
Kennan terduduk begitu pembully itu pergi karena ditelfon pihak sekolah mereka, Lintang dan Pak Juan juga sudah meninggalkan mereka. Kennan tau mereka tidak akan berhenti begitu saja.
Dia mengepalkan kedua tangannya dan mengatur nafasnya lebih dulu, setelah merasa lebih baik dia baru berdiri.
Hana menyodorkan air mineral ke Kennan yang terlihat tidak baik baik saja.
" lo tau mereka siapa? "
" satu sekolah pas SD " jawab Kennan lemas. Kennan menatap Hana yang mengambil duduk disampingnya
Dia masih ingat bagaimana Hana mencengkram tangan orang tadi dan tatapan sengit Hana bukan sekedar ancaman.
" lo bisa berkelahi? "
" hm? " Hana menatap Kennan, wajahnya memerah karena tertangkap basah " ah itu... Niichan yang ngajarin gue " cicitnya
" oh "
" lo tidak mau belajar? "
" bela diri? " Hana menganggukkan kepalanya, Kennan tidak menjawab karena sekarang dia juga memikirkannya.
" lo sering diganggu mereka? " tanya Hana " gue kira lo tidak pernah kena bully, pantas saja waktu itu lo marah banget "
Kennan " pulang "
" ah! Oke, siap pak Presiden! "
Hana berlari kecil menyusul Kennan yang sudah lebih dulu berjalan pulang. Hana mengambil belanjaannya di tangan Kennan sambil bersenandung pelan, matanya sesekali melirik Kennan yang lagi lagi hanya diam.
" akh! " Kennan tersentak dia melihat Hana yang menjerit tiba tiba " Ice Cream gue "
Kennan menatap Hana malas, gadis itu sangat ceroboh. Karena rasa terimah kasih berkat bantuan Hana tadi, Kennan kembali mengajak gadis itu ke minimarket untuk membeli ice cream
Wajah Hana tersenyum cerah saat memakan Ice cream di tangannya.
" kalau pak pres baik begini bagaimana bisa gue nyerah buat jadi bu presidennya " Hana menyenggol lengan Kennan yang hanya diam dengan pikirannya " Ken.. Kenken. "
" apa? " Kennan menoleh pipinya langsung mengenai jari telunjuk Hana yang memang dengan sengaja dia dekatkan untuk bercanda, Kennan mendengus dan menepis pelan jari Hana
" jangan masang muka begitu, nanti gue tambah suka " Hana berucap
" baru tau lo sama sekali tidak punya malu ngomong begitu ke laki laki " Tawa Hana langsung meledak
Hana bukanlah gadis seperti itu, dia gadis kalem tapi entah kenapa saat bersama Kennan dia lebih bisa mengeluarkan ekspresinya. Dia berlari kecil dan langsung berdiri di depan Kennan sambil tersenyum
" cuma sama lo "
" gila " Kenna mendengus, bibirnya terangkat membentuk semyum samar, Hana mendengus
" kan memang gue gila. " ucap Hana dia berhenti membuat Kennan juga berhenti, ekspresinya berubah " maaf untuk yang tadi "
" tidak apa "
" tapi gue beneran marah " Hana menghela nafas
Kennan ; " gue tahu "
" Arigatou " kali ini Hana kembali senyum dan memutar tubuhnya dan berjalan dengan benar tidak berjalan mundur seperti tadi.
Kennan kembali berekspresi dingin, pertemuan tadi membuat moodnya kembali buruk Kenzo masih di tempatnya dan kalau pulang dia bisa bisa meledak lagi. Mengingatnya lagi membuat Kennan merasak sesak dan perasaanya tidak karuan
Merasa tidak ada yang menikuti Hana berbalik dan Kennan benar benar berhenti berjalan, cowok itu malah duduk di pinggir jalan dengan kepala tertunduk. Hana dengan cepat mendekati Kennan, dia bisa mendengar dengan jelas nafas Kennan sedikit memburu.
