itu akan diungsikan ke orang terdekat.
Kennan duduk di sofa mengambil camilan yang memang selalu siap diatas meja.
" itu... Kak Senja beneran mau nikah dengan Bang Ben? " Kennan bertanya, sebenarnya dia hanya membuka topik pembahasan.
Risa yang dari dapur meletakkan teh di depan Kennan.
" iya, Ben capek kali ya di tagih nikah mulu "
Kennan menganggukkan kepalanya, dia menyesap tehnya matanya menatap foto yang terpampang jelas di depannya, foto pernikahan Risa.
" berapa lama Kakak pacaran dengan Mas Lintang? " tanya Kennan, Risa menatap Kennan
" kami tidak pacaran "
" heh? "
" kami hanya teman lama, malahan dulu kami selalu bertengkar. Bisa dibilang kami menikah semua berkat Asla " jawab Risa sambil tersenyum, Kennan bisa melihat rona diwajah kalaknya itu, rona bahagia
" kenapa kakak memaafkan Mamaku dan Papa Arman? "
Risa menghela nafas, dia melihat Kennan sebelum meletakkan gelasnya di meja. Dia bisa melihat kegelisahan Kennan.
" karena aku berusaha berdamai dengan masa lalu, dan lagi... Sebelumnya aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. " kata Risa " sama sepertimu, aku juga mengalami depresi berat " kata Risa membuat Kennan menatapnya
" bagaimana- "
" bagaimana aku tau? Kak Fa'i adalah psikolog dan mungkin aku akan menggunakan jasanya untuk membantu Asla. " Risa kembali meraih gelasnya " keadaanmu dan keaadanku berbeda Nan, aku tidak tau harus memberimu saran apa, tapi apa kau mau berdamai dengan masa lalu " kata Risa
Kennan menghela nafas tanpa sadar dia menyentuh dadanya sendiri.
" berlahan Nan, semuanya akan baik baik saja. " kata Risa, Kennan hanya meringis " kakak juga sering ikut kajian dulu, yah setidaknya kakak merasa damai saja. "
" kajian? " Risa mengangguk
" kebetulan kontrakanku dulu dekat dengan mesjid dan alhamdulillahnya aku bertemu dengan teman teman yang baik "
Risa berdiri melangkah ke kamarnya mengambil sesuatu dan kembali mendekati Kennan.
" ini untukmu "
Kennan menerima Al-qur'an yang disodorkan Risa, wanita itu tersenyum lembut ke Kennan.
" teman aku ngasih itu dulu, katanya obat Depresi yang paling manjur. " kata Risa
" kenapa diberikan padaku? " tanya Kennan
" karena aku sudah merasa lebih baik, aku juga punya Mas Lintang yang siap berbagi segalanya padaku termaksud luka masa laluku Nan " Risa menyentuh kitab suci di tangan Kennan " dia adalah teman terbaik saat aku benar benar down, kamu tidak sendirian dek. Semua masalah ada jalan keluarnya "
" MAMAAA... "
Kennan dan Risa menoleh ke asal suara
" salam dulu kak " suara pria terdengar dari belakang, suara kekehan kecil terdengar
" Assalamu'alaikum Mama " Risa meraih Asla ke dalam pelukannya
" Wa'alaikum salam sayang " diciumnya kening Asla, bocah itu terkekeh, tak lama dia menoleh
" Om Nan... Apain lumah Aya? Bawa colkat gak? " Asla mendekati Kennan memeluknya
Kennan tertawa, bocah itu sangat berbeda saat berada dilingkungan keluarganya dan saat berada di luar rumah.
" Om gak bawa coklat " kata Kennan membawa Asla ke pangkuannya, Asla adalah ponakannya meski bukan anak kandung kakaknya tapi dia menyayangi.
" Nan, mau ikut ke rumah Andry gak? " tanya Lintang
" memang ada apa disana Mas? " Kennan membuka telapak tangannya karena Asla memainkannya
" biasa, kumpul kumpul akhir minggu " kata Lintang, Kennan berfikir sebentar
Benar saja ini sudah akhir minggu.
" Kamu jemput Aluna dulu di rumah Ibu " kata Risa " aku dan Asla akan duluan ke tempat Andry sekalian bantu bantu Kinan, dia lagi repot soalnya "
" Ya sudah, aku jemput Aluna dulu " Lintang mencium kening Risa
" Papa mana? " tanya Asla menyadari Lintang akan pergi
" jemput adek Luna, Kakak Aya mau ikut? " Asla menggelengkan kepalanya
" Ma Om Nan aja " katanya, Lintang tertawa.
Kennan melihat interaksi dua orang dewasa di depannya, terlihat sangat bahagia.
Tapi, Kennan tidak pernah yakin untuk menjalin hubungan cinta dengan siapapun, keretakan rumah tangga orang tuanya membuatnya trauma.
Kennan menghela nafas dia merengkuh Asla yang masih betah di pangkuannya.
Benar benar menyesakkan dan membuatnya muak.
*****
Tbc