KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
37



Selesai memberi makan dua gadis itu Kennan memeriksa pekerjaan Keana, dia menatap kembarannya dengan tatapan aneh


"apa?" Keana bertanya ketus


Kennan menatap soal di tangannya lagi, dimana Keana yang selalu mendapat nilai bagus? Kenapa soal semudah itu dia hanya benar beberapa soal saja?


"apa kau serius dengan jawaban ini?" Kennan meletakkan kertas diatas meja "sejak kapan kau jadi begitu bodoh?"


"hah?" Keana menatapnya sengit "aku sudah bekerja keras mengerjakannya, lagian apa kau sepintar itu sampai ngatain bodoh?"


Hana yang mencoba mencerna materi menatap mereka berdua, apa benar mereka saudara kembar? Mereka terlihat seperti musuh.


"anoo.." Hana mencoba mengintrupsi mereka


"Hana sebentar dulu" Kennan mengangkat tangannya ke depan Hana dia menatap kembarannya yang acuh tak acuh padahal soal mudah sulit dijawabnya "Keana Ajeng, apa yang kau lakukan lima tahun ini? Bagaimana bisa kau masuk  SHS bahkan pertanyaan semudah ini kamu hanya benar 3 nomor?"


"sekarang semua mudah dengan uang."


"bahkan pemikiranmu sangat dangkal." Kennan berdiri menghela nafas panjang "Mulai hari ini aku akan mengajarimu"


"What? Hei!" Kennan tidak menghiraukan dia masuk ke kamarnya "kenapa dia sok sekali? Memang dia sepintar apa sampai sok sokan mau ngajar?" Keana mendengus bersandar dengan kesal disofa tangannya terlipat di dada


Hana yang sudah duduk di lantai hanya menopang dagunya menatap Keana yang kesal, mengetuk ngetukkan jarinya di meja


"dia pemilik nilai tertinggi seantero tunas bangsa" Hana menjawab, Keana yang mendengar itu membulatkan matanya kaget menatap Hana tidak percaya "juga most wanted sekolah"


"siapa? Si bodoh itu?" Keana mununjuk kearah kamar Kennan, Hana mengangguk


"jangan bercanda"


"Shinjirarenai? [sulit dipercaya ya?]" Hana bergumam kecil " watashi mo [aku juga]"


Keana menatap Hana yang bergumam sendiri, Hana kembali mempelajari materi yang dimaksud Kennan karena biar bagaimanapun pak Juan bukan guru yang berhati lembut yang dengan mudah memberi kelonggaran pada siswa, dia menghela nafas panjang menumpukan dagunya di meja.


Beberapa menit Kennan keluar dengan kertas lain, dia meletakkannya di depan Hana "kerjakan ini dulu, nanti aku jelaskan!"


"kenapa banyak sekali?" Keana berseru melihat soal latihan milik Kennan "gue belum paham materinya."


"gue bakal jelasin nanti lo kerjakan saja dulu" dia menatap Keana menatap kearah lain "kamu ikut aku"


"kemana?"


"cari kasur" Dia menunduk lagi menatap Hana yang menatap lembar kertas dengan kening mengkerut, tak lama Hana mendongak


"ini gue ditinggal sendiri? "


"hn"


"kalau ada barang lo yang hilang, jangan nuduh gue." ucap Hana, Kennan hanya menjitaknya pelan kemudian berdiri dengan tegak


Keana berdiri menuju kamar mengambil tasnya kemudian menyusul Kennan yang berjalan lebih dulu.


*****


Mereka berdua masuk di toko furniture untuk membeli beberapa barang mengisi ruangan yang akan di tempati Keana selama berada di tempatnya.


"gue mau yang ini" Keana mendongak menatap ranjang yang di tunjuk Keana, dia mengangguk dan menyuruh Keana mencari kebutuhannya yang lain.


Keana berfikir, dia tidak akan selamanya tinggal di tempat Kennan cukup rak dan tempat tidur saja yang lainnya bisa di taruh di lantai.


"untuk apa?"


"belajar "Kennan berjalan ke tempat beberapa meja belajar, dia duduk untuk mencari yang pas, mengetuk meja untuk memeriksa kayu yang di gunakan. "Mas saya mau yang ini" ucapnya pada mas yang dari tadi ikut dengannya.


Kennan menyerahkan alamatnya setelah membayar belanjaannya, dia menoleh ke Keana yang dari tadi menatapnya dari belakang.


"apa?"


"sepertinya kamu banyak duit, disogok berapa kamu sama orang itu?" Kennan mengangkat alisnya "cih.. Pantas saja menurut tinggal bersama mereka."