" sudah lebih baik? " tanya Hana, Kennan mengangguk sambil menutup botol di tangannya. Dia menyerahkan botol itu lagi sambil berterimah kasih. " sekarang ayo benar benar pulang? "
Kennan berdiri perasaanya masih mengambang " ayo jalan jalan dulu "
" heh? Belum pulang? "
Hana mendengus karena Kennan lagi lagi tidak menjawab, jadi mau tidak mau dia hanya bisa mengejarnya sambil sedikit mendumel
" mau jalan kaki? Setidaknya bawa kendaraan! " Mereka baru melewati apartemen, Hana mendengus tapi tetap mengikuti dari belakang
Membiarkan cowok itu sama saja cari mati, Hana tau dan dia bisa melihat dengan jelas kalau Kennan dalam keadaan yang tidak baik baik saja.
Dia juga masih ingat dengan apa yang dikatakan mantan teman teman sekolah Kennan tadi, meski tidak tau bagaimana kejadiannya tapi Hana bisa memastikan kalau pemicu Kennan mengalami depresi adalah hal itu. Hana menatap punggung Kennan yang menjulang di depannya, kokoh tapi rapuh. Dia ingin mendekati Kennan hanya saja Hana tau kalau ada dinding tinggi tak kasat mata yang membentengi Kennan, melingkupi cowok itu tidak membiarkan siapapun masuk.
Kennan tersentak begitu lengannya ditarik Hana, dia menoleh dan mendapati wajah lelah gadis itu. Dia mengedarkan pandangannya, mereka sudah jauh dari lingkungan apartemen
" kalau gue gak ada ngikutin lo, lo niat jalan sampai mana? " omel Hana
Kennan masih dia, dia memang berjalan dengan banyak pikiran sampai tidak sadar, sekali lagi dia melihat sekelilingnya
" dimana? "
" mana gue tau " Hana melipat tangannya di dada, pipinya memerah karena kelelahan.
" ah Maaf " Kennan menarik nafas, dia baru merasa lelah sekarang.
Hana menarik tangan Kennan membawanya ke sebuah toko untuk berteduh, dia akan memalak Kennan karena capek mengikutinya dari tadi.
Suasana toko sangat adem, dia menarik Kennan ke kursi yang memang tersedia di sana sedangkan dia pergi mengambil minuman di kulkas.
" bayarin! " Hana meletakkan botol teh dingin di depan Kennan sedangkan dia mengambil susu kotak
" hm "
" anak baik " Hana menepuk nepuk kepalanya " kita istirahat dulu baru pulang "
Hana mengambil roti juga, jalan dengan Kennan dia tidak akan kelaparan, Kennan meski selalu memasang wajah enggan tetap dia akan membayar, walau dia bilang suruh ganti pasti ujung ujungnya bakal nolak juga kalau uangnya sudah akan di ganti.
Sangat bagus untuk dijadikan bank berjalan
" lo bawa obat? " tanya Hana karena melihat Kennan yang terus diam. Dia menarik tas kecil yang memang dibawah Kennan tadi mencari obat di sana.
Ada tiga botol obat, tapi dia tidak tau yang mana yang cocok untuk Kennan sekarang. Dia mengambil botol kuning tapi di cegah Kennan
" itu semua obat tidur " kata Kennan dia mengumpulkan obat obatan itu memasukkannya ke dalam tas
" hati hati ketergantungan, Nan " Hana memperingatinya, Kennan hanya bergumam saja.
Semua obat yang selalu di bawa Kennan sudah di dosis langsung oleh dr. Fai'i jadi Kennan tidak terlalu khawatir, sudah lima tahun Kennan mengosumsi obat meski tidak seperti pasien yang lain yang harus rutin minum tapi Kennan sudah lumayan muak meminumnya dia bahkan sudah tidak merasakan kepahitan saat menelan obatnya.
Hana terus menatap Kennan yang lagi lagi hanya diam dengan tatapan kosong miliknya, ini kedua kali Hana melihatnya. Pertama, saat Kennan baru masuk sekolah setelah beberapa hari absen dan kedua, ya sekarang.
Melihat ekspresi Kennan sebenarnya membuat sesak yang sudah hampir Hana lupakan kembali muncul ke permukaan. Ekspresi Kennan mengingatkannya dengan sahabatnya dulu.
Sekarang dia makin sadar untuk tidak meremehkan depresi, bahkan sekecil apapun itu. Dia ingin menyemangati Kennan tapi dia dalam kondisi yang sama.
*****
Tbc