KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
26



" HAH? " Kennan kaget mendengar ucapan dan pertanyaan teman temannya " tunggu... Kalian pikir Keana pacarku? "


" bukan begitu? " Fian bertanya balik " lo tidak bakal marahkan kalau bukan pacar lo? "


Kennan menghela nafas, dia menatap teman temannya yang menatap kearahnya menunggu jawabannya.


" Pak, kami butuh kejelasana siapa ibu negara kami " Emi berseru dari belakang, " lagian kalau bukan pacar pasti gebetan kan? Orang Keana cantik begitu. "


Kennan menggaruk pangkal hidungnya yang tiba tiba gatal. Dia tidak berfikir kalau apa yang dia lakukan kemarin, membawa Keana menimbulkan kesalah pahaman.


" coba kalian perhatikan muka Keana " setelah mengatakan itu dia langsung meninggalkan kelas mencari tempat yang bisa dia tempati untuk istirahat.


Dia masuk ke mushollah sekolah, tempat itu sangat adem dan bagus untuk tidur, meski tidak yakin kalau dia benar benar akan tidur atau tidak. Dan lagi musholla tidak seramai tempat lain di sekolah itu, hanya anak anak rohis yang menempatinya.


Dia masuk tanpa bersuara karena tidak mau mengganggu kegiatan disana. Mencari pojokan untuk berdiam diri.


Dia duduk di pojok memperhatikan anak anak rohis melakukan pengajian, alisnya mengkerut melihat ada Baim IPS 1 disana. Yang Kennan tau dia anggota klub basket, memang setiap sholat berjamaah dia akan melihat Baim tapi dia tidak menyangka kalau dia adalah anggota Rohis.


Dia kembali saat jam pelajaran kembali di mulai, dia menghela nafas saat beberapa teman melirik ke arahnya, bahkan Satrio terang terangan menyipitkan mata menatapnya


" minta di tabok? " kesal Kennan yang mulai risih


" lo sepupuan sama selebgram itu? Dia pacarnya ketos kan? " Kennan mengangkat kepalan tangannya memukul kepala Satrio " oi, kalau gue tambah be.go bagaimana? "


" nasib " dia memberi kode ke Satrio untuk melihat ke depan karena guru sudah menatap mereka dengan tatapan marah


" Kennan, Satrio. Jangan mentang mentang kalian juara kelas seenaknya bercerita di jam pelajaran saya " Tantri guru fisika itu mengatur kacamatanya " kalau tidak suka pelajaran saya, silahkan keluar. "


Mereka berdua langsung minta maaf dan kembali menyimak mata pelajaran. Kennan menopang dagunya tangannya memperhatikan gurunya. Kalau saja dia anak yang acuh tak acuh pada pelajaran, dia mungkin akan mencoba tidur atau tidak akan bolos kelas. Materi yang diajarkan sebenarnya sudah diajarkan oleh guru privat saat dia homeschooling, dia bahkan sudah mengusai materinya.


Saat masih anak anak dia sangat tidak peduli dengan pelajaran sekolahnya, nilainya hanya rata rata standar pembelajaran, dia bahkan tidak pernah masuk lima besar dan selalu berada diposisi sepuluh. Kecerdasan Kennan baru terlihat saat dia homeschooling, pemahaman terhadap materi dan teori sangat mudah untuknya bahkan saat guru memberinya tugas yang setingkat SMA dia mengerjakannya dengan cepat dan tepat padahal saat itu dia kelas 1 SMP.


Atas persetujuan ibunya juga Reynand, materi yang diberikan lebih cepat dan tingkatannya lebih sulit dari tingkatan kelasnya. Poinnya selalu mendapat skor sempurna.


Kennan sangat tau apa motif saudara tirinya itu saat memasukkannya ke sekolah formal, dia hanya ingin agar Kennan bersosialisasi dengan orang lain, Reynand sama sekali tidak pernah khawatir kalau Kennan akan mendapat nilai buruk. Yang Kennan tidak tau, sebenarnya Reynand tidak benar benar paham bagaimana cerdasnya otak Kennan, Reynand hanya berfikir kalau adiknya itu cerdas dalam artian cerdas layaknya anak cerdas pada umumnya.


Untuk menghilangkan rasa bosannya, Kennan mendirikan buku pelajarannya untuk menutupi kalau dia memainkan ponsel, bermain game matematika. Merasa di perhatikan dia menoleh ke samping dan benar saja, Fian menatapnya dengan tatapan iseng. Kennan memelototinya agar tidak mengatakan apa apa.


" Kennan Rajendra "


Dia mendongak tangannya dengan alami memasukkan ponsel ke laci seperti tidak melakukan apa apa.


" kamu sepertinya sangat santai di sana " dia memberi isyarat agar Kennan maju " bantu ibu jelaskan pada teman temanmu materi ini. "


"  Baik "


Kennan maju ke depan, giliran gurunya yang duduk, sebenarnya sangat menguntungkan memiliki siswa yang cerdas karena secara tidak langsung bisa membantunya mengajar. Dia menopang dagunya memperhatikan bagaimana Kennan menjelaskan materi pada teman temannya, detail tapi tidak terburu buru.


Caranya bicara sedikit kaku tapi bisa dilihat kalau dia mampu memimpin, guru fisika itu tersenyum dia tau kalau Juan tidak asal memilih murid sebagai ketua kelas.