"aku bekerja" Kennan memasukkan kartu ke dalam dompetnya


Untuk ukuran anak sekolah, Kennan termaksud berduit dengan uang penghasilan sendiri, dia ikut bermain di bisnis saham yang menghasilkan banyak pundi pundi, lalu mencoba bekerja pekerjaan anak SMA normal yakni bekerja di minimarket sebagai kasir meski tidak lama, terlebih sejak resmi menjadi anak dari ayah tirinya dia selalu diberi jatah bulanan yang tidak sedikit dan selama lima tahun dia tidak pernah menggunakan uang itu ditambah Reynand juga rajin mentransfer uang ke rekening yang sengaja dia buka untuk Kennan, ibunya juga punya usaha pakaian dan rajin memberi Kennan setiap bulannya.


Kalau dijumblahkan... Kennan memiliki uang dengan banyak digit di empat rekening miliknya, terlebih dia jarang menggunakan uang uang itu.


Kennan membawa saudara perempuannya ke supermarket membeli kebutuhan lainnya seperti peralatan mandi dan kebutuhan perempuan lainnya.


"Pak Pres!" Kennan menoleh mendapati Arumi dengan keranjang penuh camilan di tangannya. "Mau?" dia menyodorkan camilannya tapi ditatap datar oleh Kennan


"terimah kasih tapi itu belum dibayar jadi tidak usah" Kennan tau akal bulus teman sekelasnya mendengar itu Arumi cemberut.


"Jendra! Aku capek mau pulang" keluh Keana, Arumi memiringkan kepalanya melihat Keana dan Kennan bergantian tidak lama dia tersenyum penuh arti "eh siapa?"


Arumi menyampirkan rambutnya ke belakang menahan senyum sedangkan Kennan memutar bola mata jengah.


Arumi " kami teman sekelas, Pak duluan ya" dia menepuk lengan Kennan masih tersenyum manis dia berbisik "pj jangan lupa!" dia kemudian senyum manis ke Keana dan pergi dengan cepat ke kasir.


Kennan hanya menggeleng, dia melihat belanjaan Keana yang tidak seberapa. Kennan melangkah mendekati tumpukan susu kotak, mengambilnya dalam jumblah besar dia juga mengambil banyak camilan, takutnya penghuni margasatwa tiba tiba menyerbu rumahnya tapi dia tidak punya persediaan. Dia juga sekalian membeli isi kulkas yang berkurang.


Tanpa dia sadar kalau Arumi mengambil foto mereka dan mengirimnya ke grup kelas.


"cewek yang di apartemen, pacarmu?"


"Hana?" Keana mengedikkan bahunya "bukan"


"oh, dia kelihatan caper." Keana mencibir "aksennya juga aneh"


"dia baru sekali belajar bahasa indonesia" Kennan mengacak rambut Keana menatapnya sebentar "Dia tidak caper, hanya sedikit ekspresif" ucap Kennan sambil mendorong barangnya karena sudah giliran mereka.


Keana mendengus sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


Kennan melirik saudara perempuannya itu, tadi dia sedikit kesal mendengar cibiran Keana soal Hana. Hana orang yang terus terang dan tidak caperan, terlebih setelah tau kondisi Hana yang tidak jauh beda dengannya Kennan merasa kalau Hana tidak pantas mendapat cibiran seperti tadi, Hana anak baik setidaknya menurut Kennan seperti itu.


Keana melihat Kennan melamun menggantikannya membantu kasir untuk pengecekan harga agar mereka bisa secepatnya pulang. Dia memukul lengan Kennan yang terus melamun menyuruhnya agar membayar.


Menarik nafas dalam, Keana menatap kelangit yang mulai gelap pandangannya beralih menatap kepunggung Kennan yang memasukkan belanjaan mereka ke dalam bagasi taksi. Ini kali pertama mereka keluar bersama karena terakhir kali saat mereka masih sekolah dasar.


Hari ini dia memutuskan meninggalkan rumah neneknya meninggalkan secarik kertas mengatakan kalau dia sedang liburan dulu dan pulang saat hari peringatan. Keana tidak mengatakan kemana dia akan pergi jadi tidak ada yang tahu dia dimana.


Tapi tujuan utama dia datang adalah memastikan kalau yang dikatakan Kennan tidak benar, dia juga ingin mendengar cerita versi Kennan


"kenapa masih disitu? Ayo pulang" panggil Kennan, Keana  dengan sedikit menghentakkan kaki tapi tetap berjalan cepat ke arah Kennan.


*****


Tbc