" baiklah cukup " guru Fisika itu berdiri dia menepuk pundak Kennan " terimah kasih "


" iya, Bu " Kennan berjalan untuk duduk, dia baru akan mengambil ponsel tapi gurunya kembali memanggil namanya


" apa kamu ingin jadi guru di masa depan? " guru Fisika itu bertanya serius, dia yakin kalau anak itu jadi guru dimasa depan dia akan bisa menjadi guru hebat.


Kennan diam sebelum menjawab " saya belum memikirkan apa apa "


Dia menatap wajah Kennan, tidak ada kebohongan di wajahnya. Dia tersenyum dan mengatakan kalau Kennan tertarik dia bisa menghubunginya, mungkin sebagai guru dia bisa membantunya sedikit mencari beasiswa untuk Kennan


" terimah kasih. "


Begitu bel pulang, Kennan mengumpulkan semua bukunya cepat karena akan kembali ke rumah sakit. Mamanya sebenarnya menyuruhnya datang nanti malam tapi dia menolak.


Dia menyuruh taksi yang membawanya untuk berhenti di depan toko mainan, dia akan mencari mainan untuk Keyra.


Dia mendorong pintu toko, mengangguk kecil ke arah wanita yang menyambut kedatangan pada tamu. Karena di luar sangat panas, begitu masuk dia langsung merasa dingin dengan udara AC yang tiba tiba mengenai kulitnya.


Kennan berdiri di depan boneka besar yang tersusun di rak, boneka segala macam jenis hewan yang dikemas dengan bentuk lucu. Dia memiringkan sedikit kepalanya berfikir hadiah apa yang harus dia berikan. Boneka di depannya sangat besar mungkin lebih besar dari Keyra


Kalau dia membelinya apa dia tidak akan takut melihat boneka sebesar itu?


Karena dia belum menentukan dia berjalan berkeliling siapa tau ada yang menarik. Semua mainan anak perempuan terlihat imut dan dia tidak yang mana benar benar bagus, dia kembali berdiri di depan rak boneka.


" untuk pacarnya, Mas? " Kennan menoleh, seorang gadis dengan seragam toko itu, rambutnya di cepol satu sambil tersenyum lebar.


Kennan diam, mungkin dia tidak di kenali karena topi dan masker hanya mata dan keningnya yang terlihat.


" adek gue " dia menjawab dengan tidak antusias


" adek? Umur berapa? "


" masuk enam "  Kennan menatap boneka boneka itu lagi, Keyra sudah punya banyak boneka di kamarnya.


" baru tau gue lo punya adek "


Kaget, Kennan mengalihkan pandangannya ke samping, gadis itu memutar bola matanya jengah tangannya terangkat memukul bahu Kennan


" lo sudah satu semester jadi ketua kelas, mustahil gue gak kenal, Pak Pres. " Irina mendengus. Dia mendekati boneka itu, menunjuk boneka panda besar " sebenarnya untuk anak enam tahun, boneka boneka di bagian sini terlalu besar. L- ehm, kamu seharusnya cari boneka yang lebih kecil dan mudah dibawa kemana mana. "


Dia melangkah mendekati rak boneka yang lebih kecil, melihat Kennan dia memberi isyarat untuk mengikutinya.


" karakternya bagaimana? "


Kennan mengeluarkan ponselnya mencari foto Keyra di album. Baginya agak sulit untuk mendeskripsikan orang.


Irina menatap foto yang diperlihatkan Kennan, foto gadis kecil dengan seragam tk nya tersenyum ke arah kamera memperlihatkan giginya yang copot. Irina menatap foto itu bergantian dengan Kennan


" mirip lo banget, pak " dia menyerahkan ponsel Kennan dia berpindah tempat ke rak yang penuh boneka boneka dengan rambut blonde " adek lo suka barbie ya? "


" barbie? " Kennan bertanya bingung, dia tidak tau apa nama nama mainan Keyra.


Irina menunduk mengambil kotak berisi barbie, menyerahkan ke Kennan dan menjelaskan kalau dia melihat Keyra yang memiliki item barbie pada tas dan beberapa benda yang dipakai seperti bando, kaos kaki bahkan sepatunya bergambar Barbie.


" Pak Pres, cepat pilih terus pulang. " suruh Irina karena mulai risih melihat cewek cewek yang hanya sengaja masuk toko untuk melihat Kennan bukannya membeli mainan di sana.


Kennan mengambil kotak besar, mainan merakit rumah serta mainan yang ada di tangan Irina. Untuk ukuran anak SMA, Irina berfikir kalau ketua kelasnya itu terlalu berduit.


Dia membawa barang itu ke kasir, Irina mengikuti di belakangnya.


" oh ya, ini sisa uang lo kemaren. Lo ngasih ke banyakan " ucap Irina menyodorkan uang pada Kennan, tadi dia lupa saat di sekolah.


Kennan menerimanya " terimah kasih " dia mengeluarkan dompetnya mengeluarkan kartu dan menyerahkannya ke kasir. " kemarin tidak ributkan pas gue pergi? "


" apaan yang tidak ribut. Afkar sama Satrio hampir matahin tangan anak orang, yang bikin kaget Alisa benar benar nampar anak orang sampai sudut bibirnya berdarah.


"


Kennan hanya mengangguk dia menerima kembali mainan dan kartunya.


" woi Pak Presiden! " panggil Irina saat Kennan mau keluar, dia menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk " jangan kasih tau siapa siapa lo ngeliat gue disini, awas lo "


Kennan hanya menatapnya malas, memutar kembali tubuhnya dan keluar, Irina tersenyum puas di tempatnya karena tau kalau Kennan tidak akan secerewet itu.


*****


Tbc